Ikhlaslah Sebagaimana Ikhlasnya Hewan Kurban

Bestari

Bestari

Tim Redaksi Bestari.ID
Arif Menginspirasi
Bestari

Latest posts by Bestari (see all)

Ilustrasi (Foto: Int)

Bestari.id – Setiap momen Idul Adha datang, kita seperti dipaksa merefleksi betapa ikhlasnya Nabi Ismail. Putra kesayangan Nabi Ibrahim yang sekian tahun lamanya didamba dan ditunggu kehadirannya mencicipi dunia. Anak semata wayangnya itu tiba-tiba saja diminta Tuhan untuk dijadikan tumbal atau disembelih untuk membuktikan keimanan sang Nabi.

Kebaktian Nabi Ismail kepada ayahnya itu dibuktikan dengan menuruti apa perintah Allah yang disampaikan melalui suami Siti Hajar itu. Kecintaan Ismail pada Allah melebihi cintanya pada dirinya sendiri, hingga dia begitu ikhlas untuk disembelih oleh ayah kandungnya dengan pisau yang begitu tajam. Hingga akhirnya, wahyu Tuhan datang dengan menggantikan seekor sembelihan untuk Nabi Ibrahim.

Kini lebaran yang diidentik dengan menyembelih hewan itu disimbolkan seperti mengurbakan seekor hewan. Seusai lebaran, masyarakat muslim berbondong-bondong untuk menyembelih secara bersama-sama seekor sapi, domba, atau kambing atau paling banter ayam yang sedari dulu disiapkan untuk merayakan hari raya Idul Kurban.

Esensi kurban sejatinya adalah belajar mengikhlaskan sebagian harta kita untuk orang lain. Ikhlas bukanlah sekadar label, tapi ditautkan dengan keyakinan akan adanya Tuhan. Begitulah kira-kira ikhlasnya seekor hewan, disembelih untuk dibagi-bagi dagingnya kepada orang lain.

Memang tak ada yang mengetahui, bagaimana bapernya Si Sapi, Si Kambing, atau Si Ayam ketika hendak dihilangkan nyawanya. Mungkin saja, pernah ada niat untuk memberontak. Tapi semua itu luluh, ketika hewan-hewan itu menasbihkan dirinya untuk Tuhan. Mungkin dalam dunia perhewanan, memahami bahwa setiap Idul Adha, akan ada nyawa di antara mereka akan melayang. Bisa jadi, rumus kehidupan hewan itu bahwa setiap Idul Adha adalah masa penjemputan ajal, sehingga tidak ada yang bisa diperbuat selain mengikhlaskan diri. Ikhlas, tenang, dan istiqomah ketika sebilah parang atau pisang mendekat di lehernya.

Pandangan lain menyebut, hewan yang dikurban tersebut sebagai simbol disembelihnya sifat-sifat kebinatangan manusia. Sebab selama ini, binatang diasosiakan sebagai karakter yang tidak manusiawi. Ini lagi-lagi hewan dikurbankan. Ini sama saja mereka disembelih tanpa darah sebagai bukti.

Pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa kurban ini adalah ikhlas itu bukan ucapan, ikhlas itu terkait keimanan. Ikhlas itu ibarat surat Al-Ikhlas, tak ada satupun kata-kata “ikhlas” di dalamnya. Dan meskipun harga mereka selangit ketika menjelang hari raya, tapi hewan-hewan itu memiliki tingkat keikhlasan yang tak kalah tingginya.
Selamat menyambut Hari Raya Idu Adha 1438 H. Maaf lahir dan batin (*)

Penulis: Asri Ismail

Komentar Anda