Sri Mulyani: Utang Seolah “The Big Problem” Kita

Bestari

Bestari

Tim Redaksi Bestari.ID
Arif Menginspirasi
Bestari

Latest posts by Bestari (see all)

Indonesian World Bank Managing Director and Chief Operations Officer Sri Mulyani Indrawati speaks during the launch of a World Bank report in the Indian capital New Delhi on September 24, 2015. The report titled “Leveraging Urbanisation in South Asia: Managing Spatial Transformation for Prosperity and Livability,” examines how India and South Asian nations can capitalise economically on the opportunities urbanisation provides. AFP PHOTO / PRAKASH SINGH

Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai ada pihak yang sengaja membesar-besarkan isu utang negara. Padahal tutur ia, utang adalah hal yang biasa dalam pengelolaan keuangan.

“Masalah utang ini memang diceritakan seolah-oleh the big problem kita,” ujarnya saat memberikan kuliah perdana mahasiswa baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Depok, Senin (28/8/2017).

Perempuan yang kerap disapa Ani itu mengatakan, keputusan pemerintah menambah utang bukan tanpa alasan. Hal itu dilakukan untuk menutup defisit anggaran negara di APBN akibat belanja negara yang selalu lebih besar dari penerimaan negara.

Meski begitu tutur ia, pemerintah tak tinggal diam, namun mengelola utang tersebut secara hati-hati dan akuntabel. Dengan begitu, utang yang ditarik tetap produktif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Terkait catatan utang RI yang sudah menembus Rp 3.706 triliun pada Juni 2017 lalu, Sri Mulyani mengatakan bahwa angka itu masih jauh lebih rendah ketimbang jumlah utang negara-negara maju misalnya Amerika Serikat dan Jepang.

“Bahkan Jerman yang paling sehat di Eropa pun utangnya gede,” kata mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Pemerintah menilai posisi utang negara masih aman lantaran baru 28 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih rendah dibandingkan batas yang ditentukan di undang-undang yakni sebesar 60 persen terhadap PDB. Sementara itu jika dibandingkan dengan sejumlah negara, rasio utang RI terhadap PDB dinilai masih kecil.

Rasio utang Malaysia 40 persen, Thailand 50 persen, Jepang 200 persen, dan AS 100 persen. Sri Mulyani justru menilai problem besar APBN bukanlah soal utang namun efektivitas belanja negara yang mencapai Rp 2.133 triliun pada tahun ini.

Jumlah belanja sebesar itu harus mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat, mengurangi kemiskinan dan ketimpangan. Sebelumnya, Sri Mulyani menilai masalah utama di Indonesia bukanlah persoalan ada uang atau tidak. Sebab setiap tahun, pemerintah pusat menggelontorkan lebih dari Rp 700 triliun dana ke daerah dan desa.

Namun ia mempertanyakan efektivitas penggunaan anggaran oleh pemerintah daerah dan pejabat desa. Sebab berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin bukannya turun namun justru bertambah.

Tahun ini, pemerintah pusat menggelontorkan dana transfer daerah mencapai Rp 764 triliun termasuk Rp 60 triliun alokasi dana desa. Bahkan tahun lalu dana transfer daerah dan dana desa mencapai Rp 776 triliun.

Sri Mulyani menuturkan, bila mengacu kepada alokasi dana desa sebesar Rp 60 triliun, maka satu dari 72.000 desa di Indonesia, rata rata menerima alokasi dana sekitar Rp 800 juta-an. Namun apakah hasilnya berdampak kepada peningkatan kesejahteraan rakyat? Hal inilah yang masih dipertanyakan mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *