Bisnis di Era Konvergensi

Bestari

Bestari

Tim Redaksi Bestari.ID
Arif Menginspirasi
Bestari

Latest posts by Bestari (see all)

Mobile media devices (Ilustrasi: Int)

Bestari.id- Akses internet yang semakin cepat dan murah, teknologi yang makin fungsional, munculnya berbagai platform aplikasi online dan maraknya penggunan sosial media ternyata memiliki dampak yang sangat besar terhadap perkembangan di berbagai sektor kehidupan masyarakat. Era konvergensi semakin membuka peluang bagi lahir dan berkembangnya para entrepreneur yang lebih kreatif dan inovatif dengan memanfaatkan berbagai kemajuan teknologi tersebut. Di sisi lain perkembangan internet dan digitalisasi menjadi tantangan tersendiri bagi para pengusaha di sektor industri bisnis. Media cetak adalah salah satu yang menjadi perhatian karena fenomena masyarakat era konvergensi yang mulai meninggalkan media cetak dan bermigrasi ke media koran digital. Philip Meyer mengatakan pada tahun 2005 bahwa media cetak akan mati pada tahun 2042. Perkataan Mayer juga di dukung oleh Rupert Murdoch, namun dengan sudut pandang yang lebih optimis. Menurut Murdoch, media cetak konvensional harus segera berbenah dan mulai beradaptasi dengan era digitalisasi.

Baru 2 tahun setelah pernyataan Meyer mengenai akan matinya media cetak dalam beberapa tahun kedepan, pada tahun 2007, bisnis media cetak di AS dan Inggris mendapatkan ‘pukulan keras’ dengan menurunnya penjualan media cetak dari 21% hingga 31%. Pada periode yang sama Spanyol juga mengalami penurunan media cetak hingga 16%. Media cetak Indonesia pun tidak luput dengan fenomena ini. Hal ini memaksa media cetak Indonesia untuk terus memberi perhatian dan memperbaiki konten-konten yang ada dalam media onlinenya,

Media cetak konvensional kurang diminati lagi oleh masyarakat. Hal ini mempengaruhi salah satu unsur penting dalam dunia bisnis, yaitu pengiklan. Pada tahun 2007 hingga 2009, Iklan dalam media cetak mengalami penurunan yang luar biasa drastis. Media cetak AS mengalami penurunan iklan hingga 43%. Spanyol dalam rentan waktu 3 tahun dari 2007 hingga 2010 mengalami penurunan hingga 42,9% (Infoadex, 2011).

Media cetak konvensional mendapatkan keuntungan dari dua sumber utama, yaitu penjualan koran kepada pembaca dan iklan. Digitalisasi telah mengubah bagaimana perilaku konsumen dan pengiklan. Penurunan iklan di media-media cetak terjadi karena para pengiklan mulai bermigrasi dan melakukan pemasaran di media online. Secara global, advertising online meningkat hingga 32,4% dari tahun 2003 hingga 2008 (PriceWaterhouseCooper, 2009b). Internet menjadi medium penting untuk para pengiklan. Selain itu muncul istilah “freeeconomics” di mana para pembaca bisa mendapatkan informasi berita secara gratis. Menariknya, ada beberapa konten berbayar di media cetak yang ternyata disediakan secara gratis di media online. Keadaan ini membuat ketidakseimbangan dalam bisnis media, adanya ‘kanibalisasi’ antara media cetak dan media online (Franklin, 2008)

Budaya gratis ini adalah salah satu dari karakter internet pada era konvergensi. Internet memaksa para perusahaan media digital membuat konten berita dapat diakses oleh siapa saja dan menjadikan konsumen atau pembaca malas untuk membayar dan mengeluarkan uang ketika bisa mendapatkannya secara gratis. Belum lagi adanya berbagai macam situs penyedia sharing files gratis di internet yang memungkinkan pengguna mendapatkan segala sesuatunya tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun. Pada tahun 2007 media AS sekelas The Newyork Times dan The Wall Street Journal menjadi gratis.

Pertanyaan yang datang kemudian, dari mana perusahaan-perusahaan tersebut mendapat keuntungan jika konten-konten yang harusnya berbayar disediakan secara gratis demi mengikuti pasar yang ada? Beberapa berpendapat bahwa strategi bisnis yang ada harus diubah di mana para developer media online perlu fokus dalam mengembangkan media daring yang ada, sehingga bisa menarik para pembaca dalam skala besar. Jika hal ini terjadi, besar kemungkinan para pengiklan menginvestasikan iklannya dalam media tersebut, sehingga menjadi salah satu pemasukan besar bagi kelangsungan hidup perusahaan.

Kemajuan teknologi informasi ditambah dengan kreativitas manusia yang terus meningkat seiring perkembangan zaman, membuka peluang bagi siapa saja di era konvergensi ini untuk menciptakan industri bisnis baru. Siapapun dapat bersaing di era konvergensi. Seseorang bisa multifungsi dengan menjadi bos dalam bisnisnya, menjadi marketingnya, menjadi pemilik labelnya, pemilik produksinya, ataupun menjadi penjual bagi bisnisnya sendiri. Sebab di era konvergensi saat ini, siapa pun bisa bersaing, tumbuh cepat menjadi besar, dan mengalahkan yang besar. Sebab di sini bukan lagi yang besar mengalahkan yang kecil, tetapi yang cepat mengalahkan yang lambat. Mereka yang lambat berinovasi, yang stagnan, tidak memiliki ide baru, dan telat mengantisipasi perubahan pasar, akan kalah oleh pemain baru. Regulasi pemerintah mempunyai peranan penting dalam keadaan industri bisnis yang semakin kreatif ini. Pemerintah harus bisa beradaptasi menyesuaikan segala sesuatu terkait regulasi yang berbenturan dengan keadaan pasar yang makin lama semakin efisiensi dalam penggunaannya. (*)

Penulis: Karim Zaidan (Mahasiswa)

Komentar Anda