Candra Malik dan Pesan Menerima Kasih

Astaman

Astaman

Penulis
Petualang kenangan dan menyukai susu
Astaman

Latest posts by Astaman (see all)

Candra Malik (Foto:Int)

Bestari.id – Malang dan malam yang menyenangkan. Tepatnya malam Rabu atau Selasa malam. Betapa tidak, membincang beberapa hal di kedai kopi dengan segelas kopi susu yang hangat tentu adalah nikmat tersendiri yang patut di syukuri.

Walau awalnya pesanan kami adalah segelas milo hangat, lalu beberapa saat kemudian pelayan kedai mengantarkan beberapa pesanan pelanggan yang lain yang telah selesai dibuat, ternyata pesanan kami tersebut tidak ada-barangkali milonya memang sudah habis dipesan oleh pelanggan yang lain-kami diminta memesan menu yang ada saja. Singkatnya, begitulah kami dinasibkan memilih secangkir kopi.

Mengapa dinasibkan? Bukan ditakdirkan?

Tunggu, sebelum masuk kesana, saya ingin menuliskan sedikit tentang Gus Can. Begitulah kira-kira sapaan akrab beliau, Candra Malik.

Pria kelahiran Solo, sekitar tiga puluh sembilan tahun lalu, merupakan seseorang pendakwah yang menyebar kebaikan melalui jalur seni. Saya menyebutnya pendakwah karena disetiap pembicaraan beliau senantiasa terselip pesan agama. Tentang cinta kasih, tentang cara menerima kasih.

Telah banyak karya beliau. Setidaknya saya memiliki sepuluh buah buku yang telah beliau tulis dan diterbitkan oleh penerbit terkemuka. Termasuk bukunya yang terakhir, Novel “Layla, Seribu Malam Tanpamu”.

Secara tampilan fisik, barangkali sulit dipercaya bahwa Gus Can memiliki maqom keilmuan agama yang mumpuni. Dengan wujud sederhana, termasuk semalam ketika berbincang-bincang di kedai kopi; menggunakan celana sobek dibagian lutut, rambut gonrong yang terikat rapi, plus rokok yang senantiasa berestafet di tangan, tidak ada yang benar-benar percaya bahwa beliau adalah seseorang yang paham agama dengan baik, ketika pertama bertemu dengannya.

Walau demikian, beliau tidak ingin menggunakan atribut keagamaan untuk mengklaim diri bahwa ia lebih baik dari yang lain. Poin penting yang senantiasa beliau sampaian ialah tentang pluralitas, bahwa keberagaman adalah keniscayaan.

Kembali ke soal nasib dan takdir. Nasib ialah sehimpun keadaan, takdir ialah sehimpun kenyataan. Nasib dapat diubah atau diupayakan, sementara takdir merupakan ketetapan-Nya yang tidak dapat diubah. Sebaimana dalam dogma agama; “Tidaklah Tuhan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka sendiri yang mengubahnya”. Sederhanya, nasib ialah tentang yang sekarang, sementara takdir ialah tentang masa lalu dan yang akan datang. Tidak bisa kita mengubah masa depan, karena memang belum terjadi dan belum dialami. Sama halnya dengan masa lalu, karena sudah lewat. Begitulah kira-kira Gus Can menyampaikan tentang nasib dan takdir, semalam.

Banyak hal yang belum tergambarkan tentang sosok Gus Can atau sang guru Sufi-sapaan akrab beliau yang lain-dalam tulisan sederhana ini. Semoga saya bisa merangkainya di waktu yang lain.

Terakhir, beliau berpesan; “caramu berterima kasih menunjukkan caramu menerima kasih”.

Terima kasih Gus Can atas waktu dan kerelaannya berbagi ilmu. Malang dan Kedai Tjangkir 13 menjadi saksi.(*)


 

Komentar Anda