Cinta Itu Tidak Butuh Kesabaran

Agus

Agus

Bekerja di Kemenristekdikti, Pembina Masyarakat SM-3T Indonesia,
Pemerhati Pendidikan Karakter Bangsa dan Penikmati Kopi Nusantara.
Agus

Latest posts by Agus (see all)

Ilustrasi (Foto: int)

Bestari.id Kok rumit ya ternyata saya memahami satu bab buku tentang hubungan cinta dan sabar. Butuh 3 kali membaca ulang untuk memahami.

Saya coba berbagi dan coba sederhanakan begini, supaya kamu nggak ikutan mumet seperti saya. Konsepnya memang cinta dan sabar itu satu, cara memahaminya tak boleh dipisahkan, seperti air dan basah. Cinta tidak membutuhkan kesabaran, karena cinta itu ya kesabaran itu sendiri, sabar itu ya sifat cinta itu sendiri.

Kalau ada yang bilang cinta membutuhkan kesabaran, artinya cinta yang dia pahami sebenarnya bukan cinta sebenarnya, cinta yang belum ada sabarnya, dan sedang diupayakan untuk ditambahkan unsur sabarnya. Atau bahkan kita sedang berusaha memaksakan sabar ke dalam cinta kita. Ini salah. Rasanya kok nyiksa banget. Kalau memang cinta ya tak perlu bersusah-susah sabar, mengalir sendiri nyaris tanpa upaya.

Indikasinya begini. Kita tak butuh energi untuk bersabar ketika cinta kita sedang penuh, sedang sejati. Semua termaafkan karena cinta. Ketika kadar cinta itu berkurang, atau bahkan hilang, maka kita perlu “menahan sesuatu” (aktivitas ini khas karakter sabar). Seberapa kekuatan kita menahan dipengaruhi oleh seberapa sisa kadar cinta yang masih kita miliki.

Jadi mesti hati-hati, kalau salah memahami sabar, maka hampir pasti kita juga salah memaknai cinta. Sekali lagi, sabar itu bukan semata-mata tentang “menahan sesuatu”, tetapi lebih sebagai “pemahaman tentang sesuatu”. Pemahaman bahwa sesuatu memiliki caranya sendiri untuk terjadi. Mesti waspada, sudah menjadi hukum alam, apapun yang ditahan (ditekan supaya tidak terjadi), di dalamnya menyimpan potensi ledakan yang lebih dahsyat ketika sudah terlalu lama berlarut-larut dilakukan, atau terpicu oleh kondisi tertentu. Bayangkan kalau itu terjadi dalam konteks cinta.

Kita lebih membutuhkan “merawat cinta” ketimbang menghabiskan energi untuk “latihan bersabar”. (*)


 

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *