Dilema Generasi Milenial, Kampus Menjelma seperti Zaman Kolonial

Deni Indrawan

Deni Indrawan

Penulis
Kopi dan Binar Matamu
Deni Indrawan

Latest posts by Deni Indrawan (see all)

 

Ilustrasi (Foto: Int)

Bestari.id-Istilah milenial lahir untuk menamai mereka yang lahir di tahun 1990an dan 2000an. Penamaan milenial ini diberikan kepada mereka karena lahir dan tumbuh di masa segala lini kehidupan serba digital. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengalami kepesatan menjadi penanda utamanya. Informasi kian mudah diperoleh dan serba instan. Apalagi kalau kita berbicara persoalan komunikasi, era ini tak mengenal jarak dan waktu. Buruknya, kejahatan sosial juga turut berkembang pesat, mulai dari mudahnya penyebaran dan berita palsu (hoax), penyampaian ujaran kebencian (hate speech), penipuan, dan kejahatan sosial lainnya.

Mahasiswa baru era milenial tak luput dan santer merasakan dampaknya. Keadaan ini tersebut justru berdampak buruk dan mempengaruhi kesehatan mental mereka yang baru saja lulus masuk di perguruan tinggi. Tidak sedikit dari mereka yang tidak siap menghadapi realitas dunia kampus. Mereka belum siap menghadapi tantangan hidup secara mandiri. Panik, khawatir, dan bingung, saat ini dirasakan mereka yang baru saja meninggalkan rumah untuk memulai merasakan atmosfir kuliah.

Ironinya, keadaan ini justru diperparah oleh birokrat di beberapa perguruan tinggi yang turut andil merusak mentalitas mahasiswa baru, generasi langgas ini. Birokrat tidak segan-segan membatasi mereka yang baru saja merasakan bangku perkuliahan untuk mengenal kampus dan seolah dijauhkan dari dunianya. Berbagai cara yang ditempuh birokrasi untuk melumpuhkan pergerakan mereka. Salah satunya dengan pelarangan mahasiswa baru berinteraksi dengan para pendahulunya, terlebih lagi mereka dilarang bergabung ke lembaga kemahasiswaan yang ada. Ini tak ubahnya dengan masa-masa kolonial, penguasa memiliki otoritas penuh dengan aturan tanpa ada yang berhak memberikan intervensi.

Mahasiswa baru era milenial ini baru diperbolehkan merasakan lembaga kemahasiswaan apabila sudah semester tiga atau tahun kedua di kampus. Entah apa yang menjadi traumatis birokrat melakukan hal tersebut. Tidak bisa  dielakkan bahwa peran lembaga kemahasiswaan justru sangat dibutuhkan. Kehadiran lembaga kemahasiswaan menjadi wadah, bahkan tak ubahnya sekolah untuk mereka calon pemimpin masa depan. Gangguan kesehatan mental yang dibawa dari sekolah maupun dari rumah akan ditepis melalui pola praktis dengan memberikan suguhan masalah untuk diselesaikannya.

Melalui hal tersebut, mental mereka akan dengan sendirinya terbentuk kokoh menghadapi kecemasan dan kekhawatiran yang dirasakannya selama ini. Kesiapan untuk hidup mandiri setelah meninggalkan rumahnya akan terlatih lewat pembelajaran mengambil keputusan dalam menghadapi dinamika yang terjadi di dalam lembaga kemahasiswaan. Kebingungannya yang dialami mereka selama ini akan terjawab, sebab di dalamnya akan terjadi komunikasi antara mereka yang sudah lama dan mereka yang baru. Mereka akan terbiasa mengahadapi masalah dan bagaimana menyelesaikannya di tengah ancaman besarnya potensi terjadinya kejahatan sosial.

Sulit untuk tidak mengatakan bahwa birokrat keliru dan menimbulkan pertanyaan serius terkait pemberian jarak mahasiswa baru dan para pendahulunya serta pelarangan untuk berorganisasi. Birokrat seolah tidak tahu bahwa tidak sedikit pemimpin bangsa lahir dari mahasiswa yang aktif berorganisasi semasa kuliahnya.

Peran lembaga kemahasiswaan juga diharapkan mampu menyadarkan mahasiswa baru era milineal ini untuk tidak hanyut dalam pusaran kecanggihan teknologi masa kini dan kerap kali merasa nyaman di zona tertentu dan tidak mampu mengatur waktunya dengan baik. Berbagai aplikasi media sosial yang ditawarkan khususnya permainan yang dikemas sedemikian rupa untuk menarik perhatian generasi ini, sehingga, mahasiswa baru era milenial ini sangat rawan terhadap persoalan bagaimana menghargai dan memanfaatkan waktu. Mereka dikhawatirkan terjebak dalam zona tertentu. Apalagi, kampus mengemas aturan yang kian mencemaskan untuk pengembangan diri.

Pertanyaannya, apakah mahasiswa baru era milineal ini terjebak dalam zona di luar aktivitas kampus, atau terjebak dalam zona nyaman dalam berorganisasi, sehingga aktivitas akademiknya terabaikan, atau malah sebaliknya mereka hanya fokus kuliah dan melupakan pentingnya berorganisasi. Oleh karena itu, peran lembaga kemahasiswaan sangat dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan aktivitas mahasiswa baru era milineal.(*)

Komentar Anda