Jalan Sunyi SM-3T Indonesia

Bestari

Bestari

Tim Redaksi Bestari.ID
Arif Menginspirasi
Bestari

Latest posts by Bestari (see all)

Deklarasi SM-3T se-Nusantara (Foto: Ari M)

Bestari.id – Setelah dinyatakan tidak dibuka formasi untuk Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) pada tahun ini, sejumlah alumni menggelar deklarasi sebagai rangkaian hari lahir SM-3T  di Gedung KH Hajar Dewantara Universitas Negeri Jakarta dengan harapan program yang lahir sejak tahun 2011 itu tidak berhenti begitu saja.

Terhitung sejak 9 September kemarin, program ini genap berusia 6 tahun, ini dibuktikan dengan perayaan Harlah VI bersama 121 alumni perwakilan berasal dari berbagai daerah. Sebuah harapan terbesit dari Direktur Masyarakat SM-3T Institute, Akhiruddin bahwa momen tersebut bukan hanya ajang refleksi akan tetapi lebih pada pengharapan kepada pemerintah untuk membuka kembali jalan bagi anak-anak muda dari seluruh pelosok nusantara untuk mengabdi di daerah yang diisi generasi bangsa yang haus akan pendidikan.

Sebuah tagline dari SM-3T yang bermuara pada spirit yang menggelegar “Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia” menjadi semacam senjata yang kuat dari pemerintah di awal jalannya program ini, untuk menggait perhatian para aktivis pendidikan. Mereka menyusuri jalan-jalan setapak demi mengajar para siswa, nyaris tanpa fasilitas hidup yang layak di sana.

Belum lagi, banyaknya cobaan dan rintangan yang harus dihadapi oleh seorang guru SM-3T. Termasuk mempertaruhkan nyawa mereka di tengah medan pengabdian.Beberapa musibah duka tercatat telah dialami oleh beberapa peserta SM-3T, mulai dari wabah penyakit yang menimpa, tenggelamnya perahu, dan masalah keamanan menjadi momok yang selalu menghantui peserta ketika bertugas.

Salah satu pencetus SM-3T, Agus Susilohadi pernah sempat ragu akan program yang dirancangnya itu. Tapi dengan ihwal yang tulus akhirnya program ini baginya menjadi sesuatu yang hebat. Ini dibuktikan dengan apresiasi pemerintah dan animo para sarjana untuk ikut terlibat.

Agus hampir tidak percaya dengan langkah solutif yang dibuatnya sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan persoalan bangsa ini terutama dalam bidang pendidikan. Terlebih saat itu, Indonesia sedang berada pada pusaran hedonisme termasuk begitu banyak pilihan profesi yang menawarkan kenyamanan bagi siapa saja yang mau bekerja.

Semangat yang lain ingin dibangun oleh para pencetus kala itu bahwa jika kelak Indonesia maju, semua daerah ikut tumbuh bersama. Tidak ada disparitas. Spirit itu datang dari Ditjen Kemendikbud Supriadi Rustad bahwa SM-3T ini menemukan daerah-daerah yang sesungguhnya belum Indonesia beneran, itu yang menjadi tugas utama dari pengajar SM-3T Indonesia.

Setelah 1 tahun mengabdi, sarjana yang terlibat dalam program tersebut harus melewati Program Profesi Guru (PPG) juga memakan waktu selama setahun. Sebuah alur yang cukup panjang untuk dilewati para pengabdi itu. Namun kelelahan mereka itu terbayar dengan lunas ketika pemerintah memberikan jalur khusus kepada mereka untuk menjadi sebagai seorang pegawai negeri sipil di berbagai instansi yang ada di Indonesia.

Lantas program yang tengah digandrungi oleh anak muda itu, tiba-tiba saja ditutupkan ruang. Kemenristekdikti, M Nasir mengatakan ada beberapa alasan yang jadi pertimbangan, di antaranya adalah, peserta SM-3T itu belum memiliki sertifikat profesi guru. Padahal dalam UU Guru dan Dosen dinyatakan, seorang guru wajib bersertifikat. Alasan lainnya, Indonesia kekuranga guru hingga 300 ribu orang. Akan kewalahan jika hanya ditangani program SM-3T.

Sungguh sebuah kabar yang tentu mengejutkan, di tengah banyaknya terjadi peminggiran, SM-3T datang seolah memberi angin segar bagi mereka yang tidak terjangkau kebijakan pemerintah yang menguntungkan masyarakat. Namun mereka para alumni tak henti bekerja, mereka terus menghibahkan dirinya demi pendidikan. Tentu menggenjot seluruh stakholder untuk terus bekerja tanpa memikirkan “saku”.

Saat ini, memang desas-desus kabar kembalinya marwah SM-3T santer terdengar, namun belum ada kepastian yang jelas dari pemangku kebijakan. Semoga saja, jalan-jalan bebatuan itu, suara-suara desir pantai, hingga kicauan burung, dan air jernir sungai yang mengalir kembali dinikmati oleh pegiat SM-3T.Olehnya itu, kata Akhiruddin, nilai gotong royong, cinta kasih yang terjalin saat di daerah penempatan harus tetap dirawat baik-baik.

Penulis: Ari Maryadi

Komentar Anda