Kapan Nikah? Hayati Lelah!

Ardi Wina Saputra

Ardi Wina Saputra

Penulis
Penulis Kumpulan Cerpen Aloer-Aloer Merah
Ardi Wina Saputra

Latest posts by Ardi Wina Saputra (see all)

Ilustrasi nikah (Foto: Int)

Bestari.id-“Hayati lelah” itulah ungkapan hati tokoh Hayati yang diambil dari novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (TKVDW) karya Prof. Dr. H Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka. Ungkapan tersebut menjadi marak beberapa tahun ini seiring dengan keberhasilan film dengan judul yang sama, menduduki peringkat atas film tervavorit pada tahun 2013 dan 2014. Kesuksesan tersebut berdampak pada, semakin laris manisnya ungkapan “Hayati lelah”. Jejaring sosial pun juga turut melejitkan kelelahan Hayati. Produk dengan nama “Hayati lelah” mulai digunakan di warung, sablon, kaos, stiker, hingga makanan cepat saji. Mengapa kelelahan Hayati sepopuler itu?

Dalam novel TKVDW, Hayati dikisahkan sebagai seorang anak gadis kaya raya dari Padang Panjang yang mencintai lelaki perantauan bernama Zainudin. Sayangnya Zainudin berasal dari kelas sosial yang lebih rendah serta dianggap tak jelas asal usulnya karena kedua orang tuanya telah tiada. Itulah sebabnya Hayati dipaksa menikah dengan Aziz, seorang putra pembesar dari keluarga kaya raya. Kelelahan hati Hayati sebenarnya dimulai sejak dia hendak dinikahkan. Nasib Hayati ini sedikit banyak masih bisa ditemui dalam masyarakat. Tidak jarang ditemui seorang menikah bukan berasal dari pilihan hatinya namun dari perjodohan, keadaan setempat, bahkan paksaan. Baik paksaan langsung maupun tidak langsung. Paksaan langsung bisa berwujud suruhan, sedangkan pasangan tidak langsung dapat berwujud sindiran. Berwujud pertanyaan yang tidak untuk dijawab atau pertanyaan retoris. Salah satu pertanyaan retoris yang sudah tidak asing lagi dijumpai saat merayakan Hari Raya Idul Fitri adalah pertanyaan “Kapan nikah?”.

Dalam hari raya Idul Fitri, pertanyaan “Kapan nikah?” itu seolah menjadi satu paket dengan “Mohon maaf lahir dan batin”. Khusus bagi kaum wanita hal tersebut merupakan pertanyaan yang paling sensitif. Semakin dewasa usianya, semakin gencar pertanyaan itu memberondong telinga kaum hawa. Terlebih ketika menginjak usia 24 atau 25 tahun ke atas.  Oleh sebab itu, “Hayati lelah” adalah ungkapan yang cocok untuk menggambarkan isi hatinya. Lalu sampai kapan Hayati ini merasa lelah? Alangkah baiknya apabila beban di hati para Hayati ini dikurangi, bukan ditambah. Dikaji asal muasalnya dan ditemukan solusinya bersama.

Pertanyaan “Kapan nikah?” Sebenarnya dapat dikategorikan sebagai bentuk kekerasan simbolik. Menurut Pierre Bourdieu, kekerasan simbolik merupakan cikal bakal terjadinya kekerasan psikologis hingga kekerasan fisik. Pertanyaan “Kapan nikah?” menimbulkan berbagai dampak. Mulai dari stres, trauma, sakit hati, dendam, dan lain sebagainya yang berujung pada dampak fisik. Dampak fisik tersebut antara lain pusing apabila terlalu dipikirkan, darah tinggi apabila dendam, sakit jantung apabila kaget, dan ketidakmauan untuk bertemu bersilahturahmi dengan sesama apabila paranoid. Dampak terakhir ini merupakan dampak yang paling sering muncul. Beberapa remaja putri, membatasi ruang gerak silahturahminya hanya karena malu bertemu dengan orang-orang tertentu yang menanyakan tentang statusnya itu.

Hasilnya, tidak jarang juga yang mengambil jalan pintas yaitu segera menikah karena takut ditanyai pertanyaan serupa di tahun berikutnya. Lengkap sudah penderitaan Hayati. Apabila pernikahan didasarkan sebagai prasyarat menjawab pertanyaan “Kapan nikah?”, maka sebenarnya ini dapat disebut sebagai Hayati modern. Hayati yang merelakan cintanya karena ketakutan pada pertanyaan yang dilontarkan masyarakat setempat.

Ketika ditelaah lebih lanjut, ada dua belah pihak yang perlu disadarkan dalam menanggapi pertanyaan “Kapan nikah?”. Pihak pertama adalah pihak komunikator atau penanya, sedangkan pihak berikutnya adalah pihak komunikan atau penerima pertanyaan. Kecenderungan para penanya “Kapan nikah?” merupakan para komunikator yang berusia jauh lebih dewasa daripada komunikan. Hal tersebut karena sangat jarang sekali ada komunikator yang usianya sama dengan komunikan, menanyakan “Kapan nikah?”. Itu akan menjadi boomerang bagi kedua belah pihak.

Kembali pada permasalahan perbedaan generasi antara komunikator dengan komunikan. Pada abad 21, akses informasi, teknologi, dan komunikasi memungkinkan setiap orang untuk meraih akses pendidikan terbaik. Termasuk wanita. Tidak jarang wanita zaman sekarang ingin menjadi wanita karir dan melanjutkan jenjang pendidikanya ke tingkat yang lebih tinggi. Wanita-wanita muda usia 25 juga banyak yang mengambil gelar magister bahkan beberapa di antara mereka mulai berani untuk mencari beasiswa doktor. Baik dalam maupun luar negeri. Otomatis, usia pernikahan sedikit tertunda. Ada cita-cita, ada cinta yang harus dikejar. Situasi ini tentu berbeda dengan situasi dua puluh hingga tiga puluh tahun lalu. Jangankan untuk menempuh gelar magister, gelar strata satu saja tidak semua bisa menempuh. Akses informasi dan era digitalisasi masih belum terasa benar dampaknya. Oleh sebab itu banyak yang menikah di usia muda.

Perbedaan kondisi antar generasi inilah yang menimbulkan pertanyaan “Kapan nikah?”. Para generasi terdahulu  menganggap usia para wanita yang ditemuinya sekarang merupakan usia yang harus segera dinikahkan. Mereka dulu pada usia 25 mungkin sudah beranak dua atau bahkan tiga. Perlu pemahaman kritis dalam menanggapi permasalahan tersebut. Pemahaman perlu dimiliki oleh generasi komunikator maupun komunikan agar tidak terjadi miskomunikasi. Generasi komunikan yang didominasi oleh generasi muda harusnya memahami dan menghormati psikologi komunikator. Akses informasi serta pendidikan seharusnya mampu membuat para pemuda ini berpikir panjang dan tidak mudah terbawa perasaan. Dengan mengetahui latar belakang itu, diharapkan para generasi muda tidak dendam, marah ataupun terburu-buru menikah. Tetap saja menjalankan keinginan dan cita-citanya sembari memahami dengan cerdas pola berpikir generasi sebelumnya.

Bagi para komunikator yang didominasi oleh genarasi pendahulu, alangkah baiknya meminimalisir  pertanyaan sensitif itu. Sejak teknologi informasi mulai mengalami kemajuan pesat, generasi muda sudah berebda pola pikirnya. Tidak lagi dapat disamakan atau dipaksa sama dengan generasi sebelumnya. Termasuk dalam hal pernikahan. Mereka memiliki jalan berkarir dan menentukan hidup yang bisa jadi lebih terstruktur daripada dugaan para pendahulu. Oleh sebab itu,  sindiran dan pertanyaan retoris hanya akan menambah beban mereka. Melihat dikotomi latar belakang komunikan dan komunikator tersebut, diharapkan terjalin pengertian satu sama lain.  Apabila hal tersebut terwujud, maka niscaya era milenium ini, Hayati baru tidak akan bermunculan. (*)

Penulis: Ardi Wina Saputra

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Malang

Komentar Anda