Ketika Si Pintar dan Si Bodoh Terlabeli karena Jurusannya

Asri Ismail

Asri Ismail

Kapten Redaksi - Bestari.ID 
Bugis tulen, berewokan, & hobi domino

Akrobatik Kekerasan Guru di Sekolah (Foto: Int)

Bestari.id – Seingat saya, seminggu sebelum memasuki tahun ajaran baru 2017/2018, dunia pendidikan sempat dihebohkan adanya video viral tentang bullying yang terjadi di salah satu kampus dan sejumlah siswa SMP yang melakukan perundungan terhadap anak SD. Sejatinya, kasus perundungan atau yang sering kita sebut bullying bukanlah fenomena baru, eksploitasi terhadap kaum lemah di sekolah memang sudah menjadi hal klasik, hanya saja ini kemudian menjadi booming dikarenakan kecanggihan teknologi yang mampu mengabadikan, lalu disantap dengan renyah oleh internet.

Terlepas dari kasus bullying, ada hal yang selama ini kurang menjadi sorotan dalam aktivitas pendidikan kita yakni adanya kekerasan simbolik yang kerap dilakukan guru terhadap siswa yang berada di kelas tertentu. Semisal, adanya penamaan kelas unggulan di SMP maupun SMA, yang menyebabkan siswa-siswa terdikotomi dalam label-label yang justru mengarah pada diskriminasi. Belum lagi, terkadang guru hanya selalu memberikan reward atau pujian untuk siswa yang dianggap memiliki kemampuan lebih di kelas, yang pada akhirnya menciptakan batas antara si pintar dan lainnya. Ini yang ditakutkan Bourdie (1994) bahwa kekerasan simbolik itu berdasarkan harapan dan kepercayaan publik yang terbentuk dan tertanam lama secara sosial. Kekerasan simbolik berawal dari praktik komunikasi. Guru yang menegur siswa dengan beragam penamaan akan tertanam kuat. Apalagi guru dalam konsep kekerasan, ia memiliki dominasi terhadap siswa. Komunikasi yang terjalin kerap kali bias.

Akrobatik kekerasan di ruang pendidikan seperti ini juga berdampak secara psikologis, sangat berbahaya terhadap mental siswa, sehingga akan berpengaruh terhadap perkembangan kognitif hingga psikomotoriknya. Sebab, siswa yang dicap memiliki kemampuan di bawah rata-rata akan selalu merasa tidak mampu bersaing dengan yang mereka yang sedari awal terlabel “pintar”. Begitupun sebaliknya. Siswa lainnya dianggap menyimpan dari peraturan sehingga diberikan penjulukan oleh masyarakat sekolah. Padahal menurut Howard Becker dalam teori labelingnya bahwa yang berbahaya dari labeling ketika seorang dianggap menyimpang (devian) oleh kelompok sosial (guru) kemudian dilabeli, sehingga siswa yang awalnya tidak devian akan beralih menjadi devian. Kelompok sosial menciptakan penyimpangan melalui pembuatan aturan dan menerapkan terhadap orang-orang yang melawan aturan untuk kemudian menjulukinya sebagai bagian dari outgrup mereka (Becker, 1963).

Termasuk di SMA, peristiwa dehuminasi bukan lagi sekadar konsumsi sekolah akan tetapi masyarakat umum juga mengetahui. Adanya penjurusan antara IPS dan IPA, seolah diterjemahkan lain oleh guru-guru tertentu. Siswa yang memilih masuk di jurusan IPS selama ini dinilai sebagai siswa yang malas, nakal, dan memiliki kualifikasi akademik yang rendah. Sementara siswa IPA, adalah mereka yang pintar, baik, dan berprestasi. Pengelompokan-pengelompokan seperti itulah yang menciptakan jurang sosial yang berdampak pada interaksi yang kurang efektif di antara keduanya, stigma yang dialamatkan untuk siswa IPS menjadi masalah yang sangat serius sebab tidak hanya merusak secara personal tapi justru melahirkan ketakutan-ketakutan dari orang tua siswa ketika anaknya masuk jurusan tersebut.

Yang tak kalah berbahayanya, siswa jurusan IPS dan Bahasa akan membawa label tersebut hingga mereka mendalami dan menjadikan hal itu sebagai sebuah kebenaran. Jika tidak nakal, bodoh, dan amburadul, maka akan kontradiktif dengan pelabelannya. Sehingga anak-anak yang memilih Jurusan IPS ataupun Bahasa cenderung menjalani pelabelannya dengan baik. Yang juga berbahaya justru memancing lahirnya sifat arogan, sok, dan banyak lagi hal negatif yang tumbuh mendarah daging dalam benak siswa dari Jurusan IPA. Parahnya akan berimplikasi hingga mereka di perguruan tinggi.

Inilah fenomena yang sampai saat ini masih banyak ditemukan di sekolah. Sadar atau tidak, guru sebenarnya telah menciptakan jurang pemisah yang sangat jauh. Tindakan diskriminasi yang melanda jurusan di luar IPA akan sangat berdampak dan itu akan terus berlanjut jika tidak segera disadari oleh guru.

Sekolah semestinya menjadi lingkungan yang kondusif untuk para siswa belajar tanpa harus ada embel-embel yang melabeli. Sekolah adalah wadah bagi generasi yang sedang mencari ilmu. Sebab sejatinya, tidak ada orang yang bodoh apalagi jika kita hanya menggunakan nilai dalam pelajaran sebagai takaran. Terkesan terlalu dangkal. Dan yang paling penting jangan sekali-kali menjugde siswa yang tidak paham Matematika, Fisika, Biologi, Kimia dan sejenisnya sebagai orang bodoh, lalu kemudian digeneralkan untuk semua aspek. Mungkin perlu kita sama-sama kembali belajar teori kecerdasan. Tentu tidak semua guru melakukan hal demikian akan tetapi sulit dipungkiri banyak yang bertindak seperti itu.

Bukankah sekolah sebenarnya berasal dari bahasa latin yakni scola, scolae, scholae yang berarti waktu luang atau senggang. Dengan demikian, akan menjadi momok bagi mereka jika guru memaksakan kehendak kepada siswa di luar kemampuannya.

Terkadang dalam suasana bercanda, saya bersama teman karib, kebetulan  sama-sama pernah mendalami Jurusan IPA waktu SMA, kami selalu bilang kok ada orang sombong hanya karena merasa dibebani tugas yang begitu banyak terkait pelajaran IPA. Percayalah, setiap siswa akan memiliki masa depannya masing-masing. Tentu harus dibarengi dengan doa dan kerja keras. (*)

Penulis: Asri Ismail

Komentar Anda