Kisah Lain Cinta dan Rangga (Ayat 1)

Afdhal Kusumanegara

Afdhal Kusumanegara

Penulis
Indonesiaisme, Hallidayan, dan Teh pagi
Afdhal Kusumanegara

Latest posts by Afdhal Kusumanegara (see all)

Cinta dan Rangga (Foto: Int)

Bestari.id – Dulu waktu SMA, Cinta pernah menulis surat kepada Rangga. Bunyinya seperti ini, “Rangga, bila emosi mengalahkan logika, terbuktikan banyakan ruginya. Benerkan?” Andai saja Rangga membalas surat itu, balasannya akan seperti ini, “Begitupun sebaliknya, Cinta. Jika logika mengalahkan emosi, pasti akan rugi juga.”

Di manapun, kepada siapapun, kita memang setia membawa dua hal ini; perasaan (emosi) dan pikiran (logika). Keduanya tidak pernah absen ketika manusia bertemu manusia, bertemu Tuhan, bertemu alam, bertemu pertemuan. Seringkali pertemuannya gagal, hanya karena ada satu yang melebihi dari yang lainnya. Mental kerupuk, fanatik, dan “baper” adalah keturunan dari dominasi perasaan, sedangkan pembodohan, sekuler, dan amoral berasal dari otak yang digunakan berlebihan. Dan mau tidak mau kita juga butuh keduanya.

Lalu, di mana kita mesti menempatkan diri? Pada satu di antaranya? Atau pada keduanya bersamaan? Belum lagi kalau Murtadha Muthahhari atau Richard Dawkins sudah angkat bicara. Sungguh, kita akan kembali ke titik nol. Membaca The God Delusion lalu menyandingkannya dengan Kritik Islam terhadap Materialisme akan menempatkan kita dalam semesta kebingungan yang sempurna.

Untuk selamat dari kebingungan, kita seringkali mengadu pada “sudut pandang”. Sering kepedihan dibentur pada kesalahan. Sering juga bahagia-bersama dikira takdir. Cenderung mencari pembenaran jika ada apa-apa. Kalau diskusi sudah sesak, biasanya moderator akan menyelamatkan diri dengan kalimat ampuh, “Kita kembalikan pada individu masing-masing.” Pada tingkat akut, Bertrand Russel menyebutnya egosentric particular; menjadi koleksi pribadi yang tidak akan dibagi lagi kepada orang lain.

Awal bertemu, Cinta dan Rangga tidak memiliki sudut pandang yang sama. Rangga terbiasa dengan kata-kata yang terasing dari pergaulan, keras, tapi berkualitas. Sedangkan Cinta akrab dengan lagu kebersamaan, terbuka, tapi tetap hati-hati. Pada dasarnya, manusia memang selalu berdiri di atas sudut pandangnya sendiri. Katakanlah, sudut pandang si A adalah mencintai si B. Jika B memiliki sudut pandang yang sama dengan A, maka B akan mencintai dirinya sendiri.

Jika demkian, apa yang menyatukan Cinta dan Rangga untuk pertama kali?

Alih-alih membalas surat dari Cinta, Rangga tidak lagi bimbang antara balik memarahi atau lanjut duduk menyusun kata-kata romantis. Dan Cinta? Keputusannya merangkai kalimat di malam kegelisahannya telah merubuhkan prinsipnya sendiri. Cinta maupun Rangga, tidak lagi peduli pada perdebatan emosi dan logika.

Dominasi perasaan dan pikiran dikesampingkan, tapi tidak dihilangkan. Egosentric particular tetap dimiliki, hanya sedikit diruntuhkan. Tidak lupa, puisi—yang sekarang menjadi barang langka—berubah menjadi teh hangat di antara mereka. Tidak banyak bicara, tapi penuh tindak. Cinta maupun Rangga, keduanya memiliki sudut pandang universal.

Sayang, Cinta telah kalah sejak awal.


 

Komentar Anda