Lagu Kebangsaan dan Pejabat Kita

Arif Subiyanto

Arif Subiyanto

Dosen Universitas Negeri Malang
Penerjemah, Penikmat Kehidupan, dan Facebookers
Arif Subiyanto

Latest posts by Arif Subiyanto (see all)

Bestari.id-Saya bukan ultra nasionalis yang nyinyir. Saya dengan enteng bisa mengutuk dan mencaci maki politikus, begal parlemen, dan pentolan partai yang ulahnya mirip benalu. Banyak hal yang bikin saya kurang pede sebagai anak bangsa Indonesia, tapi kalau sudah menyanyikan lagu Indonesia Raya, segenap perasaan saya tertumpah pada lirik dan maknanya.

Kamu tahu enggak? Menurut saya, lagu Indonesia Raya adalah sebaik-baiknya, seindah-indahnya lagu kebangsaan. Notasinya bagus, liriknya hebat, sejarah di balik penciptaannya juga megah. Saya pikir negara kita bisa bertahan sampai sejauh ini juga berkat lagu itu, serius!. Separah apapun sistem kenegaraan kita diguncang skandal permalingan dan permunafikan politisi dan pejabat bejat, selama orang masih mau menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan sikap sempurna, saya ,masih optimistis negara kita bakal survive dan berjaya.

Saking cintanya saya sama lagu ini, pernah semalam suntuk saya berselancar di Internet, mengunjungi situs-situs resmi pemerintahan negara tetangga, memutar file MP3 national anthem mereka, menyimak lirik, dan terjemahannya. Dan sekali lagi saya musti berbangga: lagu kebangsaan kita itu paling hebat dan menggetarkan. Tema yang diusungnya lengkap: patriotisme, ajakan untuk bangkit bersatu membangun peradaban, kesadaran diri sebagai putra bangsa pemangku Negeri.

Bandingkan dengan lagu kebangsaan Jepang Kimigayo. Lagu itu liriknya cuma memuja-muja sang kaisar, mendoakan dia bertahta selamanya, seribu–ah bukan, delapan ribu tahun lagi, semoga tahtanya bertahan lama, selama waktu yang ditempuh sebutir kerikil untuk menjelma jadi batu raksasa yang dilapisi lumut permukaannya. Lagu Advance Australia Fair lumayan bagus, dan sedikit mengulik sejarah bangsa itu sebagai pendatang dari seberang benua, dan menemukan berkah berupa tanah yang kaya dengan segala kemakmuran yang dijanjikannya. Lagu Inggris God Saves the Queen adalah lagu kenegaraan yang sadis: liriknya mendoakan supaya Tuhan melindungi Sri Ratu dan mengobrak-abrik semua musuhnya, ckckckck (masih mendingan lagu Maju Tak Gentar punya kita).

Lagu kenegaraan Malaysia, maaf ya cik guru? Lebih menggelikan lagi. Lagu Negaraku itu bernuansa jadul, dan melodinya mirip lagu Terang Bulan asal Indonesia. Lagu kenegaraan Malaysia itu paling enak disimak sambil makan pukis atau kue terang bulan. Lagu Maple Leaf Forever dari Kanada itu sangat rumit diucapkan, dan lebih banyak menyorot sejarah bangsa itu sebagai koloni Inggris. Lagu “Majulah Singapura” juga enggak sehebat punya kita. Saya sudah menyimak semua lagu kebangsaan negara tetangga, mulai dari Timor Leste, Papua New Guinea, Filipina, juga India. Nah, India sempat mengalami pergantian lagu kebangsaan. Semula lagunya adalah “Vande Mataram” lalu belakangan diganti dengan lagu karangan Pujangga India, Rabindranath Tagore, judulnya apa saya lupa. Lagu kenegaraan dari negara-negara Afrika bahkan bisa bikin perut kaku karena liriknya lucu.

Wis talah, pokoknya lagu kebangsaan kita itu paling Indah. Sungguh sayang kalau lagu sakral seperti itu dinyanyikan orang-orang klimis berdasi dan berkebaya dengan dada disemati pin Pancasila atau simbol negara, tapi kelakuan dan kualitas ketokohannya seperti kuman, mucikari, atau protozoa.(*)

Komentar Anda