Liberasi-Humanisasi Hilang, Fabrikasi Terbilang: Pendidikan sebagai Maling Kundang

Djoko

Djoko

Penulis
Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Pendidikan Indonesia (Foto: Int)

Bestari.id-Sampai sekarang dunia pendidikan Indonesia tak pernah sepi dari pelbagai bentuk dan modus kekerasan. Terasa pada kita, kekerasan demi kekerasan di dunia pendidikan terus-menerus terjadi kendati usaha dan kerja keras mencegah, malah mengantisipasinya terus dilakukan. Dalam bahasa gagah, kekerasan di dunia pendidikan terus-menerus diproduksi, justru oleh insan-insan pendidikan sendiri, bukan hanya oleh pihak di luar insan pendidikan. Sebagai bukti, justru pada saat merayakan Hari Pendidikan 2 Mei, yang mengambil hari lahir Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara yang secara lantang berseru bahwasanya pendidikan merupakan proses pemerdekaan, kita disuguhi dua kekerasan yang banal, barbar, mengetarkan, memilukan, dan membuat tercekat siapapun di dunia pendidikan tinggi.

Tak tanggung-tanggung, tahun 2016 kemarin, terjadi peristiwa dua pembunuhan insan pendidikan oleh insan pendidikan di dalam kampus perguruan tinggi. Pertama, di sebuah kampus di Medan seorang mahasiswa menyudahi hidup seorang dosen seniornya dengan cara amat banal, barbar, bahkan biadab, dan tanpa perikemanusiaan. Kedua, di sebuah kampus di Yogya seorang mahasiswa dihabisi nyawanya oleh seorang karyawan kampus dengan alasan atau dalih yang bisa dibilang amat material-sepele. Belum lagi kasus seorang anak yang beribadah bernama Olivia di Samarinda. Sungguh, sebuah ironi, bahkan anomali di dunia pendidikan! Cita luhur pendidikan untuk terangkan cita-cita manusia terasa lindap, diganti jelaga yang menggelapkan cita-cita!

Ha tersebut mengharuskan kita bertafakur dan berkontemplasi menerawang dunia pendidikan. Bahkan menjadikan kita harus bertanya kembali: Mengapa kekerasan di dunia pendidikan selalu terjadi? Apakah sesungguhnya hajat dan tujuan utama dan hakiki pelangsungan pendidikan? Kata para arif bijaksana, membentuk manusia utama atau insan kamil yang bermarwah dan bermartabat merupakan hajat dan tujuan utama-ideal pendidikan di berbagai budaya dan negara sejak dulu sampai sekarang. Manusia utama itu dapat terbentuk bila pendidikan berfungsi dengan tepat.

Sebagai pranata sosial budaya, pada dasarnya pendidikan berfungsi melakukan (i) pembebasan dan pemerdekaan manusia dari pelbagai kemungkinan yang membuatnya menjadi bukan manusia; (ii) pemekaran dan pengembangan kemanusiaan agar manusia menjadi sepenuhnya manusia; (iii) pemberdayaan manusia dan kemanusiaan agar manusia mampu mengembangkan dan melangsungkan kehidupan sebagai manusia secara manusiawi; di samping (iv) melakukan pembudayaan dan pemberadaban manusia supaya menjadi manusia berbudaya dan beradab. Ini berarti, liberasi dan humanisasi merupakan hajat dan tujuan fundamental (sekaligus historis) pendidikan. Hampir semua orang – baik pakar maupun awam – lalu menganggap dan menempatkan pendidikan sebagai wahana, wadah, ajang, dan instrumen liberasi dan humanisasi yang amat strategis – apalagi pada zaman sekarang.

Para pakar atau orang terkemuka telah dan senantiasa memaklumkan kestrategisan keberadaan dan kedudukan pendidikan tersebut. Mari kita dengar kata orang-orang modern saja: (a) Ivan Illich bilang pendidikan dapat menjadi wahana pembebasan manusia, (b) Paulo Friere bilang pendidikan harus menjadi praktik pembebasan dan pemanusiaan, (c) Ki Hadjar Dewantara bilang pendidikan memerdekakan-mengasah-mempertajam rasa, karsa, dan cipta manusia, (d) Driyarkara bilang tegas sekali bahwa pendidikan merupakan wadah liberasi, humanisasi, dan hominisasi, (e) Ratu Elizabeth II bilang tegas sekali: “Prioritas utama pemerintah sekarang adalah pendidikan, dan (d) Perdana Menteri Tony Blair senada dengan Sang Ratu bilang: tiga prioritas utama pemerintah Inggris saat ini adalah: Pendidikan, Pendidikan, dan Pendidikan.

Ratusan, bahkan mungkin ribuan orang terkemuka atau pakar selalu mengatakan demikian. Jutaan, mungkin ratusan juta manusia senantiasa mengamini dan berusaha mengenyam. Walhasil pendidikan menjelma jadi salah satu kebutuhan pokok manusia atau mungkin keinginan utama manusia – apalagi manusia modern atau sekarang!

Sejak keberadaan dan kedudukan pendidikan sedemikian fundamental-strategis dan menjadi kebutuhan pokok manusia, dilakukanlah upaya institusionalisasi dan formalisasi pendidikan [pelembagaan dan penegasan bentuk kelembagaan] yang kemudian dinamakan satuan pendidikan khususnya sekolah atau perguruan tinggi. Sekolah atau perguruan tinggi kemudian menjadi representasi tunggal pendidikan – apalagi pada zaman sekarang.

Kini, lembaga luar sekolah atau perguruan tinggi kurang dianggap sebagai representasi pendidikan sehingga sebagian besar mengalami marginalisasi dan kemerosotan citra, misalnya pondok pesantren dan pendidikan luar sekolah. Walhasil, sekolah dan perguruan tinggi identik dengan pendidikan sehingga – tak ayal – lahirlah rezim sekolah. Rezim sekolah dan perguruan tinggi secara luas memperoleh legalitas dan otoritas sebagai pelaksana pendidikan yang terpercaya [kredibel] bukan saja dari otoritas politik, tapi juga masyarakat luas. Selain itu, rezim sekolah dan perguruan tinggi mendapat dukungan sosial, budaya, politik, hukum, dan ekonomis-finansial baik dari otoritas pemerintahan maupun otoritas kemasyarakatan. Pendek kata, segala modal sosial, budaya, dan fisikal telah dikerahkan bagi sekolah dan perguruan tinggi.

Itu jelas membuat keberadaan dan kedudukan serta pamor sekolah dan perguruan tinggi menjadi sangat kuat – boleh jadi paling kuat dan perkasa – dibanding lembaga pendidikan non-sekolah. Kita tahu, dengan segala dukungan yang dimilikinya, sekolah dan perguruan tinggi seolah-olah menjelma David Copperfield, sang ilusionis kondang dunia: sosok yang mampu memukau orang dengan permainan-permainan canggihnya. Bagaikan David Copperfield, dengan segala daya dan kuasa yang terhimpun pada dirinya, sekarang sekolah dan perguruan tinggi benar-benar memukau, malah menyihir semua orang di jagat ini.

Dalam pukau sekolah dan perguruan tinggi, semua orang berbondong-bondong pergi ke sekolah dan perguruan tinggi. Orang-orang tua memasukkan anak-anak mereka ke sekolah dan perguruan tinggi, kalau perlu juga indent atau pesan jauh sebelumnya akibat daya tampung kalah dengan animo masyarakat.

Orang-orang tua juga terus-menerus bersekolah atau berkuliah di perguruan tinggi, dengan segala cara, termasuk cara-cara yang tidak bermoral atau tak etis. Pemerintah negara manapun di dunia termasuk negara Dunia Ketiga dan negara Indonesia mencurahkan segala daya dan dana bagi kepentingan sekolah dan perguruan tinggi di samping mendorong atau mewajibkan semua warga negara dan warga masyarakat untuk mengenyam pendidikan persekolahan.

Sekolah-isasi [schooling] masyarakat terjadi, dan kemudian menjadi proyek semua masyarakat dan pemerintah negara manapun – termasuk pemerintah Indonesia dan masyarakat Indonesia. Dapat dikatakan, sekarang masyarakat – apalagi yang dinamakan masyarakat modern – sepenuhnya berada dalam pelukan sekolah atau sasaran sekolah-isasi. Ini mengimplikasikan bahwa [rezim] sekolah dan perguruan tinggi telah [dianggap] menjadi institusi tunggal liberasi dan humanisasi pada satu sisi dan pada sisi lain sekolah-isasi atau perguruan tinggi-isasi masyarakat telah dipercaya menjadi jalan dan wahana liberasi dan humanisasi; pembebasan manusia dan pemekaran kemanusiaan.

Pada saat pendidikan terutama pendidikan persekolahan dan perkuliahan atau sekolah dan perguruan tinggi memperoleh kedudukan, kepercayaan, pamor, dan kuasa sedemikian besar luar biasa dan strategis – yang kemudian melahirkan sekolah-isasi atau perguruan tinggi-isasi masyarakat, banyak kepentingan eksternal kemudian merasuk dan menyusup ke dalamnya – mungkin bermaksud membantu atau mungkin juga bermaksud menangguk untung dari pendidikan persekolahan dan pendidikan tinggi, sekolah dan perguruan tinggi, dan sekolah-isasi dan perguruan tinggi-isasi masyarakat.

Kepentingan eksternal itu dapat berupa kepentingan politis-kekuasaan, ideologis, birokratis, korporatis, dan ekonomi-bisnis – yang tak selalu sejalan dengan kepentingan liberasi dan humanisasi. Dengan segenap siasat, cara, dan upaya yang mungkin, pelbagai proyek politis, ideologis, birokratis, korporatis, dan ekonomis disusupkan dan dilesakkan-dihunjamkan ke dalam sendi-sendi pendidikan persekolahan dan sekolah/pendidikan tinggi dan perguruan tinggi.

Dengan pelbagai cara normalisasi, regulasi, dan legalisasi beserta segala argumennya lambat laun proyek politis, ideologis, birokratis, korporatis, dan ekonomis tersebut menguasai, malah mungkin mencengkeram pendidikan persekolahan dan sekolah/pendidikan tinggi dan perguruan tinggi.

Tak ayal, terjadi distorsi tujuan dan fungsi fundamental pendidikan sebagai jalan liberasi dan humanisasi; terjadi pembengkokan atau pembelokan tujuan dan fungsi fundamental pendidikan. Pendidikan tidak lagi mengabdi terutama bagi tujuan dan fungsi liberasi dan humanisasi atau melayani kepentingan pembebasan manusia dan pemekaran kemanusiaan, tapi malah mengabdi atau melayani tujuan dan fungsi politis, ideologis, birokratis, korporatis, dan ekonomisai-bisnis secara kasat mata.

Kini pendidikan terutama pendidikan persekolahan dan perguruan tinggi tampak terlihat kurang memihak kepentingan liberasi dan humanisasi, kepentingan ekonomis dan industrial lebih utama. Tak ayal, komersialisasi, industrialisasi, dan bahkan McDonaldinasi pendidikan makin merajalela. Tanpa tersadari, pendidikan menempuh jalan simpang, malah mungkin jalan keliru akibat tidak berdaya dan berkuasa menghindari jeratan dan pilinan kepentingan politis, ideologis, birokratis, korporatis, dan ekonomis-bisnis. Pendidikan – agaknya – telah menjelma menjadi Malin Kundang karena telah lupa atau ingkar kepada tujuan dan fungsi fundamental yang semestinya diembannya.

Banyak kalangan terutama para pakar dan orang terkemuka terperanjat, tersentak atau tersadar dan lalu memekik-mekik. Pada tahun 1970-an, Ivan Illich memekik lantang: sekolah telah menjadi belenggu masyarakat sehingga masyarakat harus dibebaskan dari sekolah (ingat: deschooling society). Pada tahun 1970-an pula Paulo Freire memekik-mekik bahwa pendidikan telah menjadi praktik penindasan, bukan lagi praktik penyadaran dan pembebasan serta pemanusiaan manusia. Roem Topatimasang, protolan IKIP Bandung, berteriak lantang (mirip teriakan Marx ihwal agama) bahwa sekolah telah menjadi candu bagi masyarakat. Sindhunata, seorang romo sekaligus budayawan terkemuka kita, bersaksi dramatis bahwa pendidikan persekolahan hanya menghasilkan air mata.

Mansoer Fakih, pentolan LSM, dengan tegas memberi kesaksian bahwa pendidikan telah mengalami komodifikasi yang nyata-nyata mengancam kemanusiaan. Preire malah lebih tegas lagi menuduh bahwa sekolah telah menjadi kapitalisme yang licik. Senada dengan ini, Francis Wahano berteriak bahwa sekarang telah terjadi kapitalisme pendidikan yang akut yang mengancam kebebasan dan kelangsungan hidup semua manusia.

Ariel Heryanto, pengamat sosial terkemuka, juga bilang bahwa industrialisasi pendidikan telah terjadi seiring dengan perubahan sosial yang berlangsung amat pesat, rumit, dan kompleks. Dave Meier, penulis buku laris-manis bertajuk The Accelerated Learning Handbook, bilang pendidikan dan sekolah modern telah mengalami fabrikasi di samping mengalami puritanisasi, individualisasi, segregatif, maskulin, dan linierisasi – yang terbukti menjadi penyakit bagi manusia modern dan kemanusiaan.

Itu semua jelas merupakan sinyalemen serius kalau pendidikan dan terutama sekolah dan perguruan tinggi sudah jauh menyimpangi kittah dasar–awalnya sekaligus juga peringatan bahwa kita telah rabun atau malah kehilangan tujuan dan fungsi fundamental pendidikan persekolahan dan perguruan tinggi. Maksud hati pendidikan persekolahan dan perguruan tinggi menjadi jalan liberasi dan humanisasi, apalah daya yang terjadi [berlangsung] fabrikasi, komodifikasi, dan kapitalisasi pendidikan. Meniru pola pepatah, ini dapatlah kita katakan: liberasi dan humanisasi hilang, fabrikasi dan komodifikasi [industrialisasi] terbilang dalam pendidikan persekolahan dan perguruan tinggi! Humanisasi dicita, komodifikasi tiba!.

Pendidikan sekolah dan perguruan tinggi bukan lagi jalan utama pembebasan dan pemanusiaan, tapi justru ajang dan instrumen pembelengguan manusia dan penir-manusiaan [dehumanisasi]. Ini terlihat dari makin banyaknya guru dan siswa yang stres dan melaksanakan tindakan-tindakan tak etis; terjadinya antara mahasiswa, dosen, dan karyawan baku bunuh seperti yang baru-baru ini terjadi di Medan dan Yogya. Mungkin menyindir fenomena ini, Rung Kawedang menghimbau kita supaya belajar dari monyet dan sekolah monyet di Thailand karena pembelajaran monyet justru amat manusiawi (atau monyet-wi?) dan sekolah monyet benar-benar fungsional sebagai jalan pembebasan dan pemanusiaan [pemonyetan?] (lihat bukunya: Belajar dari Monyet di Akademi Pelatihan Monyet Surat Thani, Thailand: Suatu Cara Reformasi Pembelajaran yang Mangkus).

Kita boleh bertanya lebih lanjut: Kalau pendidikan monyet dan lembaga pendidikan monyet saja bisa membuat monyet bisa berlaku manusiawi, mengapa pendidikan manusia dan [rezim] sekolah dan perguruan tinggi tidak sepenuhnya mampu membuat manusia menjadi bebas dan manusiawi? Marilah kita berjanji mengembalikan lembaga pendidikan baik sekolah maupun perguruan tinggi sebagai taman penyemaian liberasi dan humanisasi! (*)

Komentar Anda