Lupakan PNS, Mari Berdagang!

Ilham Nur

Ilham Nur

Penulis
Pelajar Agama, Pendidikan dan Kimia
Ilham Nur

Latest posts by Ilham Nur (see all)

Mark Zuckerberg – Sumber Foto Internet

Bestari.id – Pendaftaran seleksi CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) di periode II tahun 2017 sebanyak 61 instansi resmi dibuka melalui laman Sscn.bkn.go.id, CPNS ramai dibincang pada kalangan masyarakat. Tak luput dari kalangan remaja hingga orang tua, semua meributkannya. Seakan-akan CPNS, satu-satunya tujuan hidup masyarakat. Sepatutnya, menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) merupakan suatu jaminan hidup jangka panjang, dengan berbagai tunjangan yang di tawarkan, dari tunjangan istri, anak, hingga tunjangan kesehatan.

Di sisi lain, mindset PNS sebetulnya telah merusak generasi bangsa. Mengapa demikian? Coba kita perhatikan generasi masa kini, terkhusus generasi millenial. Dikarenakan PNS, sebagian dari mereka tidak lagi mengetahui cara bercocok tanam, bertani maupun berkebun. Mereka seakan-akan lanjut sekolah demi syarat menjadi PNS, belajar dengan harapan nantinya dapat menjadi PNS. segala-galanya demi PNS.  Seakan-akan lupa atau pura-pura lupa pada potensi negeri yang  besar — negara agraris dengan bentangan daratan yang dapat ditanam berbagai buah dan sayur, dan berbagai sumber makanan pokok lainnya seperti padi, gandum, dll.

Jika generasi bangsa, memafhumi hal tersebut, maka selain untuk menghidupi diri sendiri, juga dapat menghidupi orang lain. Sebab, jika kita tekun untuk melakukan cocok tanam, tidak menutup kemungkinan dapat meningkatkan taraf hidup lebih baik dengan cara berdagang.

Tidak menutup kemungkinan merealisasikan cita-cita Bung Hatta, salah satu founding fathers negeri ini, untuk menerapkan ekonomi kerakyatan, ekonomi merata, untuk kesejahteraan rakyat. Sebab, rakyat sendiri yang menanam, mengolah, dan menjual tanpa ada campur tangan dari pihak asing.

Bahkan menyoal berdagang, Rasulullah SAW sejak kecil telah memberi contoh untuk berdagang. Rasulullah selalu ikut pamannya untuk berdagang dan ikut kafilah dagang arab, dengan berdagang di Negeri Syam pada umur 12 tahun. Hingga saat diumur 15 tahun, Rasulullah memutuskan untuk berdagang sendiri, dan dikenal sebagai pedagang yang jujur, sopan santun, menghormati pelanggan, tepat janji dan tidak menjual jualan yag tidak layak jual.

Ada pepatah arab, “tuntulah ilmu sampai negeri Cina”. Kenapa Cina? Kita tahu bersama, dari zaman Dinasti Chong sampai sekarang, Cina selalu menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi yang luar biasa. Sistem perekonomian Cina, tidak serta merta melesat seperti saat ini. Tetapi, dikarenakan kemampuan masyarakatnya dalam hal mengelola dagangan. Coba kita perhatikan merek-merek elektronik saat ini. Merek otomotif atau peralatan rumah tangga, rerata dibuat oleh Cina, lalu dipasarkan oleh Cina pula.

Pernahkah kita menelisik lebih dalam, hubungan antar Cina dan Islam? Dalam sejarahnya,  khalifah ke-3, Usman bin Affan pernah mengutus rombongan diplomatik ke Cina sebanyak 60 orang yang dipimpin oleh Saad bin Abi Waqqas. Lalu, tahukah kalian? Pabrik kertas pertama di dunia, yang dibangun pasa abad ke-8 di Kota Baghdad, merupakan sumbangsi Cina kala itu. Dari berbagai fakta yang ada, maka kita tak perlu malu untuk belajar berdagang dari Cina tanpa keluar dari koridor regulasi dagang telah ditetapkan Al-Qur’an dan Al-Hadist.

Lalu, fakta lainnya orang- orang terkaya di dunia, sebut saja Bill Gates (CEO Microsoft), Amancio Ortega (Pendiri Perusahaan Zara), Jeff Jezos (CEO Amazon.com), Mark Zuckerberg (CEO Facebook), dll.  membuktikan bahwa menjadi pengusaha atau berdagang merupakan cara untuk hidup sukses.

Olehnya itu, mindset hidup perlu ditata ulang, tidak melulu soal PNS dan semacamnya. PNS dapat dijadikan ‘alternatif’ dari berdagang, bukan sebaliknya. Sebab berdagang merupakan salah satu sunnah yang telah dicontohkan oleh panutan kita Rasulullah SAW. Berdagang dengan sebuah kejujuran, sopan santun, amanah dan dapat dipercaya, itulah pedagang elegan. (*)

*Penulis: Muhammad Ilham Nur (Pelajar Agama, Pendidikan dan Kimia)

Komentar Anda