Memahami Peran Guru di Kelas

Utary Nur

Utary Nur

Penulis
Mahasiswa Program Magisters Pendidikan IPA Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung
Utary Nur

Latest posts by Utary Nur (see all)

Suasana di kelas (Foto: Int)

Bestari.id – Bagi saya pendidikan adalah ujung tombak keberhasilan suatu bangsa. Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal dari negara-negara ASIA lainnya. Sebut saja Singapura, Korea, Japan, dan Hongkong adalah negara-negara yang menempati deretan teratas hasil penilaian Trend in International Mathematics and Science Study (TIMSS) tahun 2015. Sementara negara kita masih berada di posisi bottom top  pada posisi 45 dari 47 negara yang menjadi peserta. Hal yang tak jauh berbeda juga diterlihat pada hasil The Programme for International Student Assessment (PISA). Kedua ajang international ini bertujuan untuk mengevaluasi sistem pendidikan secara luas berdasarkan hasil tes yang diperoleh oleh peserta didik di Indonesia.

Hasil penilaian ini, menyadarkan kita bahwa ternyata proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah masih jauh dari harapan kita. Memang hal ini bukanlah semata-mata tanggung jawab guru tetapi menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk memfasilitasi berbagai kebutuhan guru di Indonesia. Dan tentunya dibutuhkan peran serta masyarakat dalam mendukung kegiatan di sekolah. Namun guru adalah pemegang estapet terakhir dari berbagai pihak untuk menyelenggarakan pembelajaran. Mereka adalah pemegang kendali di dalam kelas.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan proses pembelajaran di kelas adalah mengenali karakteristik perserta didik. Seperti yang diungkapkan oleh Callie Milsteads bahwa tidak ada anak yang bodoh. Ia percaya bahwa seorang anak mampu menguasai pelajaran dengan caranya masing-masing. Oleh karena itu, guru harus mengenali cara belajar tiap anak didiknya, sehingga rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dapat disusun berdasarkan hasil analisis lingkungan belajar. Tidak sekedar disusun untuk menjadi prasyarat administrasi sebagai seorang guru tetapi RPP dilaksanakan sebagaimana mestinya.

David Lazer dalam bukunya Hinger-Order Thinking, The Multiple Intelligences Way menjelaskan bahwa terdapat 8 jenis kecerdasan majemuk yaitu, kecerdasan matematis, kecerdasan kinestetis, kecerdasan visual spasial, kecerdasan naturalis, kecerdasan verbal linguistik, kecerdasan musikal ritmik, kecerdasan interpersonal, dan kecerdasan intrapersonal. Rancangan perangkat pembelajaran dapat disusun berdasarkan 8 jenis kecerdasan majemuk ini. Pelaksanaan pembelajaran haruslah memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangankan semua jenis kecerdasan ini, tidak hanya fokus pada kecerdasan matematis dan verbal linguistik seperti yang banyak terlaksana di sekolah-sekolah.

Contoh ketika seorang guru ingin mengajarkan tentang pengukuran dan Ia bermaksud untuk melihat kecerdasan kinestetis siswanya, kemudian ia merancang pembelajaran di mana siswa dapat mengukur panjang lengan, tangan dan jari-jari yang mereka miliki sendiri. Apabila guru tersebut juga ingin melihat kemampuan visual spasial dan naturalis siswanya, ia dapat memberikan berbagai artikel tentang pengukuran kemudian siswa diminta keluar untuk menemukan contoh kasus yang dibahas dalam artikel tersebut,sehingga setiap kegiatan yang dilaksanakan di kelas mempunyai makna dan meninggalkan jejak di benak siswa.

Guru juga harus adil dalam memberikan penilaian di kelas. Hasil penilaian paper and pencil test yang kebanyakan digunakan di sekolah sebagai instrumen penilaian hanya berisi pertanyaan verbal linguistik dan matematis. Diperlukan adanya asesmen alternatif yang dapat mengakomodasi penilaian kecerdasan majemuk yang dimiliki peserta didik. Beberapa asesmen alternatif yang dapat digunakan oleh guru untuk menilai kemampuan siswanya yaitu penilaian task dan rubrik, penilaian peta konsep, penilaian portofolio, personal komunikasi, penilaian teman sebaya (peer assessment), dan penilaian diri sendiri (self assessment).

Sejatinya, seorang anak semua bisa menjadi bintang di kelas, jika kemampuan yang dimiliki terwadahi dengan baik oleh guru. Guru harus menjadi garda terdepan untuk menuntaskan polemik siswa.(*)

Penulis: Ary Utary Nur (Mahasiswa Program Magisters Pendidikan IPA Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung

Komentar Anda