Membaca Kekuatan dari Self Talk

Abdullah Pandang

Abdullah Pandang

Penulis
Dosen Universitas Negeri Makassar
Abdullah Pandang

Latest posts by Abdullah Pandang (see all)

Bestari.id-Ngomong sendiri, ngomong pada diri sendiri, mengucapkan kata-kata yang ditujukan pada diri sendiri itu adalah hal yang rutin kita lakukan sehari-hari. Semua orang pasti melakukannya.

Saat alarm bunyi di pagi hari, kita sudah mulai ngomong pada diri sendiri. “Ini jam berapa, ya? Mengganggu saja… tidur lagi ah…” begitulah kira-kira. Saat alarm bunyi lagi dan sadar telat bangun, kita pun ngomong dalam hati, “duh.. sudah pagi… bangun ah…. apa yang harus saya lakukan?” Begitu seterusnya. Saat mandi, saat sarapan, saat ambil dan pakai baju, keluar dari rumah, selama di perjalanan, hingga ke kantor atau kampus, dan sepanjang hari-hari yang dilewati, kita tak pernah berhenti berdialog dengan diri sendiri, meski hanya dalam hati. Itulah rangkaian perbuatan yang disebut Self Talk.

Konon, menurut hasil penelitian, kebanyakan orang melakukan sef talk sebanyak 50.000 kali setiap harinya. Jumlah ini jauh melampaui jumlah omongan yang kita tujukan pada orang lain. Tak percaya? Coba hitung sendiri pada sampel diri sendiri.

Dan ternyata perilaku self talk punya pengaruh dahsyat pada diri kita. Ia bisa menjadi penuntun yang efektif untuk mengarahkan diri kita ke arah negatif: menjadi pribadi yang pesimis, minder, dan diliputi keraguan; atau sebaliknya menuntun kita ke arah positif: menjadi pribadi produktif, percaya diri, dan bahagia.

Coba perhatikan contoh self-talk berikut. Ini mungkin biasa kita ucapkan pada diri sendiri:

“Saya tidak bisa bahasa asing, jadi saya pasti gagal bila ikut program ini ….”
“Percuma berusaha, saya tak mungkin berhasil….”
“Saya cuma anak kampung, tak pantas bergabung bersama mereka…”
“Tak ada yang bisa saya andalkan, tak perlu maju, pasti ditolak…”
“Saya memang selalu bernasib buruk, apapun yg saya lakukan pasti gagal…”

Itu semua adalah contoh self-talk yang menggunakan apa yang disebut victim language (bahasa korban). Gaya bahasa seperti ini akan membuat kita terjebak dalam pola pikir seorang korban yang tak berdaya. Ujaran seperti ini akan menghipnotis diri untuk meyakini bahwa diri kita memang tidak kompeten, tidak berharga, dan selalu bernasib buruk.

Lalu apa yang harus dilakukan? Ubah kebiasaan membanjiri diri dengan “bahasa korban” seperti itu. Mulailah lebih banyak melakukan self talk dengan “bahasa pemenang.”

“Saya mampu mengerjakannya…”
“Saya cukup tangguh menghadapi situasi seperti ini…”
“Saya bukan tipe orang yang mudah keok….”
“Pasti ada pemecahan yang bisa saya tempuh untuk mengatasi kedaan ini….”
“Tak ada yang perlu dicemaskan, semua akan menjadi baik….”

Bahasa dan kata-kata yang diucapkan dalam self talk sangat penting untuk diwaspadai. Karena apa yang kita ucapkan atau pikirkan dalam self talk tesebut akan diprogram ke dalam pikiran bawah sadar kita.

Pikiran bawah sadar itu bertindak sebagai budak yang patuh dan siap menjalankan perintah yang kita berikan lewat bahasa harfiah dalam self talk. Sebagai budak, alam bawah sadar adalah pekerja yang amat patuh mengikuti setiap perintah.

Ketika, misalnya kita berkata: “Percuma berusaha, saya tak mungkin berhasil….” maka kita sesungguhnya sedang memerintahkan pada budak bawah sadar untuk melewatkan dan mengabaikan segala kesempatan yang tersedia untuk berhasil. Dan jiwa bawah sadar kita akan membombardir pikiran dengan limpahan keraguan dan ketakutan untuk mencoba.

Sebaliknya, jika kita berkata: ”Saya yakin dengan kemampuan saya. Saya pasti bisa berhasil…..”, maka sang budak akan mensuplai ide-ide dan opsi-opsi yang bisa ditempuh untuk mendapatkan hasil terbaik.

Karena itu, kita perlu waspada dengan kekuatan pikiran bawah sadar ini. Kita harus cermat dan hati-hati terhadap apa pun yang kita ucapkan pada diri sendiri.

Ketika terlanjur mengatakan sesuatu yang negatif dan merugikan diri sendiri, maka segera hentikan dan katakan: ”Batalkan….. batalkan…!!!” Ini menjadi semacam instruksi kepada budak alam bawah sadar bahwa perintah yang diberikan sebelumnya itu dibatalkan. Lalu segera ganti dengan perintah baru menggunakan kata-kata positif atau bahasa pemenang.

Sebagai contoh:
”Aku kelihatannya akan gagal mencapai target menyelesaikan tugas minggu ini” (Ups!)
”Batalkan….batalkan….!!! Aku yakin bisa mencapai target menyelesaikan tugas minggu ini.”

Selalulah berusaha mengganti ucapan negatif dengan ucapan-ucapan positif mengenai diri sendiri. Bila hal-hal positif tentang diri ini diucapkan secara berulang-ulang dan terus menerus, maka pesan-pesan positif tersebut akan mengendap menjadi bagian alami yang menyatu dalam cara berpikir kita. Kita akan menjadi pemikir positf tentang diri sendiri.

Selamat mencoba! (*)

Komentar Anda