Membincang Masa Depan Pendidikan IPA

Muh Ikhsan

Muh Ikhsan

Penulis
Ambisius, romantis, dan tidak menyukai bunga
Muh Ikhsan

Latest posts by Muh Ikhsan (see all)

Ilustrasi (Foto: Int)

Bestari.id – Struktur kurikulum IPA untuk Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) menegaskan bahwa untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di SMP/MTs dituntut menerapkan pembelajaran sains terpadu. Oleh karena itu, segala bentuk aktivitas yang berkaitan dengan pembelajaran IPA harus dikemas dalam bentuk yang terpadu atau terintegrasi. Aspek-aspek yang diintegrasikan tidak terbatas hanya pada konten materi tetapi juga aspek keterampilan dan sikap.

Sejatinya, dalam pembelajaran ada dua paradigma yang saling berkompetisi dalam pola penerapan pembelajaran IPA yaitu Diciplinary Curriculum Paradigm dan Integrated Curriculum Integrated.

Titik kritis perbedaan kedua paradigma tersebut terletak pada pengamatannya terhadap konsep IPA. Diciplinary Curriculum Paradigm memandang IPA sebagai entitas yang memiliki beberapa bagian atau disiplin ilmu yang saling terpisah satu sama lain sementara Integrated Curriculum Paradigm memandang IPA sebagai unity (kesatuan) yang tidak dapat dipisahkan. Proses belajar mengajar dipandang secara holistik tanpa fragmentasi di antara bagian-bagiannya. Kurikulum yang terintegrasi merupakan sebuah pendekatan dalam mempersiapkan siswa dengan pembelajaran sepanjang hidup (long life education) yang mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan siswa dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Karena objek pengamatan sains adalah fenomena alam yang merefleksikan suatu kesatuan realitas maka memahaminya tidak dapat dilakukan secara terpisah. Pada setip kejadian alam, ketiga konten IPA (Fisika, Kimia, Biologi) harus senantiasa dikaitkan satu sama lain agar diperoleh pemahaman yang komprehensif. Hal ini juga sesuai dengan konsep belajar bermakna dari David Ausebel bahwa pengetahuan menjadi tidak bernilai jika tidak dikaitkan dengan pengetahuan yang lain.

Masih terkait pembelajaran IPA, pengalaman belajar yang diberikan tidak hanya dalam bentuk penjejalan pengetahuan di kepala siswa tetapi juga dengan memotivasi dan mengembangkan kemampuan siswa dalam membentuk hubungan baru di antara konsep-konsep yang dipelajari guna melatih kreativitas siswa. Kreativitas yang dimaksud adalah keterampilan siswa dalam mengonstruk metode, model, dan struktur pengetahuan yang mereka miliki. Kreativitas yang terbentuk ini diharapkan dapat membantu dalam memahami fenomena sains yang terjadi di sekitarnya dan memberikan solusi terhadap masalah yang berkaitan dengan sains.

Ilustrasi yang paling sederhana mengenai pola integrasi dalam pembelajaran IPA di sekolah saat ini adalah ketika menjelaskan mekanisme mata melihat benda. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih utuh dalam memahami mekanisme ini, konten Biologi (terkait organ mata), konten Fisika (cermin, lensa, dan sifat bayangan) harus mampu dielaborasi oleh guru saat akan disajikan ke siswa. (*)

Penulis: Muhammad Ikhsan Sukaria
Mahasiswa Magister Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Komentar Anda