Menahan Diri dari #SaveRonghiya

Bestari

Bestari

Tim Redaksi Bestari.ID
Arif Menginspirasi
Bestari

Latest posts by Bestari (see all)

Ilustrasi etnis Rohingya (Foto: Int)

Bestari.id – Betapa bersilewaran di media daring (online) berbagai pemberitaan dari Sepenggal tanah di Myammar. Tak sedikit foto hoax yang ikut disebar untuk menyulut emosi kita (manusia) bereaksi atas tragedi kemanusiaan yang ada. Tak ayal, seorang mantan Menteri yang berdo’a kelimpungan di Sidang Paripurna dulu ikut menyebar foto hoax tentang #saveronghiya dengan nada tendensius.

Bersolidaritas sesama manusia memang adalah langkah manusiawi yang seharusnya dilakukan. Hanya saja, isu kemanusiaan yang ada ini kok kemudian diambil sebagai alat untuk menyindir lainnya?

Pada akhirnya, petuah dari Imam Ali Bin Abi Thalib K.W dibenarkan. Jika kita tak bersaudara dalam iman, kita bersaudara dalam kemanusiaan. Dan menjadi manusia sudah cukup untuk membuat kita peduli pada derita yang ditanggung manusia lainnya. Kalimat ini disebar berbagai kalangan untuk menyatakan diri sebagai manusia.

Benarkah peduli Ronghiya menjadi bukti kita manusia? Di satu sisi iya. Jelas itu menjadi alat ukur bahwa kita masih manusia, memiliki rasa iba dan sedih atas pembantaian. Hanya saja, di sisi lain sebagian kita yang menyatakan diri peduli kok seakan-akan menjelma menjadi sosok biksu Ashin Wirathu dalam wujud lain. Entah sadar atau tidak, sebagian kita malah ikut memprovokasi kebencian serupa yang dipropagandakan Ashin Wirathu pada umat budha di tanah air. Lalu apa bedanya kita peduli masyarakat muslim Ronghiya yang minoritas bila dalam hati tumbuh kebencian pada umat minoritas di sekitar kita yang tak tersangkut kekejaman Wirathu.

Ashin Wirathu selayaknya tak bisa disebut biksu. Sebab jalan Budha yang penuh welas asih tak terpatri dari sikapnya. Ia serupa saja dengan Abu Bakar Al Baghdadi, serupa Boko Haram yang memakai simbol agama islam untuk melegalkan kekejaman yang dilakukannya. Mereka semua tak layak disebut orang berahama, bahkan menyebutnya manusia pun rasanya tak layak.

Bagi saya pribadi, kekejaman atas nama agama di dunia ini tak pernah benar-benar tejadi. Sebab agama (apapun) itu mengajarkan cinta kasih. Pembantaian yang terjadi hanyalah perilaku busuk yang dibungkus kerelijiusan yang dipuja banyak orang. Dan itu terjadi di seluruh agama. Ini sebuah kodrat bahwa sebagian besar manusia akan terperdaya dalam kelalaiannya menilai kebenaran-kesucian agama yang (dipilih) dianut.

Akhirnya, #saveronghiya harus kita serukan dengan bijak. Peduli terhadap kemanusiaan jangan membuat kita emosional tanpa pertimbangan nalar logis dalam bereaksi. Jauhkan lah diri kita dari menyebar foto-foto yang belum tervalidasi kebenarannya. Bahkan pun, jika benar valid maka foto yang menyayat rasa kemanusiaan harus tetap dijaga untuk tidak disebar secara vulgar. Sebab jika kita terbiasa melihat gambar pembantaian demikian, maka bisa jadi kita tak lagi iba pada kemanusiaan di kemudian hari. Biarlah foto yang berisi kesadisan itu menjadi file pribadi (jika memang sudah sampai pada kita). Cukuplah kita menyampaikan kekejaman itu lewat gambar visual dalam bentuk lain atau lewat untaian kata.

#saveronghiya sama halnya jika kita #savekemanusiaan, sama halnya #saveyaman, #savepalestina, #savesampang dan (tagar) #save lainnya bagi mereka yang terusir dan dibantai di tanah kelahiranya. Semoga kita tetap menjadi manusia.

Penulis: Fajri At Tharawy (Pegiat Sosmed dan Literasi)

Komentar Anda