Menakar Potensi “Baper” Pendaftar CPNS dan Repotnya Tuhan Ladeni Kita

Asri Ismail

Asri Ismail

Kapten Redaksi - Bestari.ID 
Bugis tulen, berewokan, & hobi domino

Ilustrasi CPNS (Foto: Int)

Bestari.id- Bukan hal yang lumrah lagi, jika di sekeliling kalian, termasuk mungkin Anda dan saya adalah orang-orang yang sedari awal menaruh harapan bahwa kelak akan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk jaminan masa depan. Mulai dari tokoh-tokoh masyarakat hingga rakyat jelata sepertinya memang menjadikan PNS sebagai profesi yang menjanjikan nan menggiyurkan. PNS memang menjadi primadona di antara profesi yang lain. Yang paling penting adanya jaminan hidup hingga pensiun, sehingga tidak salah ketika jutaan orang Indonesia kegirangan tatkala pemerintah membuka lowongan menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

Pemerintah melalui 61 instansinya kembali membuka pendaftaran CPNS gelombang II. Sebanyak 17.928 posisi yang dijanjikan untuk mengisi jabatan di 30 kementerian, 30 lembaga dan satu pemerintah provinsi Kalimantan Utara yang menyediakan sebanyak 500 kursi. Sebuah profesi yang didambakan sebagian besar orang Indonesia.

Bagi yang bercita-cita untuk jadi PNS, pengumuman ini seolah menjadi angin surga. Bertiup pelan-pelan dan membius perlahan-lahan. Begitu nikmat dan berkesan. Laksana embun di tengah kemarau panjang.

Saya membayangkan wajah-wajah sumringan dari mereka. Setelah 2 tahun lalu penantian itu terwujud sudah. Menggenggam optimisme. Satu persatu-satu dicermati secara seksama tata cara dan persyaratannya. Mereka benar-benar kegirangan.

Tertanggal 11 September lalu, lalu-lalang pelamar menanyakan tentang ini dan itu. Termasuk di lini masa medsos, tak pernah henti diperbincangkan. Ada yang masih ragu-ragu dan mayoritas yang sudah memantapkan diri, media juga tak mau ketinggalan mengupas hingga tetek bengeknya.

Terlepas dari betapa bahagianya para pelamar PNS tersebut, ada satu hal yang paling saya pikirkan dan mungkin akan berimplikasi sangat dalam, yakni potensi banyaknya orang akan mengidap penyakit “baper” berkepanjangan. Kira-kira jumlahnya akan mencapai jutaan.Bagaimana tidak, di gelombang pertama dengan formasi yang akan diterima 19.210 orang, pelamar mencapai 1,14 juta orang.Dengan demikian, jika sekarang 17.928 tersedia, dan dipredikasi akan melonjak lebih banyak dari sebelumnya. Mungkin akan menggait pelamar 10 kali lipat dari kursi yang ada.

Saya tidak habis pikir betapa banyak lagi luka yang tercipta, akibat terdepak dari arena pertarungan CPNS. Dengan jumlah yang begitu banyak, saya membayangkan di hari pengumuman Indonesia akan menjadi “Negeri Baper”. Kecewa, kesal, sebel, menyalahkan diri sendiri hingga pemerintah, merasa malu, dan sejumlah sikap lainnya akan tersaji dengan sangat dramatis. Patut ditunggu tayangannya.

Bertahun-tahun mereka menanti, bahkan mungkin telah gagal berkali-kali. Dan kini terjatuh di jurang yang sama. Semangat mereka untuk menjadi abdi negara pupus lagi. Padahal mungkin ada di antara kita merasa telah berusaha dan bekerja maksimal. Ironinya, pemerintah ikut diseret-seret karena membuka daya tampung yang dinilai sangat sedikit. Dan yang terpenting, semoga saja, tidak ada yang gagal menikah hanya karena tidak diterima jadi PNS.

Suatu waktu dalam kondisi bercanda, saya pikir bahwa sebenarnya pendaftaran PNS ini tidak hanya menyibukkan pemerintah untuk menyiapkan berbagai hal demi kelancaran pelayanan yang baik. Pernah tidak kalian berpikir, bahwa 1,14 juta dari jumlah penduduk Indonesia tersebut juga ujung-ujungnya akan merepotkan Tuhan. Jutaan orang Indonesia setiap waktu akan meminta, mengadu, dan curhat kepada Tuhan. Untung jika mereka tidak bersamaan berdoa, bisa Anda bayangkan jika suatu hari, terutama menjelang detik-detik pengumuman mereka berdoa di waktu yang sama. Begitu sibuknya Tuhan mengurusi permintaan mereka. Semoga saja, Tuhan tidak melaknat pemerintah Indonesia karena membuka kuota PNS yang relatif sedikit.

Mungkin pernyataan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla ada benarnya kala membuka Kongres Ekonomi Umat Islam Majelis Ulama Indonesia (MUI) April lalu. Katanya saat ini Indonesia kekurangan pengusaha, jadi jangan mikir lagi jadi PNS, susah. Olehnya itu, semestinya generasi muda tidak lagi memikirkan PNS sebagai satu-satu jalan untuk mencapai kebahagiaan. Generasi muda harusnya menjadi pengusaha yang profesional. Menciptakan lapangan kerja bersama-sama. Penguasa dalam bidang apapun itu.Coba buka mata kita lebar-lebar, orang-orang terkaya di dunia dan Indonesia ini bukan dari kalangan PNS kok, artinya PNS bukan satu-satunya jaminan untuk Anda merengkuh indahnya menjadi abdi negara.

Bukankah syarat jadi pemimpin Indonesia saat ini harus melepas jabatan PNS?. Nah,jika nanti bertemu dengan kegagalan, janganlah larut dalam kesedihan, karena tidak semua diatur nasibnya untuk jadi PNS (*)

Komentar Anda