Mendaras Generasi Millennials

Arwin Sanjaya

Arwin Sanjaya

Juru Editor at -Bestari.ID
Pecinta buku dan penikmat berbagai kopi
Arwin Sanjaya

Latest posts by Arwin Sanjaya (see all)

Generasi milenial (Foto:Int)

Bestari.id – Membincang zaman millennials menjadi bahan yang hangat saat ini. Sebab percakapannya selalu bertautan tentang perubahan gaya hidup, kepemimpinan dan model bisnis. Generasi baru datang dengan karakternya sendiri. Renald Kasali (2017) mengatakan bahwa generasi baru itu disebut sebagai millennials yang lahir antara sebelum dan setelah pergantian milinium. Generasi ini sejak kecil sudah akrab berbagi dan bermain dengan dunia digital.

Kemunculan generasi langgas atau lebih popular disebut dengan generasi millennials sejalan dengan teknologi yang telah memasuki gelombong ketiga : Internet of things yang setiap aktivitas manusia akan selalu bersentuhan dengan internet. Seperti apa yang telah diramalkan Alvin Tofler (1980), dunia kita telah memasuki gelombang ketiga.

Demikian juga dunia internet. Hal ini ditandai dengan masuknya era informasi yang membuat manusia begitu mudah menjangkau segala jasa dan informasi tanpa batas dan membangun komunitas, berinteraksi bukan berdasarkan jarak geografis melainkan karena kesamaan minat. Penggunaan media sosial sudah mencapai titik nadir. Gelombang Smart device telah merambati setiap sendi kehidupan manusia. Mau tak mau manusia harus mempersipkan diri untuk memasuk peradabaan millennials. Zaman telah banyak berubah mulai dari model bisnis, pelayananan birokrasi sampai gempuran budaya global. Perubahan tatanan kehidupan harus disikapi dengan bijak dan cerdas.

Perubahan yang tidak disertai kesiapan akan menimbulkan gejolak bahkan penolakan. Seperti perseteruan transportasi konvesional (tukang ojek dan taksi) dengan pelaku transportasi online yang pernah terjadi bahkan mungkin sampai hari ini. Menyikapi polemik itu, pemerintah akhirnya mengeluarkan ambang batas tarif minimal dan maksimal taksi online, sehingga tarif biaya transportasi konvensional transportasi daring hanya selisih sedikit.

Perubahan ini merupakan gejala disruption dalam bidang bisnis yang dipelopori oleh kaum muda millennials. Kita hidup dalam era kecepatan eksponensial, yang mayoritas manusia menuntut kesegaran, real-time. Efek dari era ini adalah kesenjangan generasi yang bisa memicu konflik kaum tua yang masih aktif memimpin, mengajar dan berpolitik dengan anak muda yang yang cenderung konsumtif dan bergairah.

Dua generasi ini berbeda dalam banyak hal. Generasi tua sangat berjiwa nasionalis dan cinta tanah air, sementara generasi millinneals sangat eksploratif dan memiliki masing-masing cara pandang yang berbeda. Seperti perbedaan cara pandang memberikan layanan birokrasi, orientasi terhadap teknologi serta disruption. Maka tak ayal, resistensi pun muncul dikalangan birokrat karena ketidakpahaman terhadap penggunaan teknologi secara utuh, sedangkan kaum muda sulit mengimplementasikan gagasan yang bersifat inovatif dalam mendigitalisasi konsep pelayanan.

Dunia aplikasi pada smartphone serta perkembangan dunia digital yang begitu pesat telah mengantarkan pada proses disruption pada titik puncak. Disruption jika terjemahkan dalam bahasa Indonesia merupakan gangguan atau kekacauan. Jika ditinjau dari kaca mata bisnis, disruption merupakan sebuah inovasi. Inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara yang baru. Ada enam perubahan dunia yang mendorong munculnya disruption, yaitu, teknologi, munculnya generasi millennials, kecepatan microprosessor, munculnya disruptive leader, perubahan cara menang dan terakhir Internet of things (Disruption, 2017).

Disruption menggantikan tekonologi lama yang serba fisik dengan digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru lebih efisien, juga lebih bermanfaat. Akan tetapi, disruption bisa menciptakan kehancuran besar kalau bangsa ini hanya menjadi penonton dan bisa juga menghasilkan kesejahteraan baru kalau negeri ini bisa memberikan ruang pada inovasi baru serta mendorong lahirnya disruptive innovation.

Generasi millennials gandrung akan teknologi, seperti apa yang dititahkan oleh pendiri Go-Jek, Nadiem Makarim bahwa teknologilah yang memberkan dampak besar di negeri ini, bukan policy. The Millennial Disruption Index merilis tanggapan kata generasi millennials terkait 5 tahun mendatang, 68 persen menyatakan dalam 5 tahun kedepan akses uang akan sangat berbeda, 70 persen menyatakan dalam 5 tahun ke depan, cara membayar akan sangat berbeda dengan yang sekarang dan 33 persen percaya mereka tak lagi membutuhkan bank (yang kita kenal) selama ini.

Peradaban generasi millennial telah mengubah landscape berbagai sektor, seperti model bisnis, bentuk dan jenis pekerjaan, serta profesi berubah sedemikian cepat yang tak terduga dan mengalami turbulensi. Data WEF (2016) mendedahkan bahwa pada tahun 2025 ada sekitar 35 persen jenis pekerjaan hari ini akan hilang dan 65 persen akan muncul jenis pekerjaan baru yang akan dilakoni generasi yang masih duduk di bangku SD saat ini. Jika data itu dijadikan asumsi dasar, maka saatnya mempersiapkan generasi yang baik dalam memasuki pencaturan peradaban millennials. Generasi ini digambarkan sebagai generasi cerdas teknologi (tech-savvy) yang terhubung (connected) dalam kehidupan global, generasi pengubah (disruptor).

Sebagai kesimpulan bahwa perubahan kali ini tak bisa ditepis. Kita perlu memandang dengan jernih dan memahami teori-teori perubahan serta teknologi agar yang terkena dampak disruption mampu berdamai dengan perubahan. Kebaruan harus digalakkan, sebab inovasi dan teknologi merupakan faktor pendukung kemajuan bangsa. (*)

*Arwin Sanjaya

Komentar Anda