Mengapa Warga Asing Tak Harus Pintar Berbahasa Indonesia?

Nurul Khairani

Nurul Khairani

Penulis
Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia UPI, Generasi ’90
Nurul Khairani

Latest posts by Nurul Khairani (see all)

Sumber Internet

Bestari.id — Salah satu aset bangsa yang patut dibanggakan adalah adanya bahasa persatuan yang dipatenkan di tengah masyarakat dengan jumlah bahasa daerah sebanyak suku dan wilayahnya. Indonesia sendiri dikenal sebagai negara yang sangat beragam suku dan daerah. Dalam buku Indonesia, Globalisasi, dan Global Village tercatat, ada 741 bahasa daerah yang ada di Indonesia. Kemudian angka tersebut berkembang pesat di tahun 2010.

Melalui data statistik dari Badan Pusat Statistik, tercatat sebanyak 1.211 bahasa daerah ada di Indonesia dengan 300 kelompok etnis dan 1.340 suku bangsa di Indonesia. Artinya, bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sangatlah diperlukan sebagai alat komunikasi antarsuku, antardaerah, bahkan antarbudaya.

Lalu, bagaimana kedudukan bahasa Indonesia di mata dunia?

Sejak tahun 2016 lalu, bahasa Indonesia sudah mulai dinobatkan sebagai bahasa persatuan di ASEAN. Tentu saja hal ini menjadi hal yang membanggakan bagi kita sebagai penutur asli bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia untuk penutur asing lalu mulai berkembang di Indonesia maupun di dunia. Hingga saat ini tercatat tidak kurang dari 64 institusi di universitas maupun lembaga kursus yang mengajarkan bahasa Indonesia untuk penutur asing. Bahkan, tahukah bahwa wikipedia Indonesia kini berada di perigkat 25 dari 250 wikipedia berbahasa asing di dunia? Di tingkat Asia, bahasa Indonesia berada di peringkat ketiga setelah bahasa Jepang dan Mandarin. Ini pencapaian yang cukup fantastis untuk menunjukkan bahwa bahasa Indonesia memiliki pamor dalam komunikasi antarbangsa di mata dunia.

Menangkap geliat bahasa Indonesia yang cukup progresif, pemangku kebijakan terkait, yakni Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud mulai mengencangkan rancangan kebijakannya terkait alat evaluasi bahasa Indonesia. Jika selama ini kita lebih familiar dengan tes bahasa, seperti TOEFL dan IELTS dalam berbagai kepentingan, seharusnya kita juga harus lebih mengenal alat evaluasi bahasa Indonesia yang dinamai Uji Kemahiran Bahasa Indonesia (UKBI).

UKBI menjadi program prioritas dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud selain Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) dan delaapan program lainnya. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Dadang Sunendar, M.Hum. selaku ketua Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud saat mengisi acara di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Di UPI, aturan mengenai keharusan mahasiswa mengikuti tes UKBI dengan skor minimal “Unggul “untuk jurusan selain Bahasa Indonesia dan skor “Sangat Unggul” untuk jurusan Bahasa Indonesia sebagai salah satu syarat dalam kelulusan sudah mulai diterapkan sejak awal semester dua di tahun 2017 ini. Aturan ini dalam rangka ikut mendukung program prioritas yang telah dicanangkan tersebut.

Ke depannya, diharapkan pemerintah lebih mapan dalam penetapan kebijakan UKBI ini. Kita tentu sudah harus banyak berbenah dan bersiap diri menerima jika memang benar bahasa Indonesia akan semakin diperhitungkan di mata Internasional. Bercermin dari evaluasi bahasa yang telah menduduki pamor tertinggi, seperti TOEFL (Test of English as a Foreign Language) yang merupakan hasil buatan Amerika dan IELTS (International English Language Testing System) yang lebih mengarah ke British English alias bahasa Inggris asli asal Inggris. Negara pemiliknya tentu sudah menyiapkan kebijakan dan sistem yang mapan untuk bisa mempertahankan eksistensinya sampai hari ini.

Jika untuk masuk ke negara-negara persemakmuran (Inggris, Australia, Selandia Baru, dsb.) dan negara Eropa menuntut nilai IELTS minimal 5,5 untuk diterima menjadi mahasiswa yang belajar di negara tersebut, mengapa tidak Indonesia juga menuntut kebijakan yang sama terkait skor minimal UKBI harus dimiliki orang asing untuk masuk ke Indonesia? (*)

*Penulis: Nurul Khairani (Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia UPI, Generasi ’90)

Komentar Anda