Mengulas Makna Kawin Lari dalam Budaya Bugis-Makassar

Bestari

Bestari

Tim Redaksi Bestari.ID
Arif Menginspirasi
Bestari

Latest posts by Bestari (see all)

Bestari.id – Seperti saya sering katakan bahwa kebudayaan jangan dilihat dari kacamata hitam putih melulu, setiap kebudayaan selalu beradaptasi dan berdialog dengan zamannya. Termasuk budaya kawin lari. Bagi masyarakat Bugis-Makassar, kawin lari merupakan peristiwa yang sangat memalukan karena bersangkutpaut dengan siri‘, malu, dan aib bagi keluarga dan menjadi tanggungan dan beban keluarga sepanjang hidupnya bahkan dari generasi ke generasi.

Dalam tradisi Bugis, kawin lari diidentik dengan kematian, tapi mati bukan dalam arti dicari lalu dibunuh tapi dipaoppangi tana artinya telah ditelungkupi/ditutup dengan tanah. Jadi pelaku dianggap telah mati, tidak ada negosiasi, tidak ada rekonsiliasi. Seumur hidup bahkan hingga beberapa generasi tidak akan diterima lagi untuk kembali ke keluarganya, selamanya dan seterusnya. Efeknya ini luar biasa, segala macam tindakan preventif dilakukan sehingga agak jarang terjadi. Biasanya pelaku pergi merantau dan membuang diri dan tidak akan kembali lg seumur hidup sampai cucu-cucunya.

Sementara itu,di kalangan suku Makassar “kawin lari” terdiri dari tiga macam yakni:
1) Silariang: Kedua belah pihak saling mencintai dan saling sepakat utk kawin Lari. Kata “si” adalah resiprokal yang saling sepakat.
2) Nilariang: dibawa lari, pihak perempuan dipaksa oleh laki-laki untuk dibawa kawin lari,
2) Erang Kale: wanita mendatangi laki-laki untuk dikawini (bahasa dan peristiwa kebudayaan ini juga memperlihatkan bahwa budaya org makassar tidak bias jender).

Ketiga peristiwa ini adalah siri‘ yang mati taruhannya. Di kalangan suku Makassar pelakunya dicari, diburu, sampai kapan pun. Silariang dimaknai bahwa keduanya harus dibunuh, sementara Nilariang laki-lakinya yang akan dibunuh, dan Erang Kale, perempuanlah yang akan dibunuh. Tapi ini jangan diartikan secara harfiah, karena juga ada adaptasi dan dialog dengan zamannya.Biasanya pelaku juga pergi jauh yang sulit ditemukan atau dengan cara merantau.

Setelah Islam diterima sebagai bagian dari undang-undang pangadakkang (Makassar) atau pangngaderreng (Bugis) maka imam mengambil alih penyelamatan si pelaku kawin lari. Itu yg disebut abballaq imang yang artinya berumah imam. Jadi si pelaku kawin lari ke rumah imam, dan di rumah imam mereka selamat dari pemburuan keluarga dan begitu dihargainya otoritas imam, sehingga konon dengan hanya melemparkan tusuk kondenya perempuan atau passapu bagi laki-laki di rumah atau di pagar rumah. Imam si pelaku tidak boleh lagi dibunuh oleh pemburu karena sudah menjadi wewenang dan kekuasaan imam.

Di rumah imam mereka dipisahkan (untuk tidak berzina), lalu imam bernegosiasi dengan pihak keluarga untuk meminta izin perwalian utk menikahkannya, kalau tidak mendapat izin maka dinikahkan dengan memakai wali Hakim. Setelah itu mereka disuruh pergi jauh.

Sewaktu-waktu pelaku kawin lari ini boleh kembali ke keluarga yg disebut abbajiq yang arti leksikalnya kembali baik, tapi maksudnya rekonsiliasi (meminjam istilah Chabot). Abbajiq ini dimediasi oleh keluarga kedua belah pihak dengan sejumlah persyaratan dan tebusan yang harus dilakukan. (*)

Penulis: Nurhayati Rahman
Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UNHAS

Komentar Anda