Merdeka dengan Menjadi Diri Sendiri

Bestari

Bestari

Tim Redaksi Bestari.ID
Arif Menginspirasi
Bestari

Latest posts by Bestari (see all)

Kita bertumbuh dan membangun jati diri (Ilustrasi: Int)

Bestari.id – To be your self, menjadi diri sendiri adalah wujud dari kemerdekaan eksistensial. Tapi itu tak mudah. Arus kencang dari banyak arah seringkali begitu kuat mendesakmu menjadi ‘the others‘, menjadi bukan dirimu lagi.

Hidup kita memang adalah jejalin dari hubungan demi hubungan. Dari dan di dalam hubungan-hubungan itu. Tapi di antara jalinan hubungan itu, kita bisa menjumpai sosok-sosok bertipologi penguasa hubungan. Mereka ini akan begitu bergairah memanfaatkan suatu hubungan sebagai kesempatan mewujudkan ‘power-need‘, hasrat kuat dari pusat ego untuk berkuasa dan menguasai.

Ada yang mungkin hanya mendesakmu menjadi pendengar pasif yang tak boleh membantah. Ada sekedar menginginkanmu menjadi keranjang penampung dari luapan emosi, caci-maki, dan kemarahnnya. Ada yang hanya mengancanmu agar tidak berbuat macam-macam yang tak sesuai seleranya. Tapi mungkin juga ada yang akan memaksamu untuk memasang cangkrang ideologi dari mazhab mereka, agar tampilan dan cara berpikirmu sesuai betul format yang ada di otak mereka.

Para penguasa hubungan bisa ada dalam berbagai bentuk hubungan. Bisa bercokol membangun relasi-kekuasaan dalam hubungan muda-muda, suami-isteri, orangtua-anak, guru-murid, atasan-bawahan, atau bahkan dalam pertemanan biasa.

Tapi itu semua hanya godaan untuk menguji keseriusanmu menjadi diri sendiri. Itu ibarat arus sungai yang memang harus dilewati. Kita boleh mencemplung dan menyelam, menjadi basah kuyup oleh warna dan aroma airnya. Itu hanya bagian dari strategi meng-ADA dalam dinamika dunia, ‘being-in-the-world.’ Tapi tak perlu tenggelam dan menggelepar dalam arusnya.

Inilah ujiannya: “dengarkan secara cermat apa yang diinginkan, lalu putuskan sendiri apa yang menurutmu terbaik….”

Ini tak selalu mampu kita lakukan. Dan capaian atas ujian ini menjadi alat ukur untuk memastikan bahwa secara eksistensial kita telah menjadi pribadi merdeka atau sebaliknya pribadi terjajah (*)

Penulis: Abdullah Pandang (Dosen Universitas Negeri Makassar)

Komentar Anda