Patriarki dan Bisikan dari Timur

Andini Riaswaty

Andini Riaswaty

Penulis
Penikmat, ciptaan Tuhan, dan pecintamu.
Andini Riaswaty

Latest posts by Andini Riaswaty (see all)

Perempuan dan budaya patriarki (Ilustrasi: Int)

Bestari.id-Permasalahan gender menjadi persepsi masyarakat yang sudah mengakar turun-temurun. Pensubordinasian terhadap perempuan yang menempatkannya di strukturpaling bawah. Perempuan menjadi objek penindasan yang paling menyiksa dari lahir hingga batin. Bahkan, tidak jarang menjadikan perempuan sebagai aib. Sangat sulit untuk menempatkan perempuan pada posisi setingkat diatas laki-laki, sederajat pun tak kalah sulitnya. Anggapan bahwa kaum laki-laki memiliki pemikiran yang jauh lebih berguna dan
bernilai tinggi terjadi secara masif.

Acap kali, laki-laki dianggap lebih layak menempuh pendidikan yang jauh lebih tinggi ketimbang perempuan. Ironinya lagi, tidak sedikit saat ini perempuan hanya dianggap sebuah selaput dara yang dengan mudah disobek. Sedangkan pria dianggap sebagai bola pingpong yang terbang dan jatuh tak akan retak atau juga sobek. Hal tersebut, seakan membuktikan bahwa secara lahiriah laki-laki hadir sebagai pelaku hina untuk kaum perempuan.

Suci atau hina memang urusan Tuhan, bahkan manusia tidak berhak menilai kesuciannya. Harga diri menjadi pertarungan suci bagi perempuan. Di tengah maraknya pergaulan bebas, kaum perempuan kerap kali menjadi buah bbir. Oleh karena itu, tidak sedikit perempuan dimasukkan ke dalam penjara suci. Langkah tersebut dianggap sebagai solusi untuk menghindarkan si buah hatinya dari kehinaan. Sebab, hina untuk perempuan layaknya membalikkan telapak tangan. Perempuan seakan berada dalam persimpangan, antara menjadi mahluk suci atau hina. Perempuan yang mengawali pertemanan dengan laki-laki kerap dianggap ‘gampangan’. Perempuan yang bergandengan dikhalayak dianggap murahan.

Perempuan yang mengila-gilai kaum laki-laki hingga dengan polosnya menyerahkan kehormatannya disebut Jalang. Seolah segala keburukan bermuara dari perempuan. Lalu bagaimana dengan laki-laki? Yang menjadikan perempuan hina yang sebenarnya mereka tidak dapatkan dengan sendirinya, bahkan, laki-laki menjadi aktor utama bagi perempuan untuk mendapatkan label tersebut dan tidak jarang menjadi dalang dibalik segalanya. Lantas apakah lelaki berhak menilai seorang perempuan hanya karena persoalan ‘keperawanannya’?

Seyogyanya, seorang lelaki menilai kesucian itu ketika perempuan merelakan segalanya hanya untuk membuatnya menetap . akan tetapi, kekinian seorang lelaki menganggap bahwa hal tersebut makanan yang nikmat. Maka tidak salah kalau perempuan adalah makhluk yang suci akan dosa para lelaki. Jika seluruh penjuru dunia bersorak dan menganggap perempuan yang rela kehilangan keperawanannya dengan cuma-cuma itu hina, lantas mengapa Tuhan menciptakan selaput dara untuk perempuan dan malah menjadi petaka jika perihal itu dinilai sebagai harga diri.

Lumrah bila perempuan hanya dinilai dari sisi itu. Pandangan ini santer merusak posisi perempuan dan laki-laki. Bahkan, hal inilah yang menjadi pemantik ketimpangan kedua ciptaan Tuhan sepanjang masa. Sebab, hal ini adalah kesalahan yang menjadi nikmat atau seolah surga bagi mereka turunan Adam. Alquran sebagai pedoman hidup orang Islam sebenarnya telah menjelaskan perihal gender. Dalam QS An-Nisa disebutkan bahwa perempuan adalah makhluk yang mulia dan harus dihormati. Bukan mahluk yang lemah dan harus ditindas sedemikian rupa.

Berdasarkan hal tersebut, maka seorang perempuan bukannya meratapi posisinya objek penindasan, tapi bagaimana berpikir untuk menjadi pemimpin dan menegakkan kesetaraan gender. Andrea Hirata dalam bukunya sang pemimpi mengatakan bahwa kalau kau tidak pernah bermimpi, orang-orang seperti kita akan mati. Lanjutnya, bermimpilah, kelak Tuhan akan memeluk mimpi- mimpimu. (*)

Penulis: Andini Riaswaty (Mahasiswa UNHAS 2016)

Komentar Anda