Payung Teduh, Raisa, dan Tafsir Lagu Akad yang Tidak Teduh

Arlin

Arlin

Penulis
Kopi, buku, dan kamu

Akad – artwork (Ilustrasi: Int)

Betari.id– Payung Teduh melalui lagu Akad seolah menjadi simbol kebahagiaan dan kebersamaan saat ini. Bukan hanya karena sekarang musim nikah yang di dalamnya ada proses akad, tetapi payung teduh memang dikenal sebagai grup musik yang mampu menciptakan lirik yang dan musik “sihir” kepada para penikmatnya. Alunan-alunan romantis merupakan ciri utama dalam karaktersitik lagu-lagu Payung Teduh.

Lagu Akad, saat ini mendayu-dayu di ruang mana pun. Tak peduli terik mentari atau hujan, gelap malam atau pagi yang cerah, Akad selalu menjadi pilihan lagu untuk memanjakan penikmatnya. Lagu ini banyak dinikmati oleh mereka yang sedang dimabuk asmara. Mereka mendengarkannya sambil membayangkan berada di suatu momen bahagia yang mereka sebut “akad nikah”.

Setelah ikut mendegar dan meresapi liriknya baris demi baris, akhirnya saya justru merasakan perasaan yang lain, perasaan yang berbeda pada umumnya. Ketika melihat sebuah pasangan muda menikmati lagu akad sambil terseyum girang, entah mengapa saya beranggapan bahwa mereka sedang salah ekpresi dan tidak sejalan dengan apa yang saya rasakan saat mendengar lagu Akad.

Ada banyak alasan yang seharusnya membuat lagu ini tidak membuat senyum di bibir, salah satunya adalah, lagu ini tentang pernikahan, dan apakah menikah, membangun rumah tangga, menyatukan dua buah keluarga, baik secara identitas maupun secara tradisi itu sesuatu yang mudah? Kupikir itu sesuatu yang perlu dipikirkan kembali. Tetapi bagi mereka yang sudah siap, maka silakan lanjutkan.

Hal lain yang saya temukan dalam lagu Akad adalah “perpisahan”. Semakin saya mendengarkan lagu Akad, semakin kental aroma perpisahan yang menyeruap ke dalam dada.  Memang benar bahwa lagu ini dibuka dengan lirik yang bahagia

Betapa bahagianya hatiku saat
Ku duduk berdua denganmu
Berjalan bersamamu
Menarilah denganku

Lirik pertama sungguhlah bahagia, berjalan, dan bersama seseorang yang dikasihi tentunya sebuah kebahagian yang tiada tara, tetapi pada akhirnya kita tidak harus terjebak pada lirik di bait pertama ini untuk tetap bahagia, karena lirik selanjutnya justru menceritakan tentang perpisahan.

Namun bila hari ini adalah yang terakhir
Tapi ku tetap bahagia
Selalu kusyukuri
Begitulah adanya

Lirik ini tentang perpisahan dan tak ada perpisahan yang tak menyedihkan, seperti kata Seno Gumira Ajidarma bahwa mengapa perpisahan itu menyedihkan, karena perpisahan itu ibarat sebuah kematian yang kecil. Akan tetapi lirik “/selalu kusyukuri/begitulah adanya/” adalah anti klimaks tentang kesedihan yang ada dalam perpisahan ketika seseorang bisa “ikhlas” untuk menerima suatu perpisahan. Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah kita bisa ikhlas seperti “Payung Teduh”? Sampai kapan pun, menerima perpisahan dengan ikhlas, hanya ada 1 dari sepersejuta orang.

Fenomena yang juga menarik untuk dicermati dari lagu Akad adalah momentum dalam peluncurannya yang kemudian disusul dengan pernikahan Raisa dan Hamish yang saking fenomenalnya bahkan  pernah disinggung dalam sambutan Presiden Joko Widodo. Entah sebuah kebetulan, tetapi ada relasi yang jelas dalam lirik lagu Akad dengan fenomena Raisa.

Dan bila kau ingin sendiri
Cepat cepatlah sampaikan kepadaku
Agar ku tak berharap
Dan buat kau bersedih

Lirik ini seolah mewakili kisah Raisa dan mantan kekasihnya yang telah menjalani hubungan dalm waktu lama, tetapi pada akhirnya terpisah karena ada pihak yang lebih serius. Hal seperti ini tentunya tidak layak untuk dijadikan alasan bahagia bagi mereka yang sedang “sayang-sayangnya” dengan kekasihnya, karena jika Anda hanya terus dalam relasi “pacaran” maka bersiaplah untuk disalip oleh orang yang lebih serius. Jadi, mestinya ketika sedang bersama kekasih, sambil mendengarkan lagu Akad, anda harus waspada, mungkin pasangan anda sudah siap menuju jenjang yang lebih serius, dan sungguh sial jika anda belum siap, kemudian ada orang lain yang lebih siap. Karena yang siap, akan mengatakan seperti pada akhir lagu Akad.

Sudilah kau menjadi temanku
Sudilah kau menjadi istriku

Tafsir akan sebuah teks tentunya sangat bergantung kepada si penafsir. Jika suatu teks menimbulkan tafsir yang berbeda-beda, maka itu sesuatu yang wajar-wajar saja sebagai dinamika pembacaan terhadap hidup. Maka dari itu, lagu Akad dari Payung teduh ini bagi saya bukanlah lagu yang bahagia untuk dinikmati untuk seseorang yang masih senang dalam zona “pacaran” karena lagu ini lebih mengisaratkan perpisahan dan hanya berpihak kepada mereka yang serius ke jenjang pernikahan. Maka, waspadalah ketika pasangan Anda suka mendengarkan lagu ini disaat anda belum siap untuk melangkah lebih jauh, karena perpisahan itu, apapun namanya tetaplah menyakitkan. Selain itu, cobalah ingat kata Pablo Neruda “Love is so short, forgetting is so long”. Hindarilah perpisahan, karena mengabai ingatan itu melelahkan. (*)

Komentar Anda