Pengantin Literasi

Djoko

Djoko

Penulis
Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Bestari.idTitimangsa sebelum 18 november 1945:

Lelaki pendiam yang pemberani itu, konon pernah berujar pada suatu waktu. “Selama bersama buku, kalian boleh memenjarakanku. Terungku badan tak berarti buatku. Di mana saja tak soal buatku, karena dengan buku, aku merasa bebas dari belenggu: aku mengembara bebas laksana cahaya rindu”. Maka lelaki santun yang tenang itu, memaklumkan ikrar menyentak kalbu. “Tak bakal kunikahi jodoh perempuanku, sebelum merdeka bangsaku”. Maka berjuta huruf bersepadu menyerbu. Para kolonialis cemas, berputar akal, lalu mencari kubu. Lelaki tenang itu terus mengacungkan gentar lewat buku-buku.

Titimangsa saat 18 november 1945:

Di Megamendung kesejukan selalu mencinta, di sebuah villa yang amat asri suasana. Lelaki rapi yang membenci kerakusan manusia, senantiasa amanah memegang puncak kuasa, bermuka-muka bersama seorang dara jelita. “Hai Cinta, kini kunikahi kau dengan segenap jiwa, dan kuserahkan kekasihku paling utama. Bagimu semata. Buku bertajuk Alam Pikiran Yunani yang kusurat saat diterungku Belanda, di Digul yang jauh dan menjazadkan siapa saja, sebagai mahar perkawinan kita”.

Sang dara jelita cuma mengaruskan diam beruntai sejuta bahasa.

Titimangsa setelah 18 november 1945:

Lelaki berpantang korupsi yang sederhana itu, berlayar mengarungi luas waktu, bersama pasangan abadi jiwa. “Lihatlah huruf-huruf bercahaya membawa kita, kepada jiwa bahagia, kendati aku tak pegang kuasa!”, ujarnya sembari membelai lembut kekasih kehidupan dunia. Lalu keduanya berjalan meniti huruf-huruf yang mencipta jalan bahagia: “Hai…kita berjalan menuju sabda-sabda baka ternyata, adinda!”, pekik tertahannya. “Hai….kita sedang menuju hulu segala bahagia!”, sambut dara jelita.(*)

Komentar Anda