Ramai-ramai Berhijrah ke Medsos

Bestari

Bestari

Tim Redaksi Bestari.ID
Arif Menginspirasi
Bestari

Latest posts by Bestari (see all)

Ilsutrasi (sumber: Int)

Bestari.id-Kata hijrah mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita. Kata hijrah lagi ngetrend di kalangan warganet yang banyak dipopulerkan oleh sebagian dari penggunanya. Kalau merujuk dari sejarah, jauh sebelum kata hijrah lagi trend di media sosial, kata ini sudah sering di gunakan. Ada peristiwa penting dalam sejarah mengenai kata hijrah yakni, pertama, hijrah beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW dari Mekkah Ke Habasyah yang sekarang menjadi Ethiopia, dan yang kedua, proses perpindahan rasul Allah yang bernama Muhammad Ibnu Abdullah dari Koya Mekkah ke Negeri Syam yang sekarang dikenal dengan kota Madinah sebagai akibat dari adanya tekanan dari kaum Quraisy yang tidak menyukai dakwah dan ajaran yang disampaikan oleh beliau.

Secara etimologi, hijrah sendiri berasal dari Bahasa Arab yang asal katanya hajara yang berarti memutuskan hubungan; pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Menurut beberapa ulama, kata hijrah ada yang mengartikan sebagai keluar dari jalan kesesatan menuju jalan kebenaran. Biasa kita sebut dengan minazzulumati ilannur. Kalau hijrah diartikan adalah proses berpindahnya seseorang dari suatu tempat ke tempat yang lain atau dari buruk ke hal yang baik. Maka, orang yang berpindah dari hal baik menuju hal yang buruk bisa juga disebut hijrah (minannuri ilazzulumat ).

Tulisan ini ada karena banyaknya nitizen atau pun teman di dunia maya yang sering terlihat menggunakan kata hijrah sebagai captionnya. Dengan foto yang memakai simbol keagamaan yakni jilbab yang besar dan sampai ada yang mengenakan burqoh dan niqob. Entah mereka paham atau tidak entitas kata itu hijrah itu sendiri. Wallahu A’lam. Tetapi semoga ada yang memang benar-benar memahami makna kata hijrah.

Media sosial (medsos) sebagai ajang aktualisasi diri memang punya peranan yang sangat besar dalam mempengaruhi kehidupan masyarakat. Tidak tanggung-tanggung, bisa menjadi pedoman hidup masyarakat dan bisa jadi menjadi tuhan baru di Masyarakat. Medsos, kemudian menjelma sebagai kawan dari manusia kini. Tidak dikatakan gaul ketika tidak menggunakan salah satu aplikasinya, sehingga seolah berupa sesuatu hal yang wajib dimiliki. Medsos bisa merekayasa kehidupan masyarakat.

Noam Chomsky, ahli linguistik pernah mengatakan bahwa dunia sekarang telah dikuasai oleh media. Kita memandang dunia dari media. Terkadang kita merasa kita sekarang mengambil keputusan sendiri, padahal keputusan itu sendiri dipengaruhi oleh media yang kita baca, kita lihat, dan kita ikut. Pengaruhnya  yang paling nampak adalah trend penampilan.

Orang yang mengatakan dirinya berhijrah di medsos dengan fashion yang sangat mudah dikenali yakni menggunakan simbol keagamaan. Bisa jadi adalah efek dari pengaruh platform berbagai jenis medsos yang dimaksud oleh Chomsky. Sebijaknya, medsos itu tidak pernah lepas dari hidup kita, selayaknya dijadikan sebagai proses untuk menyaring setiap informasi yang diperoleh. Apa yang kita lihat dan kita amati boleh jadi hanya kamuflase yang kebenarannya belum valid.

Nicolas Scarr menyebutkan orang yang menelan secara langsung informasi yang dilihat dan di dengarnya tanpa telaah dan pengetahuan, sebagai orang-orang yang dangkal “ The Shallows’. Jika sudah demikian apalah guna kita sebagai manusia yang dikarunia akal untuk berpikir, namun tidak mempergunakannya secara baik. Maka ada baiknya kita memfilter apa yang kita lihat dan kita dengar terlebih dahulu. (*)

Penulis: Mujibur Rahman (Mahasiswa Pascasarjana UNHAS)

Komentar Anda