Republik Horni

Febye Triadi

Febye Triadi

Penulis
Penyuka Senja, Rintik dan Desah Syahdu
Febye Triadi

Latest posts by Febye Triadi (see all)

Ilustrasi (Foto:Int)

Bestari.id – Horni, merupakan sebuah kosa kata yang mencoba untuk disopankan dari kata rangsang. Dengan arti sederhananya adalah sesuatu atau rasa yang dapat diinterpretasikan melalui indra. Dalam tulisan ini, nantinya penulis akan coba membahas tentang pendidikan seks yang ada di negeri kita. Ada banyak pertanyaan-pertanyaan dipastikan akan muncul ketika kita berbincang tentang seksualitas. Salah satunya adalah seberapa jauh pendidikan seks yang anda dapatkan? Entah itu dalam dunia pendidikan, ataupun keluarga.

Mari kita telaah lebih jauh lagi. Sebelumnya, telah banyak tulisan yang membahas masalah seksualitas, tapi yang kemudian hadir dalam tulisan itu adalah bagaimana seksualitas dipandang sebagai hal yang tabu, jorok bahkan sedikit menjijikkan. Di dalam beberapa tulisan, seksulitas diartikan sebagai sesuatu yang negatif dan menjadi hal yang private, hanya dibahas bagi kalangan tertentu saja. Baik, olehnya itu pertama mari kita mengambil tema besar yang digandrungi para remaja, mengenai cinta dan keintiman. Apakah cinta selalu membutuhkan keintiman? Ataukah malah keduanya saling memerlukan ?. Sangat jarang dari kita yang mendapat nasehat atau pendidikan yang mencoba blak-blakan tapi terarah tentang keduanya. Misalnya, dalam umur sekian kamu akan merasakan ketertarikan, ingin tampil beda, cantik dan terlihat menawan di depan lawan jenis.

Anehnya, ini hanya menjadi pelajaran umum bagi semua kalangan. Tidak kemudian mencoba untuk memberikan pemahaman yang lebih, terkait mengapa semua itu bisa terjadi. Kita hanya diajari mengenai batasan-batasan dalam pergaulan masa remaja. Sedangkan yang terjadi saat ini adalah, ketika zaman semakin menua maka secara tidak sadar, remaja-remaja khususnya perempuan, masa atau waktu untuk merasakan menstruasi semakin cepat.

Sementara di sisi lain, negara kita diatur dalam undang-undang bahwa batas usia pernikahan adalah 18 tahun keatas. Nah,pemerintah haruslah melek oleh kondisi kekinian dengan arus globalisasi yang semakin berkembang, ditambah lagi konstruksi tubuh remaja yang secara tidak langsung membutuhkan sebuah pengakuan tentang seksualitas. Idealnya, batas pernikahan 18 tahun harus segera diturunkan untuk merespon fenomena kekinian yang terjadi.

Mengapa kemudian dalam kalangan remaja sering terjadi seks bebas, karena dalam tumbuh kembangnya lebih dulu merasakan ransangan dalam tubuh secara alami dan nauliriah. Sedangkan di lain sisi aturan umur dan norma menjadi momok besar dari naluriah tadi yang juga ingin membutuhkan pengakuan. Kemudian yang selalu menjadi objek seks dalam kehidupan sehari adalah tubuh perempuan, hal berbeda dengan tubuh laki-laki yang anseksual. Karena memang konstruk dalam kebudayaan kita menjadikan tubuh perempuan sebagai objek dari seks, tapi bukan berarti tubuh laki-laki tidak dapat menjadi objek, kita lagi-lagi terbentur dalam konstruk pemikiran tentang seks, sehingga yang harus tampil seksi adalah perempuan.

Seharusnya pendidikan seks yang diawali dengan cinta dan keintiman, memiliki wacana yang adil. Misalnya ada dua sejoli muda-mudi yang keluar malam, sampai saat ini kita masih terkesan untuk menasehati perempuan “hati-hati keluar malam, nanti jadinya bisa berbadan dua” ataupun dengan kata atau bahkan dengan kode lain yang intinya melarang perempuan untuk berlaku over. Tapi kita jarang sekali mendapatkan pihak laki-laki yang diberikan kode atau bahkan nasehat. “jangan macam-macam, nanti kasihan loh perempuannya, nolaknya gimana” atau dengan padanan kata yang lebih intim lagi. Ketika kode atau nasihat seperti ini diberkan kepada laki-laki, inikan sama saja mengakui status seksualitas dari kedua belah pihak. Tidak kemudian perempuan saja yang selalu mejadi bahan kesalahan dan segala dosa. Tapi lebih pada mengakui seksualitas dari kedua belah pihak.

Yang lebih mirisnya lagi, kelakuan seks remaja kita di Indonesia itu terkesan latah atau lebih dikenal dengan kata spaontan, dan ini sangat mengerikan. Misalkan, dalam suasana yang remang-remang, sunyi, cuaca dingin, lagu melow, tiba-tiba saja saling pandang dan ada gairah rasa ingin lebih dari yang dia miliki. Yang awalnya hanya pegangan tangan, ciuman smpai berani merabah, saling melepaskan pakaian satu persatu, hingga akhirnya sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Ini adalah tipikal kelakuan remaja kita. Mereka cuma bisa bilang, “habisnya terbawah suasana, dan lagunya juga romantis, terus kejadian deh” hal seperti inilah membuat sebagian orang sebagai pemerhati seks juga bilang, “yah makannya kalau ngeseks jangan pakai lagu dong, tapi kondom”. Tapi seberapa terbukanya kita memandang kasus ini ?

Jawabannya sudah tentu tidak, bukan tidak 100%. Tapi seakan malu-malu tapi mau. Kita bukan masih tertutup dalam memandang hal-hal ini, tapi kekurangan siasah dalam berterus terang. kita seakan lebih malu kalau membicarakan hubungan seks terlebih dahulu. Misal “sayang gimana nih hubungan kita, saya sudah tidak bisa tahan kayaknya kalau kayak gini” atau bahkan yang lebih ekstrimnya lagi “sayang, ngeseks di mana kita hari ini? mau cari kamar, hotel atau di kosanku. Sayang kita pakai kondom apa, beli dimana, rasa apa?” nah, komunikasi-komunikasi seperti ini yang jarang terjadi di antara dua remaja, bahkan kalau terjadipun pasti dianggap binal, dipandang tabu dan menjijikkan, seperti yang saya ungkapkan diawal-awal tulisan ini.

Akan tetapi, melalui tulisan ini, saya mencoba untuk menggugah, menampar, hingga mencubit kesadaran, bahwa kita ada di zaman di mana sisa untuk mengungkapkan sesuatu yang jorok dan binal harus segera dipikirkan.  Bukan malah menganggap sesuatu itu sebagai hal yang tabu, melainkan menjadikannya sebagai hal yang perlu untuk dipikirkan secara bersama. Terima Kasih..

Penulis: Febye Triadi (Mahasiswa Magister Ilmu Antropologi UGM)

Komentar Anda