Sandal Jepit dan Jomblo

Bestari

Bestari

Tim Redaksi Bestari.ID
Arif Menginspirasi
Bestari

Latest posts by Bestari (see all)

Kamu Masih Jomblo?

Bestari.id Semua hasil pemikiran manusia adalah budaya. Budaya kemudian melahirkan keluhuran berupa tradisi. Tetapi, terkadang ada tradisi tidak terwadahi oleh hukum dan aturan. Hal ini mengharuskan manusia meninggalkan tradisi demi sebuah aturan yang dinilai lebih baik. Seperti sebuah pengalaman yang terjadi saat menjadi mahasiswa. Saat itu saya melihat seorang yang terpaksa menutup pintu dari luar karena memakai sendal jepit ke dalam kampus saat proses perkuliahan. Itu karena perintah dosen.

Ada yang aneh dalam sistem di kampus saat ini. Mahasiswa dianggap tidak etis menggunakan sandal jepit ke kampus atau lebih tepatnya dilarang. Kampus menjadi arena wajib penggunaan sepatu. Meski saya yakin, jika pada malam hari, saat gelap gulita mencekam, seseorang masuk ke ruang dosen, tata usaha, kantor jurusan, maupun fakultas dengan tujuan mengambil sandal jepit, maka di imajinasiku, seseorang tersebut bisa mendapatkan ratusan pasang sandal jepit milik pegawai ataupun dosen yang ada bawah meja mereka.

Pada dasarnya, dosen maupun mahasiswa sepakat bahwa memakai sepatu seharian merupakan tindakan yang menjenuhkan. Kaki akan terasa pegal serasa  ada api yang  membakar telapak kaki, terlebih lagi jika menggunakan high heels, pasti terasa sangat melelahkan. Maka tak heran, jika dosen-dosen dan pegawai tata usaha menyediakan sepasang sandal jepit di bawah meja yang digunakan mondar-mandir dari ruang satu ke ruang yang lain untuk memperlancar aktivitas di kantor.

Sebenarnya, jika kita memutar waktu sedikit ke belakang, maka kita akan menyadari bahwa apabila dibandingkan dengan sepatu, sandal jepit dan semacamnya adalah warisan nenek moyang kita yang berasal dari keluarga petani. Sedangkan sepatu adalah tradisi yang dibawa oleh para penjajah saat menjajah bangsa ini. Jadi, menurut kesimpulan “dungu’ saya, aturan tentang penggunaan sepatu dalam institusi resmi merupakan warisan kolonial. Padahal, terlalu sulit untuk menemukan korelasi antara “kecerdasan” seseorang dengan sepatu yang dipakainya.

Kita pasti akan bertanya-tanya, mengapa kita harus memakai sepatu jika lebih nyaman memakai sandal? Bukanka yang paling penting di dunia ini adalah rasa nyaman, sama seperti sebuah hubungan. (Mereka yang jomblo pasti tidak akan mengerti kalimat yang terakhir ini). Bagi kaum jomblo jika tak tau bagaimana rasanya rasa nyaman,  maka silakan memakai sandal jepit dan membandingkannya dengan sepatu. Saya yakin anda akan lebih memilih memakai sandal jepit, sama seperti memilih sebuah kekasih, tetap mengutamakan yang memberikan rasa nyaman. (*)

 

Penulis: Arlin (Ketua Maperwa FBS UNM 2015-2016)

Komentar Anda