Siri’ Napacce dalam Masyarakat Modern

Bestari

Bestari

Tim Redaksi Bestari.ID
Arif Menginspirasi
Bestari

Latest posts by Bestari (see all)

Sigajang Laleng Lipa (Foto: Int)

Bestari.id – Ukuran paling tinggi tentang adab seseorang itu, ia wajib menaruh perasan malu akan dirinya terlebih dahulu (Plato).Konstruksi ide yang disampaikan oleh Plato di atas dapat dimaknai, bahwa manusia yang beradab adalah manusia yang memiliki rasa malu ‘siri’ sebagai jati dirinya sehingga menjadikannya seseorang yang beritegritas tinggi.

Ideologi siri napacce telah menjadi identitas diri masyarakat Bugis-Makassar. Siri’ adalah rasa malu yang mengacu pada harga diri. Sedangkan pacce adalah rasa belas kasihan sebagai bentuk empati terhadap sesama manusia. Ideologi inilah yang menjadi pegangan masyarakat Bugis-Makassar di manapun mereka menjejalkan diri. Siri’ napacce telah menjadi bagian dari kebudayaan. Koentjaraningrat (Guru Besar Universitas Indonesia dan Gadjah Mada) telah mempertegas hal tersebut, bahwa siri’ napacce termasuk wujud kebudayaan yang ideal sebagai tata kelakuan yang berfungsi mengatur, mengendalikan, memberi arah kepada perbuatan manusia dalam masyarakat.

Namun, ketika kita melihat kondisi masyarakat saat ini timbul tanda tanya besar, apakah nilai-nilai budaya siri’ napacce masih dipegang kuat oleh masyarakat Bugis-Makassar sebagai masyarakat modern. Karena, beberapa remaja kita tidak menonjolkan budaya siri’ dalam perilakunya. Mereka terkadang mempertontonkan tindakan amoral seperti perilaku seks bebas di tempat umum dan melalui media sosial. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Civic Institute bersama dengan Keluarga Mahasiswa Sosiologi Fisip Universitas Hasanuddin pada tahun 2016 menyatakan, bahwa 33% mahasiswa di Makassar pernah berhubungan seks. Data tersebut telah menjadi bukti bahwa nilai siri’ telah hilang dalam diri remaja tersebut.

Ada beberapa hal yang membuat ideologi siri’ napacce hilang dalam diri masyarakat Bugis-Makassar, di antaranya, pengaruh budaya barat yang bersifat liberal dan kemajuan teknologi. Kedua faktor ini dapat mengikis nilai-nilai siri’ napacce dalam kehidupan sosial masyarakat. Hingga budaya masyarakat Bugis-Makassar cukup dipertanyakan oleh komunitas Ada beberapa hal yang membuat ideologi siri’ napacce hilang dalam diri masyarakat Bugis-Makassar, di antaranya, pengaruh budaya barat yang bersifat liberal dan kemajuan teknologi. Kedua faktor ini dapat mengikis nilai-nilai siri’ napacce dalam kehidupan sosial masyarakat. Hingga budaya masyarakat Bugis-Makassar cukup dipertanyakan oleh komunitas

Padahal, ideologi siri’ napacce dapat membuat manusia menjadi pribadi yang berintegritas. Ideologi ini dapat menguatkan mentalitas seseorang dalam menghadapi berbagai macam hal. Ketika seseorang kukuh menjaga siri’ dalam dirinya maka dia akan selalu mempertahankan harga dirinya. Kehilangan harga diri menjadikan nyawa sebagai taruhannya. Sehingga, pribadi seperti ini memiliki komitmen dan pendirian yang kuat.

Kemudian, rasa penghormatan dirinya kepada orang lain membuatnya memiliki rasa pacce melalui sikap empati dan simpatinya yang tinggi. Budaya siri’ napacce dapat menjadi kontrol sosial di dalam masyarakat Bugis-Makassar. Ideologi siri’ dapat diterapkan dalam berbagai hal, seperti guru dan siswa di lingkup pendidikan sekolah. Guru sebagai tenaga pendidik harus memiliki komitmen dan disiplin tinggi dengan menjunjung tinggi rasa siri’ (malu) untuk datang terlambat mengajar. Begitupun sebaliknya, siswa sebagai peserta didik harus menerapkan budaya siri’ untuk menyontek. Perilaku seperti inilah yang dapat menjaga resistensi nilai-nilai siri’ dalam kehidupan sosial masyarakat dan dunia pendidikan.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat Bugis-Makassar agar nilai-nilai budaya siri’ napacce tetap terjaga. Pertama, kita harus membudidayakan sikap siri’ dengan berlaku jujur dan menjauhi perbuatan yang melanggar nilai-nilai moral. Sehingga, rasa siri’ akan senantiasa tumbuh dalam diri kita. Kedua, sikap saling sipakatau ‘Saling memanusiakan’ perlu diterapkan dalam berbagai hal agar kita mampu berlaku bijak demi menjaga sikap pacce kepada sesama. Melalui perilaku tersebut, ideologi siri’ napacce akan selalu terjaga demi menguatkkan jati diri kita sebagai masyarakat Bugis-Makassar yang beradab.(*)

Penulis: Nursalam
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM)

Komentar Anda