Tak Ada yang Benar-benar Instan dalam Hidup Ini

Bestari

Bestari

Tim Redaksi Bestari.ID
Arif Menginspirasi
Bestari

Latest posts by Bestari (see all)

 

Ilustrasi (Foto:Int)

Bestari.id-Bagi saya terma-terma mengenai instan hanyalah sebuah pelabelan belaka, tak memiliki entitas yang jelas. Bahkan, memasak mie instan pun mesti diawali dengan proses merebus air terlebih dahulu. Jadi jangan percaya sukses bisa diraih tanpa proses yang cukup.

Instan artinya mudah dan cepat, tidak pakai lama, gak pakai ribet. Namun demikian tidak semua yang mudah dan cepat selalu disebut instan. Tolok ukurnya adalah jika mudah dan cepat itu tidak mengorbankan integritas dan nilai-nilai kebenaran.

Coba bedakan contoh sikap dan perilaku instan ini:
– korupsi, cara instan cepat kaya
– menyontek, cara instan mudah lulus ujian
– percaya praktik Kyai Kanjeng atau Ponari, cara instan cepat kaya dan sembuh dari sakit
– menyerobot antrian, cara instan menyelesaikan urusan

Itu contoh perilaku yang mengorbankan integritas dan berpotensi memupuk generasi pemalas, tidak menghargai proses, dan cenderung menghalalkan segala cara.

Sesungguhnya tak ada keberhasilan hakiki dapat dicapai dengan cara instan. Paling banter kita hanya bisa mengupayakan percepatan proses dengan berbagai cara. Misalnya, memangkas tahapan-tahapan yang tidak efektif, belajar dari pengalaman orang-orang yang telah terlebih dahulu berhasil, mempelajari berbagai referensi penunjang, memanfaatkan berbagai akses dan teknologi, dan seterusnya. Dan cara ini masih sah-sah saja, karena tak ada integritas yang dikorbankan, tetapi dapat mengaselerasi hasil.

Beberapa sahabat sering menawarkan cara-cara instan mencapai sesuatu, tetapi kok rasanya saya tetap tak tertarik ya. Baru saja ada teman yang lagi berbaik hati menawarkan kesempatan promosi jabatan. Konon orang ini memiliki akses ampuh untuk menuju ke sana. Maaf sekali lagi, sama sekali saya tak tertarik. Mungkin bisa saja benar orang ini memang hebat, tetapi hidup ini menurut saya kok bukan selalu tentang sukses dengan terminologi instan seperti yang saya maksud sebelumnya. Toh tak ada nilai dan ruh esensial yang dapat saya nikmati dan turut menempel dalam jabatan itu seandainya tawaran itu saya terima.

Ah… sudahlah, lagian bukan soal ini arah tulisan yang ingin saya sampaikan.

Gelombang tawaran instan itu begitu dahsyat dan menggoda di seputar kita. Begitu banyak buku dijual atau iklan menggiurkan seperti:
-Kaya dalam 7 hari, tanpa gagal.
– Langsing dalam 10 hari tanpa diet
– Kadar gula darah akan normal kembali dalam 3 hari tanpa pantang makan
– dsb

Terus-terang, sesekali saya sempat tergoda juga dengan berbagai janji kemudahan dan iklan bombastis yang bertubi-tubi menghantam panca indera kita. Terlebih dibumbui dengan endorsement dan testimoni para ahli, perempuan cantik, desain grafis dengan berbagai teknik pemasaran profesional, sehingga mengacaukan sisi rasional kita untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Dunia pendidikan rupanya juga tak luput dari serangan isu instan ini. Banyak perguruan tinggi menawarkan cara instan untuk mendapatkan gelar akademik dengan berbagai modus. Baik dengan cara jorok sampai pada cara yang sangat halus, nyaris tak bisa terlacak kenakalannya.

Dalam dua hari ini kebetulan saya sedang menelisik keabsahan ijazah milik seorang sarjana yang diduga melakukan kenakalan akademik. Rupanya cukup halus cara yang dilakukan, yaitu melalui “proses akademik semu” mulai dari pendaftaran, absensi perkuliahan, nilai tiap semester, pelaporan di PD-Dikti, sampai cetak ijazah dan wisuda, semua proses ditempuh kecuali proses perkuliahan.

Dan lihatlah pada saat wisuda, orang-orang seperti ini tingkahnya tak ada bedanya dengan yang sarjana betulan, terpancar dari sorot mata cerianya sambil sorak-sorai melemparkan topi wisuda dan berfoto ria. Kemudian ijazah yang diraih dengan cara instan ini digunakan untuk meniti karir, tanpa sedikitpun merasa bersalah. Kok bisa ya nuraninya melakukan ini?

Pertanyaannya, lagi sakitkah masyarakat kita?

Struktur masyarakat global memang sebuah fenomena kompleks. Di balik kompleksitas budaya, tersembunyi karakter manusia, naluri pencitraan, keinginan untuk dihargai dan diakui, motif kekayaan materi dan banyak lagi lainnya yang berujung mencipta pola perilaku dan gaya hidup instan.

Percayalah, yang instan itu akan terasa hambar biasanya tidak bertahan lama. Perhatikan, Tuhan Yang “Mahainstan” dengan kekuasaan “kun fayakun” saja menciptakan langit dan bumi ini dengam empat masa. Lihatlah, kemerdekaan bangsa kita ini diperoleh melalui perjuangan panjang berdarah-darah. Pelajari sejarah, temuan dan karya-karya agung anak bangsa yang mendunia dan terpelihara hingga kini, seperti Borobudur, Prambanan, Batik, Keris, Tari Bali, semuanya hanya dapat diwujudkan melalui kerja keras dan proses kreatif yang panjang. Sejatinya tak ada kultur instan dalam sejarah bangsa kita.

Sudah saatnya kita kembalikan mental bangsa yang besar, bangsa yang menghargai proses dan kerja keras. (*)

Penulis: Agus Susilohadi
Bekerja di Kemerintekdikti RI

Komentar Anda