Toleransi dalam Konco Mesra

Ardi Wina Saputra

Ardi Wina Saputra

Penulis
Penulis Kumpulan Cerpen Aloer-Aloer Merah
Ardi Wina Saputra

Latest posts by Ardi Wina Saputra (see all)

Ilustrasi toleransi (Foto: Int)

Yen kupandang gemerlap nang mripatmu,
Terpampang gambar waru ning atimu,
Nganti kapan abot iki ora muk dukung
Mung dadi konco mesra, mergo kependem cinta….

Bestari.id- Lirik tersebut pasti sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Senandung yang membawa alam bawah sadar pendengarnya untuk berjoget atau sekadar menggelengkan kepala itu dinyanyikan oleh Nella Kharisma, penyanyi yang sedang naik daun. Apabila didengarkan sekilas, maka lagu ini hampir sama dengan lagu-lagu dangdut sebelumnya. Namun, apabila didengarkan lebih dalam maka sesungguhnya ada pesan terselubung dalam Konco Mesra. Pesan toleransi namanya.

Pesan toleransi memang tidak tersirat nampak dalam lirik lagu Konco Mesra, melainkan hadir secara terselubung dalam diksi dan musik yang disajikan. Pencipta lagu Konco Mesra, Husen Albana tampaknya sengaja memilih diksi dengan campuran dua bahasa yaitu bahasa Jawa dan bahasa Indonesia dalam syair lagunya. Bahasa Jawa memang sudah biasa digunakan dalam lagu dangdut, begitu pula dengan bahasa Indonesia. Namun, kecenderungan lagu dangdut selama ini adalah menyajikan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia secara terpisah. Biasanya satu lagu dangdut dinyanyikan dengan bahasa Jawa atau bahasa Indonesia seratus persen mulai awal hingga akhir. Apabila ada lagu dangdut yang menggabungkan kedua bahasa itu, maka kecenderungan yang muncul adalah memisahkan bait hingga lirik yang berbeda bahasanya. Bait satu berbahasa Indonesia, bait dua berbahasa Jawa. Ada pula yang bergantian, lirik pertama berbahasa Indonesia sedangkan lirik kedua berbahasa Jawa atau berbahasa daerah lain. Lagu Konco Mesra ini berani menyampaikan satu lirik dengan dua bahasa sekaligus.

Keberanian tersebut dapat dilihat dari judulnya, yaitu Konco (bahasa Jawa) dan Mesra (bahasa Indonesia). Meskipun secara struktur tergolong aneh dan tidak biasa, tapi faktanya judul itu sangat melekat di telinga masyarakat. Hampir setiap remaja, khususnya yang tinggal di Jawa Timur pasti mengetahui tentang lagu Konco Mesra. Keberhasilan Konco Mesra di kancah musik dangdut mulai dilirik industri musik Nasional yaitu Nagaswara. Hal itu semakin melegitimasi bahwa percampuran diksi dalam lagu Konco Mesra mampu ditolerir dan diterima oleh masyarakat. Dalam penulisan larik puisi, fenomena ini sangat jarang terjadi dan mungkin dipersalahkan dalam pelajaran Bahasa. Syair Konco Mesra mendobrak semua ketentuan teoritis itu, penyair berhasil memasukkan unsur dulce et utile dalam syair lagunya.

Dulce et utile berarti mendidik dan menghibur. Unsur mendidiknya adalah mengajarakan para pebelajar syair dan puisi, bahwa dalam satu larik keberadaan perbedaan bahasa tetap dapat diterima. Unsur menghiburnya ada pada kemudahan syair hingga lirik yang disampaikan oleh penyair sehingga mudah diingat, dan dinyanyikan kembali oleh pembaca serta pendengarnya.

Wujud toleransi selanjutnya ada pada perpaduan musik yang disajikan untuk melengkapi lirik Konco Mesra. Apabila diuraikan, maka terdapat empat genre musik dalam satu lagu yaitu (1) dangdut, (2) pop, (3) rap, dan (4) rock. Keempat genre musik ini saling berjalin berkelindan untuk merajut nada yang dapat memanjakan telinga masyarakat. Hasilnya? Tentu mampu membuat kepala, bergeleng dan mangguk-mangguk sendiri.

Keberhasilan Konco Mesra dalam menapaki tangga teratas musik dangdut tanah air tentu karena didorong oleh faktor transkulturalismenya yang kuat. Transkultural berarti mampu mencampur adukkan disiplin-disiplin kultur untuk menjadi sebuah hidangan unik yang berterima bagi masyarakat. Keberhasilan memasukkan unsur transkultur dalam Konco Mesra ini sekaligus meneguhkan bahwa dalam musik dangdut, toleransi sudah menubuh baik pada lirik maupun syairnya. Itulah sebabnya musik dangdut layak untuk dinyanyikan, dimainkan, digoyangkan dan dicintai seperti Konco Mesra.(*)

Komentar Anda