Tuhan dan Bola

Asri Ismail

Asri Ismail

Kapten Redaksi - Bestari.ID 
Bugis tulen, berewokan, & hobi domino

Bestari.id – Isyarat semesta memang terkadang mengelabui kita. Manusia mengejar bayangan dan terbuai ilusi. Ada jalan setapak yang membentang disiapkan Tuhan, manusia malah sibuk mengejar hasrat. Kita akhirnya saling sikut.

Ketika semua masih berdebat pada wilayah tafsir, lalu kapan kita melanjutkan perjalanan? Kita tak pernah sekalipun menemui paripurna. Karena masing-masing punya terminologi.Pada akhirnya, lagi-lagi kita stagnan karena memilih mendekam diketaksaan.

Lalu atas nama eksistensi, otoritas “kolaborasi” hanya untuk mereka yang memiliki kelompok dan seideologi. Dan bagi mereka yang terklaim kelas subordinat, sungguh kasihan. Puncaknya karena desakan frame relasi sosial. Wajah-wajah kapitalis menjelma menjadi dermawan.

Kita sama-sama terjebak di pemikiran dogmatis dan interpretasi humanis. Kebebasan ala sekuler liberal menjadi Tuhan, lalu agama hanya menjadi pekerjaan sampingan. Mungkin karena menganggap kekacauan yang selama ini terjadi karena fanatisme terhadap agama, sehingga benturan-benturan sosial agak sedikit menggoyangkan kedudukan penguasa. Moralitas kerap terbaikan dari segala sisi.

Mungkin Hal itu yang mendasari sehingga Nietzsche dengan gagah berani mengatakan Tuhan telah mati dan kitalah yang telah membunuhnya. Bagi Nietzsche kematian Tuhan karena rasa belas kasihan. Terlalu banyak yang mengaku menjadi hakim-hakim kecil untuk Tuhan. Tuhan telah tergambar dalam perilaku-perilaku manusia.

Saya pikir ini hanya metafor dan bukanlah sebuah penegasian atas keberadaan Tuhan. Sebab sebelumnya,Nietzsche menegaskan bahwa hal itu tampak dari terlalu luasnya kesenjangan antara idealisme beragama dengan praktek kehidupan beragama. Sehingga dengan membunuh Tuhan, manusia memiliki kebebasan untuk menentukan dirinya sendiri.

Lalu apa yang terjadi saat ini, kehidupan sudah seperti pasar. Manusia bergantian menjual diri untuk menyusun akrobatik politik. Mereka terdistorsi oleh ego dan kepentingan yang fasis. Difrensiasi antara teman dan lawan semakin sukar diperoleh perbedaannya.

Mungkin benar, bahwa hidup memang seperti bermain bola. Kita rela terluka asal kaki tetap menggiring dan menguasai.(*)

Komentar Anda