Wiji Thukul: Pengingat untuk Kita dan Pemerintah

Bestari

Bestari

Tim Redaksi Bestari.ID
Arif Menginspirasi
Bestari

Latest posts by Bestari (see all)

Wiji Thukul (Foto: CNNIndonesia.com)

Bestari.id- Widji Widodo atau lebih dikenal sebutan Wiji Thukul lahir di Surakarta pada tanggal 26 Agustus 1963. Tidak semua orang mengetahui bahwa beliau adalah salah satu korban aktivis yang hilang pada tahun 1998 silam. Sastrawan dan penyuara hak asasi manusia ini dikenal melalui karya – karya lantangnya. Penyair nan ganas namun bertubuh kerempeng itu ditetapkan menjadi buron sejak keterlibatannya pada peristiwa Juli 1996. Kritikan – kritikan keras pada rezim Orde Baru diduga menjadi penyabab beliau diculik.

Menilik kembali masa kecil Wiji Thukul, ia mengenyam bangku sekolah hingga kelas 2 SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) Jurusan Seni Tari. Perekonomian keluarga memaksa ia untuk berhenti sekolah, segala profesi mulai dari loper koran, calo tiket, pelitur di pabrik meubel dijalaninya. Thukul, begitu sebutan akrabnya di Theater Jagat, tempat di mana ia mengekspresikan jiwanya. Di sana pula Thukul bertemu istrinya, Sipon yang menghadirkan 2 orang anak dikehidupan keduanya. Semenjak Thukul aktif menyuarakan puisi – puisinya, ia hidup berpindah-pindah karena harus bersembunyi. Bahkan hingga terakhir kali ia pergi, Sipon mengira bahwa suaminya akan pulang seperti biasa, hingga sampai saat ini entah dimana ia berada. Thukul hilang, tiada tahu rimbanya.

Sejak menghilangnya Thukul, seolah ia kemudian hadir berlipat ganda. Sajak – sajaknya seolah merasuk ke jiwa – jiwa muda yang siap melanjutkan aksinya. Pada tahun 2014, karya mural “Dinding Berpuisi” di daerah TB Simatupang menjadi wujud aksi ‘Menolak lupa, memupuk ingatan’ terhadap tragedi – tragedi masalalu. Mural dengan dasar warna coklat muda setinggi 2,5 meter dan panjang 12 meter itu terpampang sajak Thukul yang berbunyi “Suara – suara itu tak bisa dipenjarakan, disana bersemayam kemerdekaan”. Kemudian tak lama ini, film bertajuk Wiji Thukul dengan judul “Istirahatlah Kata – Kata” dirilis.

Menggugah kembali ingatan tentang hak – hak Thukul yang dirampas Fajar Merah, anak kedua Thukul dan Sipon juga kian mengenang sajak – sajak Ayahnya dengan indah. Fajar Merah, dari panggung ke panggung menggetarkan jiwa – jiwa muda dengan gitar dan puisinya. Prison Song, album yang digarapnya.

Kisah Thukul menjadi pengingat, bagi kita dan tentu saja bagi pemerintah tentang pelanggaran HAM dimasa lalu yang tidak ada habisnya. Bahkan angin segar yang diberikan Presiden Jokowi tentang penuntasan masalah pelanggaran HAM masa lalu tidak terlihat bukti ucapannya. Thukul, Munir, deretan nama aktivis – aktivis lain yang hilang, dan kini Kartini Kendheng yang perjuangannya ada di depan mata kita seharusnya menjadikan kita semakin lantang menyuarakan hak – hak asasi manusia, menyuarakan penolakan kebijakan – kebijakan pemerintah yang justru mencekik rakyatnya. Semoga Wiji Thukul dan karya -karyanya senantiasa terus menjadi pengingat bagi kita untuk tetap memupuk ingatan dan lantang menolak lupa. (*)

Penulis: Fiska Aprily (Content Writer)

Komentar Anda