Beast sebagai Pelopor Kemerdekaan Para Om Om!

Ardi Wina Saputra

Ardi Wina Saputra

Penulis
Penulis Kumpulan Cerpen Aloer-Aloer Merah
Ardi Wina Saputra

Latest posts by Ardi Wina Saputra (see all)

Ilustrasi

Bestari.id- Masihkah Anda ingat pada roman klasik cinta segi tiga antara Siti Nurbaya, Samsul Bachri dan Datuk Maringgi? Mari sejenak kita melempar ingatan pada kisah tersebut. Kisah cinta klasik itu menceritakan kasih yang tak sampai antara Siti Nurbaya dan Samsul Bachri. Harta, takhta, dan kekuasaan menjadi penyebab kandasnya hubungan cinta mereka. Syamsul Bachri, pemuda sempurna jiwa dan raga tapi tak punya apa-apa harus rela melepaskankekasih hatinya yaitu Siti Nurbaya ke tangan Datuk Maringgi serupa Om Om. Siti Nurbaya pun menangis sejadi-jadinya. Ia sangat sedih.

Kesedihan Siti Nurbaya, dapat diibaratkan seperti kesedihan Shinta ketika ditawan oleh Rahwana yang juga berparas Om Om. Butuh perjuangan bagi Rahma, kekasih Shinta untuk membebaskan kekasihnya dari raksasa bengis nan kejam itu. Dua penggambaran kisah di atas seolah menunjukkan bahwa harta, takhta dan kekuasaan tak mampu menjadi pembendung cinta dari dua kekasih.

Kisah roman dan kasusastraan klasik menunjukkan bahwa pria yang dilahirkan dengan legitimasi sosial rendah membutuhkan perjuangan untuk bisa mencintai wanita yang dianggapnya sempurna. Oleh sebab itu, si pria harus berjuang sekuat tenaga untuk mengembangkan dirinya menjadi lebih baik agar dipantaskan dengan sang wanita pujaan. Namun sayang, perjuangan tak selamanya menemui keindahan seperti halnya yang dialami oleh Syamsul Bachri. Meskipun demikian, hati dan cinta mati Siti Nurbaya masih tetap ada untuk pria yang telah memperjuangkan cintanya tadi.

Lambat laun seiring kemajuan zaman dan teknologi, pria-pria bergenre Syamsul Bachri dan Rahma ini semakin lama semakin ditinggalkan. Bahkan Sujiwo Tejo dalam bukunya yang berjudul Rahwayana: Aku Lala Padamu, menggambarkan sosok Shinta yang sudah tidak lagi mencintai Rahma yang tak punya apa-apa. Shinta malah menempelkan dirinya pada Rahwana yang bergelimang harta.

Secara simbolik hal tersebut semakin tercermin dalam film Beauty and The Beast. Meskipun dikemas dengan gaya penceritaan yang lama dan alur kisahnya sama seperti dalam lembar demi lembar buku dongeng anak-anak, tapi produser berhasil merekonstruksinya menjadi lebih kekinian. Tak ayal, film yang dibintangi oleh Emma Watson, Dan Stevens, Luke Evans, ini menyedot pasar khususnya anak-anak dan remaja.

Sayangnya, legitimasi pria Rahwana semakin kuat dan ditanamkan secara tersirat dalam film ini pada para gadis yang menyaksikannya. Menurut sosiolog Pierre Bordieu, seseorang memperoleh legitimasi dengan syarat harus memiliki modal. Modal pertama adalah modal keluarga. Kelahiran anak menentukan massa depannya saat dewasa kelak. Dikisahkan Beast, merupakan seorang anak raja yang serba mewah. Dia pun pada dasarnya jahat karena telah mengusir nenek peminta peminta saat terjadi pesta dansa di rumahnya. Kesalahannya itu membuatnya disulap menjadi lelaki tua besar dan buruk rupa. Istanah dan seluruh isinya pun juga disulap menjadi mencekam. Satu-satunya syarat agar dia kembali menjadi putra mahkota adalah dengan menikahi seorang gadis.

Di sisi lain di desa sebelah, hiduplah seorang gadis manis pujaan para pria yang cantik dan cerdas. Salah satu pemujanya adalah Gaston, lelaki kampung yang ketenarannya hanya sebatas ujung desa. Dia disegani karena jasanya dalam perang dunia kedua. Namun karena dia merupakan lelaki desa biasa, dia pun dibuat menjadi seolah-olah jahat. Padahal secara skill dan kemampuan, Gaston lebih mumpuni ketimbang Beast. Hal tersebut terbukti ketika duel satu lawan satu, Gaston memenangi pertempuran dengan menembak dan membunuh Beast. Setelah itu tokoh ini seolah dimatikan dengan sebuah keajaiban yang dibuat-buat. Ia jatuh dari jembatan yang tiba-tiba runtuh!

Melihat Beast mati setelah berduel dengan Gaston, Belle pun sedih hingga dia menyentuhnya dengan penuh kasih sayang. Keajaiban pun muncul, Beast si Om Om buruk rupa berubah menjadi tampan kembali. Semua istanah dan seluruh isinya kembali. Pangeran tampan yang dulunya buruk rupa pun menjadi suami bagi sang putri.

Jika dikaitkan dengan kondisi kontekstual saat ini, memang benar. Beast yang digambarkan layaknya Om Om dengan mudahnya menggaet daun muda untuk dijadikan kekasih. Para pria berlabel Rahma, Syamsyul Bachri atau Gaston malah dianggap antagonis arena tak memiliki modal dan legitimasi sosial sejak lahir. Kesetiaan cinta, pengorbanan, dan perjuangan seolah dianggap basi karena hal-hal yang lebih praktis pragmatis sangat disukai. Sebagai penikmat karya  sastra, Anda berhak memposisikan diri. Mau jadi gadis spereti Belle atau pria seperti Beast? Atau justru Anda sedang berada dalam posisi Gaston? Silahkan ini sebagai permenungan. (*)

 

Komentar Anda