IT: Anugerah atau Kutukan?

Abdullah Pandang

Abdullah Pandang

Penulis
Dosen Universitas Negeri Makassar
Abdullah Pandang

Latest posts by Abdullah Pandang (see all)

Ilsutrasi (Foto: Int)

Bestari.idPerkembangan pesat teknologi informasi (TI) telah mengubah secara dahsyat pola kehidupan kita. Di era melienial ini hampir segala aspek kehidupan kita dikendalikan oleh piranti TI. Mengubah pola kerja kita dari basis off-line yang ruwet dan menguras keringat ke basis online yang simpel dan nyaman.

Tahun 1970an hingga 1980an komunikasi kita masih amat mengandalkan pertemuan langsung (untuk berbicara kita harus mendatangi atau didatangi), atau untuk jarak jauh harus pakai surat, atau paling “canggih” menggunakan telepon berkabel dan telegram.

Tahun 1990an pola komunikasi mulai “dirusak” oleh hadirnya pager, handy talky, faximile, dan telepon koin. Lalu tahun 2000an handphone mulai merasuk menjadi “alat pasang gengsi” dan mengubah gaya komunikasi kita. Surat menyurat mulai tak laku, kartu ucapan via pos mulai ditinggalkan. Semua tergantikan dengan sms dan telepon.

Hadirnya jaringan internet bersamaan dengan munculnya smartphone, gadegt dan berbagai aplikasi media sosial sejak akhir 2000-an makin “merusak” gaya dan pola komunikasi antarmanusia. Curhatan hati, berbagai rasa, dan bentuk ujaran tumpah ruah di ruang publik lewat medsos. Orang-orang yang berlalu lalang atau berkumpul di suatu tempat tak lagi saling menyapa. Semua sibuk mengarahkan mata dan tangan ke layar smartphone dan gadeget. Menikmati kesendirian dalam keramaian.

Transaksi keuangan juga berubah. Antrian panjang dan melelahkan di depan kasir bank, berubah ke ATM yg tersebar di berbagai sudut kota/kampung. Lalu muncul aplikasi sms banking dan online banking via smartphone. Bayar tagihan listrik, kirim uang, bayar utang, beli tiket cukup pencet tombol-tombol di HP. Ke mall atau bepergian ke berbagai kota, provinsi, atau bahkan negara tak perlu lagi membawa uang kontan yg banyak, cukup bawa kartu debet atau smartphone yg punya aplikasi online banking.

Transaksi jual belipun mengalami pergeseran dari dari pasar offline ke pasar online. Tak perlu capek-capek ke pasar atau swalayan. Cukup pencet-pencet tombol HP kita bisa pesan rupa-rupa produk yg diinginkan dan beberapa hari kemudian pesanan sudah sampai di rumah. Kini toko/mall/supermarket offline menghadapi penurunan omset penjualan, sementara penyedia jasa penjualan online mengalami peningkatan omset berkali lipat. Penyedia jasa trasportasi offline juga mulai bingung karena kehilangan pelanggan yg beralih ke penyedia jasa trasportasi daring yang lebih simpel dan murah.

Piranti TI masih akan terus berkembang dalam kecepatan yang makin intens. Masih akan banyak produk TI yang akan muncul dan menawarkan kenyamanan yang mamin memanjakan. Pola komunikasi antarorang dan pola kehidupan masyarakat akan terus berubah.

Dunia pendidikan kini menghadapi tantangan berat. Selain harus berbenah untuk mengoptimalkan pemanfaatan TI guna menunjangan efisiensi dan efektifitas pendidikan, juga dituntut untuk mampu menyediakan “kurikulum” pendidikan yg tepat bagi generasi milenial dan cyber-citizen. Generasi muda bangsa harus dibantu agar tidak menjadi korban kutukan TI dan tergilas arus deras perubahan, melainkan menjadi pengguna cerdas dan well-adapted dari anugerah kemajuan TI.

Sudahkah fenomena ini menjadi fokus perhatian kita? Atau, kita masih lebih suka bersibuk ria memikirkan dan memperjuangkan nasib kita masing-masing? (*)

Komentar Anda