Keajaiban Atmosfer Bumi

Bestari

Bestari

Tim Redaksi Bestari.ID
Arif Menginspirasi
Bestari

Latest posts by Bestari (see all)

Begitulah bumi bekerja dengan keajaiban-keajaibannya (Foto: Int)

Mengapa terdapat Salju di Puncak gunung-gunung tertinggi padahal posisinya Semakin Mendekati Matahari ?

Bestari.id-Pertanyaan tersebut adalah salah satu pertanyaan yang biasa menghinggapi benak para pendaki yang menemukan salju di puncak gunung yang didakinya. Salju merupakan lapisan air yang berada pada fase padatan atau disebut dengan Es. Es akan terjadi ketika suhu berada 0oC. Jika kita berpikir secara sepintas, semakin mendekati matahari, maka temperatur akan semakin panas dan benda-benda yang bertemperatur rendah akan menerima kalor dari lingkungan sekitarnya, sehingga tidak memungkinkan untuk menemukan benda yang bersuhu 0oC pada ketinggian yang semakin mendekati matahari. Tetapi hal yang berbeda terjadi pada puncak gunung-gunung tertinggi, semakin tinggi sebuah gunung, kemungkinan menemukan salju akan semakin besar.

Tahukah kalian bahwa atmosfer bumi terdiri dari beberapa lapisan dan tiap lapisan memiliki temperatur yang berbeda-beda dan sumber panas yang berbeda. Salah satu gunung yang paling menantang bagi para pendaki adalah puncak gunung everest yang ketinggiannya mencapai 9000 meter di atas permukaan air laut. Jika kita melihat grafik ketinggian, ternyata puncak gunung everest hanya sampai pada lapisan troposfer yang ketinggiannya mencapai 8.000 km dari daerah kutub, 16.000 km dari daerah equator dan perhitungan ketinggian reratanya adalah 12.000 km dari seluruh dunia.

Pada lapisan troposfer ini terdapat metana (CH4), karbondioksida (CO2), Uap air (H2O), nitrogen (N2), dan Oksigen (O2). Sebagian besar lapisan troposfer berisi nitrogen 78% dan oksigen 20%. Gas-gas yang berada pada lapisan ini tidak peka terhadap radiasi ultraviolet. Sehingga ketika radiasi matahari melewati lapisan ini maka radiasi ini akan terus hingga ke bumi. Ketika panas matahari sampai ke bumi maka bumi akan kembali memancarkan panas yang diterimanya melalui troposfer. Radiasi yang dipancarkan bumi disebut radiasi inframerah atau infrared. Gas-gas yang ada pada troposfer akan menerima radiasi tersebut dan metana (CH4), karbondioksida (CO2), Uap air (H2O) adalah gas yang peka terhadap gelombang infrared. Sehingga akan menangkap sebagaian kecil dari radiasi tersebut dan dipancarkan kembali ke bumi yang berfungsi untuk menghangatkan bumi.

Efek Rumah Kaca

Metana (CH4), karbondioksida (CO2), Uap air (H2O) adalah gas yang ada di atmosfer dengan jumlah sedikit. Hal ini bukan karena kebutulan saja tetapi Tuhan menciptakannya dengan jumlah sedikit agar panas yang ditangkap dari radiasi infrared tidak terlalu banyak sehingga suhu di bumi dapat stabil dan sesuai dengan kebutuhan makhluk hidup. Namun seinring bertambahnya usia bumi, kehidupan di bumi sudah semakin tak terkendali. Produksi gas rumah kaca semakin meningkat yang tidak diimbangi dengan produksi oksigen (O2) oleh tumbuhan-tumbuhan. Proses fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan adalah sebuah proses penggunaan karbondioksida (CO2) dan menghasilkan oksigen (O2).

Namun jika kesadaran untuk mempertahankan lahan hijau semakin berkurang maka tidak mengherankan jika keadaan bumi kita akan semakin panas akibat bertambahnya karbondioksida (CO2) di atmosfer. Metana (CH4), karbondioksida (CO2), Uap air (H2O) inilah yang disebut sebagai gas rumah kaca. Gas mempunyai sifat seperti kaca. Ketika kaca menerima sengatan matahari, maka ia akan meloloskan radiasi matahari tersebut ke benda yang ada di dalamnya dan benda akan memantulkan kembali radiasi tersebut. Kaca akan meloloskan sebagian pantulan dari benda dan sebagaian lagi dipantulkan kembali. Sehingga suhu benda dalam sebuah kaca akan terasa lebih panas. Hal yang sama juga terjadi pada bumi kita yang terasa semakin panas akibat bertambahnya gas rumah kaca di atmosfer. (*)

 

Komentar Anda