Kisah Lain Cinta dan Rangga (Ayat 2)

Afdhal Kusumanegara

Afdhal Kusumanegara

Penulis
Indonesiaisme, Hallidayan, dan Teh pagi
Afdhal Kusumanegara

Latest posts by Afdhal Kusumanegara (see all)

Cinta dan Rangga (Foto: Int)

Untuk membuat puisi tentang suara hati manusia, seseorang harus menggabungkan seluruh syair kepahlawanan dalam satu puisi. Jika tidak, maka apa yang dikatakan sebagai hati nurani hanyalah kekacauan dari angan-angan serta hiruk pikuk kebohongan dari hasrat manusia. – Ahyar Anwar

Bestari.id-Di Indonesia, anak-anak mudanya sedang dicuri hatinya. Sebagai konsekuensi dari kondisi yang sedang massif, globalisasi. Di mana semua batas dihancurkan. Pencurinya bernama media sosial. Mulai terjaga pada subuh sampai bertemu dengan malam, media sosial benar-benar mewakili kehidupan dan perasaan-perasaan. Menuduhnya sebagai pencuri mungkin terlalu cepat. Sebab, ia ke Indonesia juga menitip buah Simalakama.

Mengapa Simalakama? Dari APJII, 133 dari 256 juta orang Indonesia terbukti sudah terhubung ke dunia maya. Artinya, sudah lebih dari setengah yang menjadikan media sosial sebagai pakaiannya. Sayang, 30 juta diantaranya memakai media sosial untuk leha-leha, termasuk hiburan dan yang hoax-hoax, dibanding untuk pendidikan 13 juta dan pekerjaan 27 juta. Sisanya? Tidak jelas.

Itu data matematik. Belum data di mana kita berdiri, sekarang. Di media sosial, kita dapat melihat keramaian dengan kesepian di sampingnya. Di atas perangkat, kita dapat melangkah pada jejak-jejak kebohongan. Di tempat yang sama, dogma materialis juga jelas-jelas mencium kita. Terhubung dengan dunia maya, terkadang berarti menampar teman dengan sunyi dan diam.

Tidak semuanya memang. Masih ada 13 juta yamg mau jadi pahlawan. Puisi dan kata-kata bijak lainnya adalah cinta yang paling sering menyelamatkan kita dari sisi gelap media sosial. Tapi sisanya, tidak jelas.

Dan demikianlah. Gaya menjadi utama. Bising semu di mana-mana. Sebab, Media sosial menjadi kendaraan. Buktinya, banyak waktu habis di obrolan WhatsApp. Youtube menggantikan tangan-tangan lembut orang tua. Kita juga sudah membangun panti asuh(keluh)an bernama Facebook. Dan Instagram, sosok fotografer yang akan memaksa kita terpekur berjam-jam di pembaringan.

Kemudian, kita lupa menjadi diri sendiri. Karena media sosial selalu saja menjadi cermin besar yang pecah-pecah pada kita. Menghalangi kasih sayang yang tidak terbiasa dihidupkan dengan sekali klik. Cermin kita adalah wujud manusia yang nyata. Bukan layar anti gores. Di luar, harum kertas buku dan tatapan mata yang mencerminkan hati, keduanya menjadi korban yang paling mengenaskan.

Begitulah kisahnya. Kisah tentang kekalahan karena dicuri hatinya. Kisah yang sama pernah dialami Cinta, bertahun-tahun lalu.

***

Bagi Ronald Frank, Cinta jelas-jelas kalah. Siapa lagi penyebab kalau bukan Rangga. Dari karya dan keberanian tentunya. Puisi Rangga hanyalah awal. Kata-katanya yang apik memang memecahkan emosinya Cinta. Tapi sikap Rangga setelah juara, telah benar-benar merobohkan semua benteng tentang perempuan dan membuat Cinta bertekuk dengan sipu malu.

Maka terbuktilah, yang disabdakan Ahyar Anwar. Cinta dipaksa merasakan sisi kepahlawan dari sebuah puisi dan dari tindak kata yang nyata. Jauh dari angan-angan dan hiruk pikuk kebohongan, seperti yang ditunjukkan cermin yang pecah-pecah tadi. Bahwa bentuk kata yang sebenarnya adalah makna yang diperjuangkan. Bukan kebohongan yang dilapisi retorika. Sekali lagi, bahasa yang nyata. Berani dan benar-benar bertandang ke rumah sang pujaan, misalnya. Kalau tidak, kalah sama sekali.

Hampir sama dengan Cinta, hampir sama dengan anak-anak muda Indonesia. Keduanya sama-sama kalah, sama-sama dicuri hatinya. Bedanya, Cinta memang menginginkan kekalahan.(*)

Komentar Anda