Media Sosial dan Kesepian yang Sesungguhnya

Arlin

Arlin

Penulis
Kopi, buku, dan kamu

Ilustrasi (Foto: Int)

Bestari.id-Konon kabarnya, pada tahun 2016 ada 132 juta lebih pengguna internet di Indonesia, demikian data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Jika berdasar pada jumlah penduduk Indonesia yang disebutkan Mendagri per 30 Juni 2016 yaitu sebanyak 257.912.349 jiwa, maka sekitar lebih 51 % penduduk Indonesia sudah terjamah internet.

Beradasarkan survei yang dilakukan APJII dengan melibatkan 1.200 koresponden, konten media sosial yang paling sering dikunjungi orang Indonesia adalah Facebook. Media sosial Facebook dikunjungi 71,6 juta atau sekitar 54% pengguna, Instagram 19.9 juta atau 15%, dan ditempat ketiga ada YouTube 14,5 juta pengunjung, atau sekitar 11%. Keberadaan Facebook di ururtan pertama tidak terlalu mengejutkan, mengingat bahwa hampir sebagai besar pengguna internet pemula (termasuk yang tua) atau mereka baru melek internet, pada umumnya menggunakan aplikasi Facebook. Facebook inilah yang kemudian menjembatani pengguna untuk kenal dengan aplikasi-aplikasi media sosial lainnya.

Pada akhirnya, media sosial menjadi sebuah “kegiatan” yang harus dilakukan seseorang. Kepungan dunia modern yang canggih dan serba cepat, menjadikan kita tak mampu mengelak dari dunia internet, terutama media sosial. Detik.com dalam sebuah beritanya mengungkap bahwa 80 persen janda baru di Bekasi dipicu WhatsApp dan medsos  rinciannnya sebagai berikut, dari 2.231 pasangan pada rentang Januari-September, 1.862 kasus karena perselingkuhan, 111 kasus karena faktor ekonomi, dan 121 kasus karena poligami. Dari 1.862 kasus perselingkuhan, pada umumnya karena pengaruh WhatsApp dan media sossial.

Terus, apa hubungan antara kesepian dan media sosial? Peplau dan Pelmar (dalam Brage, Meredith dan Woodwar, 1998) mengungkapkan bahwa di hidup ini ada sesuatu yang disebut loneliness. Teori ini mengungkapkan bahwa loneliness adalah perasaan dirugikan dan tidak terpuaskan yang dihasilkan oleh kesenjangan antara hubungan sosial yang diiginkan dan hubungan sosial yang dimiliki. Secara sederhana, dapat diartikan bahwa kesepian/loneliness adalah sebuah keadaan di mana harapan sosial kita, tidak sesuai dengan kenyataan sosial kita. Ketika keseharian hanya terus menerus digunakan untuk bermedia sosial, maka saat itulah kesepian/loneliness akan datang.

Pada umumnya media sosial, digunakan untuk pamer kebersamaan dan kemesraan. Ketika orang lain terus memperlihatkan kemesraan dan kebersamaan yang sedang tidak kita miliki, maka saat itulah muncul perasaan kesepian. Contoh sederhananya seperti ini, ketika anda sedang berselancar, dan selalu menemukan foto yang mesra terus menerus, atau status yang sedang bahagia bersama pasangan, hal ini inilah yang dapat menimbulkan kesepian. Kesepian ini kemudian bisa jadi berefek domino menjadi keinginan untuk berselingkuh.

Selain itu, penggunaan media sosial “akut” juga cenderung menyebabkan penggunanya menjadi “anti sosial” di dunia nyata. Meskipun pada dasarnya tujuan utama dari bermedia sosial adalah untuk meningkatkan hubungan sosial, tetapi efek yang kemudian muncul adalah ketidakmampuan merasakan orang-orang yang berada yang lebih dekat dengan kita. Erich Fromm menjelaskan bahwa manusia dari waktu ke waktu semakin bebas, semakin mereka bebas, maka semakin mereka merasakan kesepian (being lonely). Demikian yang terjadi saat seseorang mencoba menemukan kebebasan melalui media sosial, justru akan merasakan kesepian yang semakin dalam.

Tak ada larangan bagi setiap warna negara Indonesia untuk bermedia sosial. Hanya saja harus mampu menentukan batas antara ruang nyata dan ruang media sosial. Selain itu, jangan menghindari atau bahkan sengaja tidak mengetahui tanggungjawab sosial kita sebagai warga negara. Karena seperti kata Goenawan Muhammad bahwa kesepian yang sesungguhnya adalah hidup tanpa tanggungjawab sosial. Maka, 51 % pengguna internet di Indonesia harus tetap sadar terhadap fungsi dan tanggungjawab sosial masing-masing.

Bagi mahasiswa, berlaku layaknya mahasiswa, pemuda berlaku pemuda, pemimpin berlaku pemimpin, orang tua berlaku orang tua, dan bagi yang jomblo berlaku jugalah layaknya jomblo. (*)

Komentar Anda