Para Pelacur Intelektual

Bestari

Bestari

Tim Redaksi Bestari.ID
Arif Menginspirasi
Bestari

Latest posts by Bestari (see all)

 

Pelacur Intelektual (Foto: Int)

Bestari.id- Sejarah intelektual modern di indonesia dimulai sejak masa kolonial Hindia Belanda, mereka mendirikan sekolah untuk kalangan bangsawan dan birokrat pribumi. Mereka membangun sekolah karena birokrasi semakin membutuhkan tenaga-tenaga terampil. Kaum pribumi yang sekolah kemudian mengalami pencerahan dan mendambakan negara bangsa. Pergerakan nasional dimulai, dimotori oleh kaum terdidik baru. Elite pribumi yang terpelajar ini berperan penting dalam memerdekakan negeri.

Ketika pemerintahan telah terbentuk kaum intelektual tersebutlah yang menempati pos-pos dalam birokrasi, hal seperti ini terus berlanjut sampai sekarang. Ada pergeseran posisi kaum intelektual pribumi ketika Belanda angkat kaki otomatis mereka maju menjadi penguasa pengganti. Mereka memainkan peran baru, sebagaimana dikatakan tadi, sejak Hindia Belanda sebenarnya intelektual di Negeri ini telah didayagunakan pemerintah. Tak heran jika mereka kemudian dicap sebagai pelacur intelektual, bagi mereka yang mengabdi pada pemerintahan yang menyimpang.

Berjuang dari dalam biasanya menjadi argumen bagi mereka untuk mengabdi pada kekuasaan. Kendati sesungguhnya mereka tak punya ruang gerak untuk menjalankan peran sesuai hati nurani. Justru di sini juga masalah kaum intelektual umumnya mereka bukan malaikat kejujuran intelektual sebagaimana diharapkan oleh masyarakat. Mereka sering mengambang diantara dua extrem : “menjadi intelektual organik” sebagaimana yang dikatakan Gramsci yang begitu saja menyuarakan sebuah kepentingan sebuah kelas atau gerakan ideologis yang sebenarnya tak lebih dari seorang propaganda. Mereka sering tidak murni intelektual, bahkan bersedia memberikan keterampilan mereka bagi yang mau membayar.

Edward said memasang cermin dalam bukunya “Peran Intelektual” supaya kaum intelektual dapat melihat dirinya yang sebenarnya. Bagi Said seorang intelektual adalah mereka yang berani mengatakan benar dan yang salah. Mereka tak takut pada penguasa. Intelektual bagi Said lebih kepada oposisi daripada akomodasi. Menurutnya dosa yang paling besar bagi seorang intelektual adalah apabila ia tahu yang seharusnya dikatakan, tetapi ia menghindar.

Pertanyaan dasar yang diajukan adalah “bagaimana orang mengatakan kebenaran?” Kebenaran apa? Bagi siapa dan di mana? Maka bagi intelektual kebenaran itu tidak dapat menjadi milik siapa-siapa. Maka kaum intelektual diharapkan memiliki keterlibatan pada kebenaran agar tidak dapat menjual diri pada pihak manapun. Dan itu berarti, di antara orang ia tidak berpihak, kalau anda mau membela keadilan manusiawi dasar, anda harus melakukannya bagi siapa saja. Bukan hanya bagi mereka dipihak anda, dibudaya anda, dibangsa anda. Bahkan kaum intelektual harus berani menyarakan kebenaran, meskipun kesalahan itu dilakukan oleh pihak anda.

Edward W. Said lebih menyukai batasan intelektual yang dikemukakan Antonio Gramsci, bahwa semua manusia adalah intelektual, tetapi tidak semua orang intelektual dalam masyarakat. Gramsci mengelompokkan dua jenis inyelektual. Pertama, intelektual tradisional, semacam guru dan ulama. Kedua, intelektual organik, yaitu kalangan profesional. Adapun tujuan intelektual bagi Said adalah meningkatkan kebebasan dan pengetahuan manusia. Hal ini juga ditekankan oleh sartre, salah satu intelektual besar pada abad ke-20. Sartre menyayangkan novel-novel dan naskah drama yang bertujuan merekonsiliasi manusia dengan lingkungannya atau yang mendorong mereka lari dari kehidupan nyata.

Dibanding Sartre, Noam Chomsky lebih gamblang berbicara tugas dan tanggungjawab intelektual ia mengatakan intelektual berada dalam posisi mengungkap kebohongan-kebohongan pemerintah, menganalisis tindakan-tindakannya sesuai penyebab, motif serta maksud yang sering tersembunyi di sana. Said kemudian mengatakan intelektual itu tidaklah berada di menara gading. Sebaliknya, mereka terlibat langsung dalam persoalan kemasyarakatan. Dalam hal ini mereka berperan sebagai benteng akal sehat yang kritis terhadap kekuasaan bukan malah diam demi kehati-hatian.

Dengan penyikapan seperti ini lingkup jelajah seorang intelektual tidaklah terbatas, ia siap masuk kewilayah di mana dehumanisasi serta penekukan akal sehat berlangsung. Tak ada ranah yang pantang ia masuki. Keterlibatan diberbagai lapangan kemanusiaan sekaligus membuat dirinya sulit untuk tampil sebagi seorang spesialis. Seorang intelektual haruslah menjadi amatir, yang memebedakan dirinya dengan seorang profesional yang membatasi gerak langkah dirinya hanya pada wilayah kewenangan saja. Sementara bagi seorang amatiran tak punya rasa malu dan melakukan karena mencinta dan ingin memgetahui. (*)

Penulis: Muh Akbar (Mahasiswa UIN Alauddin Makassar)

Komentar Anda