Sajak Senja

Bestari

Bestari

Tim Redaksi Bestari.ID
Arif Menginspirasi
Bestari

Latest posts by Bestari (see all)

Ilustrasi (Foto: Int)

Bestari.id-Atap langit ku, di ujung seberang tanpa batas jauh disana. Ada perihal tergambarkan tentang masa- masa kesuraman penuh tangis mencekik nurani, tatkala kusaksikan burung camar saling kejar mengejar, dengan kicaunnya membuat senja semakin penuh dengan warna. Dan warna-warna tersebutlah berputar menjelma layaknya film bioskop yang menceritakan seorang pengembara namun dilanda gundah gulana, hingga membuat hati merontah-rontah laksana kain koyak robek yang ingin di jahit, jarum ku sudah ada, namun sayang jarum masih dilanda rindu ingin bersua dengan benang .

Itu semua sudah kulalui, hanya sekilas memutar ulang kemudian menjadi pelajaran bagiku, aku tak perlu bersusah payah untuk menuliskannya kedalam tiap-tiap lembaran putih yang terlalu suci hanya akan membuang-buang beberapa tetesan tinta, biarlah tinta itu digunakan oleh kalangan pecandu tulis, cukuplah lewat alam kudapati pelajaran makna berkepanjangan, biarlah pelajaran yang bermakna itu melebur mengikuti zaman menyatu dengan alam yang kelak di kemudian hari akan memutarkan sebagai peringatan untukku tatkala aku lupa terhadapap hal paling bodoh yang aku lewati.

Tak tahu lagi apa yang ingin ku tulis di lembaran yang telah tergores tinta ini. Hidupku serasa suram bagai padang pasir di tanah Mesir yang panas, dipenuhi kaktus, dipenuhi duri tajam menusuk kulit sampai mengenai tulang-tulang. Semua hari-hariku tak punya makna, tak jelas membuatku dilema setelah kesemuanya itu tergambar jelas dihadapanku. menundukkan segala harapan yang kian menghambat rasa yang selama ini menjadi acuan kiblatku.

Coba perhatikan burung-burung di sana, tatkala sore hari menjelang malam, saat ujung langit mulangi kemerah-merahan, deburan ombak gelisah mengadu bibir pantai. aku hanya bisa duduk diseberang pantai sembari menulis di atas pasir, menuliskan, mencurahkan segala keluh kesah pahit yang selama ini menjadi bayang-bayang hantu disetiap hariku.

Hatiku berasa terbakar kemudian mengeluarkan asap, asapnya mulai terbawa angin terbang keudara kemudian terhempas kemana-mana, kemana hembusan angin maka kesitu pula asap terbawa.

Kucuba untuk menghibur hati yang dilanda lara, menembus batas-batas ruang nada sampai aku terbawa kedalam syair-syair kulantunkan, akupun melebur lebih dalam…dan lebih dalam lagi.

Ada hal penting tak akan pernah bisa terlupakan, dari nyanyian itu ada berbagai kisah manis, pahit, suka duka bersama, mulai dari rasa mengadu nasib bersama, sampai kepad hal rasa kasih seseorang yang mencintai namun tak dicintai. Kini hanya sakit bisa menjadi saksi, hingga sakit itu sengaja kuhidupkan, kutiupkan ruh melelui pena dan tinta hingga menjadi “sajak senja”.

Aku yakin dengan tulisan ini orang-orang bahkan teman seperjuangan, atau mungkin dia yang ada di seberang sana kini bahagia menikmati beru selesai bersua dengan resepsi malam pengantin, aku berdoa mudah-mudahan dia sadar bahwa, sekarang masih ada yang menyimpan namanya di dalaam hati abadi dan akan selamaanya abadi. (*)

Penulis: Syarief Teguh (Mahasiswa)

Komentar Anda