Walet Pengang dan Ayam Potong; Kita yang Menyukai Bising

Bestari

Bestari

Tim Redaksi Bestari.ID
Arif Menginspirasi
Bestari

Latest posts by Bestari (see all)

Ilustrasi (Foto: Int)

Bestari.id-Di Babilonia sekitar 4000 tahun yang lalu, Undang-undang yang pertama dibuat dengan tujuan untuk mengatur tata hidup juga spesifik tentang hubungan antarwarga. Tertuang di dalam aturan itu salah satunya mengenai alur pembuangan air rumah yang tidak boleh mengganggu tetangga.

Begitu pentingnya menghargai hak-hak dasar manusia lainnya, menjadi flatform dalam setiap aturan bermasyarakat. Setiap aturan disertai sanksi untuk setiap pelanggar. Ini penting untuk menjaga agar aktivitas warga dalam bentuk apapun tidak mereduksi hak-hak manusia lainnya.

Hari ini, aturan negara yang berlapis-lapis, nyatanya masih banyak yang belum mampu melindungi warga dari ruang-ruang privacy.

Di jalanan, suara motor berkenalpot ‘bogart’ adalah bentuk teror yang kadang membuat gugup pengendara lainnya. Beberapa dari kendaraan berknalpot ‘bogart’ itu juga yang melaju tanpa memperhatikan markah jalan, menyalib tanpa aba-aba.

Perilaku arogan knalpot ‘bogart’ ini dalam bentuk yang berbeda juga seringkali diperankan para pengantar jenazah dan Motor Gede dan beberapa¬† club motor. Mereka adalah prioritas di jalanan. Beberapa kasus kecekalaan di jalanan terjadi karena ulah mereka yang berharap diprioritaskan, merasa sebagai raja jalanan.

Seperti di jalanan, di kompleks pun tak luput dari teror suara bising. Suara pengang itu keluar dari seperangkat speaker dari alat karaoke yang dipakai berjoget sampai lewat tengah malam. Karaoke mobile ini pun mulai masuk dalam riuhnya bisnis pesta pengantin.

Saat sepi pekerjaan, kadang pemiliknya tanpa aba-aba menyetel lagu seenaknya, dan sayangnya tak mampu mengendalikan suara bising itu mengganggu tidur tetangga, membangunkan si bayi.

Di blok sebelah, pemilik sarang walet tanpa sadar juga turut menyumbang kebisingan. Bahkan ada yang memutar suara-suara walet tanpa henti, siang-malam. Padahal, suara rekaman walet itu kerap dikeluhkan tetangganya.

Ada yang ingin protes, tapi ternyata beberapa rumah walet itu tak ditinggali pemiliknya. Kabarnya, mereka hanya datang sesekali mengecek atau hanya mengutus seseorang untuk mengontrol, apakah waletnya sudah bertelur dan bersarang.

Rumah walet memang sedang tren setahun ini, terutama karena peluang untungnya yang besar dan berkelanjutan. Dari segi bisnis investasi, mungkin walet ini sudah melewati bisnis emas.
Sayangnya, tak semua orang punya modal untuk itu. Sayangnya lagi, mereka yang terganggu dengan polusi suara itu, justru tak mendapatkan apa-apa selain pengang.

Walet bising itu dikeluhkan, sama seperti cerita seorang kawan yang tetangganya beternak ayam potong. Ada saat mereka makan siang, mengelus dada ketika ditemani rombongan lalat jumbo imigran dari kandang ayam tetangganya. Saat angin berhembus, bau tai ayam menusuk-nusuk hidungnya yang tak mancung.

“Hidup itu nikmat bro, itu tergantung dengan siapa kita bertetangga”, kata kawanku sambil menutup hidung dan telinganya

Penulis: Subarman Salim (Penggiat Literasi)

Komentar Anda