Mempertanyakan Posisi Tuhan dan Fisika dalam Kasus Reklamasi

Bestari

Bestari

Tim Redaksi Bestari.ID
Arif Menginspirasi
Bestari

Latest posts by Bestari (see all)

Ilustrasi (Foto: Int)

Bestari.id-Dari mana asal usul alam semesta? Kapan awal dan akhirnya? Adakah yang mengadakan atau hadir dengan sendirinya? Siapa yang mengadakan dan untuk apa? Bagaimana karakter alam itu? Mengapa seperti itu? Bagaimana cara manusia menyikapinya?. Perjalanan panjang telah dilaluii oleh para ilmuan dalam mencari jawaban yang tepat dari pertanyaan itu. Terkhusus oleh para ilmuan di bidang Fisika yang senantiasa berijtihad mempelajari alam semesta mulai dari alam yang kecil atau mikrokosmos sampai kepada alam yang besar atau makrokosmos.

Bagi kita yang mengambil jurusan IPA di sekolah menengah pastinya tidak asing dengan Hukum Gravitasi Newton, Hukum Kekelan Energi, Hukum Couloumb tentang listrik, Hukum Faraday tentang Magnet, dan masih banyak lagi hukum fisika yang lain. Dari beberapa hukum yang saya sebutkan, kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa ternyata pada alam semesta yang senantiasa berubah ada prinsip-prinsip yang bekerja dan berlaku secara umum dan tetap meskipun tanpa campur tangan manusia. Kekika hukum tersebut diterjemahkan dalam bahasa matematika maka kita akan menemukan angka-angka tetap yang sering disebut tetapan atau konstanta. Angka 137 misalnya, angka yang ditemukan oleh Arnold Sommerfeld ketika sedang menelaah struktur garis spektrum atom hidrogen. Angka yang tidak terikat satuan ini membuat Max Born dan Wolfgang Pauli semakin penasaran karena angka tersebut selalu muncul dalam setiap hasil eksperimennya, sehingga Born semakin yakin, 137 bukan kebetulan. “Nilai itu adalah hukum alam itu sendiri”.

Hukum dan tetapan itu senantia berkombinasi di alam semesta ibarat gerigi dalam mesin mobil yang saling terkait dan menggerakkan sehingga alam senantiasa seimbang. Adakah hukum dan tetapan ini bekerja sepanjang sejarah kosmis? Jawaban ilmuwan masa kini tidak berbeda dari dugaan waktu itu: “tidak berubah”. Sedikit saja konstanta kosmologi berubah maka sangat besar kemungkinan kita tidak akan ada disini. Siapakah yang mengatur hukum dan tetapan itu? Einstein mengatakan “segala sesuatu sudah ditentukan dari awal hingga akhir. Oleh siapa? Oleh kekuatan diluar kontrol manusia”. Jika para ahli teolog menyebutnya Tuhan, bedahal dengan para kosmolog yang menyebutnya Singularity.

Ketika Tuhan ditarik dalam pembahasan sains, maka akan sedikit menjadi persolan. Jika alam semesta dibatasi oleh kombinasi hukum dan tetapan yang peluangnya untuk berubah dan berbeda hampir-hampir mustahil, bebaskah Tuhan dalam mencipta? Dapatkah Tuhan menciptakan dunia berbeda atau bertindak di luar ketentuan yang sudah Ia tetapkan? Al-Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd berpegang pada keyakinan bahwa dunia dan hukum-hukumnya merupakan proses niscaya, tidak bisa lain. Ketiga ilmuan ini kemudian di kritik habis-habisan oleh Al Ghazali.

William Ockham seorang pemikir Skolastik beranggapan bahwa Tuhan tidak saja menciptakan alam semesta dan hukum-hukumnya, namun bisa saja menjungkirbalikkan hukum-hukum itu, dia bisa menyelenggarakan rahmat atau sebaliknya, Tuhan mampu mampu mengubah suatu hukum alam tanpa merusak hukum yang lain. Seperti pada saat Tuhan membuat Shadrach, Mishach dan Abednego yang dilempar ke api oleh Raja Nebukadnezar keluar segar bugar tanpa terluka. Ockham menjadikan Tuhan Maha Berkuasa dengan sangat Radikal. Di Eropa Barat, perdebatan antara Teolog dan Kosmolog yang berkepanjangan terpaksa membuat Uskup Paris pada tahun 1927 mengeluarkan Dekrit Uskup yang berisi 219 proposisi bid’ah.

Dalam kasus reklamasi yang saat ini sedang berlangsung di beberapa daerah seperti Bali, Makassar dan Jakarta, bagaimanakah kita akan memandang posisi Tuhan dan Fisika di sana? Kita tahu bahwa dalam proses reklamasi pengerukan dasar laut untuk membuat sebuah pulau mesti dilakukan. Hal tersebut akan memberikan dampak perubahan pada bentuk permukaan dasar, kedalaman, dan arah gelombang laut. Apabila gedung-gedung nantinya telah megah berdiri, maka arah angin dari atau ke laut akan terhalangi oleh gedung itu, tentu supply angin akan berdampak pada suhu, suhu akan mempengaruhi kelangsungan hidup beberapa tanaman bahkan hewan. Tentu masih banyak lagi variable lain yang berpengaruh terhadap hukum dan konstanta alam.

Akankah manusia mampu mengontrol segala hukum dan tetapan yang sengaja diubah dan dikondisikan sehingga tetap menjaga keseimbangan alam ataukah menunggu kehancuran? Ataukah Tuhan akan menyelenggarakan kehendakNya yang tidak berhenti mencipta dengan mengganti hukum-hukum alam yang diubah manusia karena Maha BaikNya ataukah justru akan murka seperti yang dikemukakan Ockham? Namun bagaimana manusia mampu mengerti restu atau murkaNya? Ataukah cukup kita menyimpan Tuhan dalam pintu-pintu rumah ibadah sehingga para ulama tidak ada yang berani mengeluarkan fatwa? Dan Fisika cukup saja berada dalam pintu-pintu Universitas sehingga tidak ada yang berani membuat pernyataan ilmiah? Mari kita renungkan kembali.(*)

Penulis: Sufyan Tsauri Wahid
Mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA UNM dan Sekretaris Lembaga Kajian dan Intermediasi Kab.Soppeng

Komentar Anda