Schibukai, Tiang Listrik, dan Generasi Patah Hati

Afdhal Kusumanegara

Afdhal Kusumanegara

Penulis
Indonesiaisme, Hallidayan, dan Teh pagi
Afdhal Kusumanegara

Latest posts by Afdhal Kusumanegara (see all)

Ilustrasi (Foto: Int)

Bestari.id-Guinnes World Record pernah mengaku pada komik ini; meraih predikat komik paling laris sepanjang masa. Jika dipirsa, jumlah episodenya telah mendekati angka 1000. Sejak era 90-an tayang dan menyebar ke seluruh dunia, termasuk negara-negara besar; Amerika Serikat, Cina, Korea Selatan, Kanada, Uni Emirat Arab, juga Indonesia.

Eiichiro Oda, nama yang bertanggungjawab atas kesuksesan itu. Meski digempur kehadiran komik-komik generasi baru, Oda tetap konsisten menceritakan dunia dan segala isinya;  kebahagiaan, politik, cinta, petualangan, juga kepedihan. Ceritanya kompleks berskala besar.

Usianya 17 tahun ketika dia mulai menggambar karakter Monkey D. Luffy cs. Usia ketika kita yang di Indonesia sibuk memikirkan rutinitas sekolah atau stres karena ditolak gebetan. One Piece, demikian mahakaryanya dikenal dunia.

Salah satu tema besar yang membangun cerita One Piece adalah jabatan Sichibukai. Sichibukai adalah orang-orang yang bekerja sama dengan Marine (angkatan laut) dan World Goverment (pemerintah dunia) untuk menangkap para bajak laut. Posisi Sichibukai ini ternyata diisi oleh mereka yang juga bajak laut! Secara statuta, mereka bajak laut, tapi bebas hukum. Tugas mereka adalah menangkap, atau membela sesama. Jeruk makan jeruk tepatnya.

Oda adalah pengarang yang luas bacaan. Dia paham, selain militer negara juga butuh preman. Untuk memelihara kekuasaan tentunya. Yang mendaftar sebagai Sichibukai akan aman tenteram. Pemerintah temannya, dengan begitu menjadi lembek kepada para penjahat.

***

Pada saat bersamaan di Indonesia, sejak era 90-an, listrik mulai sibuk masuk ke desa-desa. Sekorup-korupnya penguasa saat itu, tapi tetap peduli membangun negeri. Meski cuma sebagian, meski uang pembangunannya dari pinjaman, dan meski dikemudian hari disebut utang.

Agar listrik berhasil sampai ke desa-desa, dibutuhkan sebuah penopang pada untaian kabel yang disebut tiang listrik. Tiang listrik inilah yang menghindarkan kita dari kabel-kabel yang penuh listrik dan bahaya. Dia akan berdiri setia di pinggir jalan, sungai, bahkan jurang sekalipun.

Selama lebih dari 2 dekade, dia telah bertugas mengantarkan cahaya ke rumah-rumah, sekolah-sekolah, dan jalan-jalan. Dengan tiang listrik, peradaban dilanjutkan. Bahkan dengan adiknya, traffic light, belakangan dianggap indikator kemajuan suatu wilayah. Tapi tidak semuanya juga. Jangankan tempo dulu, sekarang pun masih ada desa yang tidak punya tiang listrik. Meski begitu, tiang listrik adalah pahlawan negeri ini.

Kabar terakhir, tiang listrik terlibat kecelakaan tunggal. Dia ditabrak oleh buronan kelas atas. Dengan alat kekuasaan yang dimiliki, pahlawan kita ini dianiaya. Meski cuma satu, tapi semua warga berduka. Berduka bukan karena tiang listriknya terluka. Tapi karena justru penjahatnya yang dirawat dan dibiarkan tidur sebebas-bebasnya. Bahkan di acara kondangan pun penjahat ini juga bisa tidur. Dan menuju rumah sakit menjadi pencitraan.

Tapi apa daya. Di negeri ini, yang berperan sebagai Sichibukai—atau yang menjadi temannya Sichibukai—terlalu banyak. Dan Marine, yang katanya punya senjata dan ahli sergap, enggan juga bergerak menangkap para penjahat. Hubungan Sichibukai, Marine, dan World Goverment dibangun atas dasar cinta segitiga. Kalau tidak, kendaraan politik bisa macet di tengah jalan. Ada semacam malu-malu yang menghalangi aktivitas menumpas ketidakadilan.

Gemas? Tentu saja. Menyadari bahwa itu salah. Putus asa, beberapa khalayak katanya ingin pindah negara saja. Ke Finlandia atau Belanda misalnya, yang sipirnya justru menganggur. Nyatanya tidak bisa. Bukankah itu kegiatan yang mematahkan hati?

Orang-orang patah hati itu memiliki dua pilihan; tetap rebah dalam kubangan kesedihan atau berdiri teguh menjadikannnya pelajaran. Hampir tidak ada reaksi ketika UKT melilit leher orang tua mahasiswa. Hampir tidak ada reaksi ketika seorang pemilik media nasional mengundang sepupu-sepupunya dari Taiwan mengeruk kekayaan Indonesia. Dan hampir tidak ada reaksi ketika seorang tersangka korupsi dengan data dari lembaga kredibel lalu bebas begitu saja. Paling banter kalau ada petisi yang masuk di pos-el, atau dibuatkan meme. Kata Paulo Freire, masih sadar naif, belum sadar kritis.

Bukan karena tidak tahu membaca, tapi karena membaca, kemudian memilih tidak peduli. Bukan karena lupa dengan janji, tapi karena berjanji, setelah itu mengingkari.

Dan kita, masih setia menunggu pembela kebenaran menguasai negeri ini. Sheila On 7 menyebutnya Generasi Patah Hati.

Perut buncitmu kurusnya bayi mereka
Rumah mewahmu keringat mereka
Kebodohan ini harus segera harus diakhiri
Sebelum kita benar-benar mati (*)

Komentar Anda