Libur Tiba, Mari Menikmati Rekreasi Cinta

Ardi Wina Saputra

Ardi Wina Saputra

Penulis
Penulis Kumpulan Cerpen Aloer-Aloer Merah
Ardi Wina Saputra

Latest posts by Ardi Wina Saputra (see all)

 

Ilustrasi (Foto: Int)

Bestari.id-Libur panjang sudah di depan mata. Bagi beberapa lembaga bahkan sudah meliburkan para pegawainya. Anak anak baru saja mengambil rapor dan menuntaskan semester ganjilnya. Saatnya bagi para keluarga untuk rekreasi. Ya! Rekreasi dari segala rutinitas dan kepenatan sehari-hari. Rekreasi yang mampu membebaskan lahir dan barin. Rekreasi yang dilakukan dan diidam-idamkan oleh hampir semua rumah tangga. Namun jangan salah rekreasi lho ya, jangan sampai rekreasi yang digadang gadang merekatkan hubungan asmara malah menjadi ajang pelampiasan hasrat yang bersimpang arah. Rekreasi cinta, rekreasi dari kepenatan segala dapur rumah tangga dan asap kepenatanya.

Kepenatan tersebut beragam wujudnya, mulai dari bersih-bersih rumah, membangunkan suami, menyiapkan bajunya, melayani, dan membuatkan kopi sepulang kerja merupakan kewajiban seorang istri. Pernyataan tersebut diucapkan oleh rekan saya yang baru saja menikah. Ia juga mengatakan bahwa sesaat setelah menikah, ia bersama dengan suaminya menyusun kesepakatan-kesepakatan yang harus ditaati. Itulah yang disebut sebagai komitmen. Ada aturan dan sanksi yang jelas. “Wanita adalah makhluk yang lemah, kami bisa apa pada lelaki? Oleh sebab itu satu satunya yang kami pegang adalah komitmen!” tegasnya.

Pendapat senada juga dikatakan oleh rekan saya yang lainya. Dalam berumah tangga, ia memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan isterinya dan membantu keluarga isterinya. Rekan saya tersebut juga mempercayai bahwa apabila isterinya melakukan dosa, maka suami menanggung dosa isterinya sebanyak dua kali. Itulah sebabnya suami tidak henti-hentinya menjaga dan memperingatkan isterinya agar tidak terjerumus ke dalam dosa. Setelah melakukan kewajibannya, suami berhak memperoleh hak dari isterinya. Demikian pula sebaliknya.

Dua contoh di atas membuktikan betapa ketatnya peraturan dalam rumah tangga. Mulai dari lingkup terbesar hingga terkecil. Negara membuat peraturan dengan Undang-undang perkawinan, belum lagi setiap agama juga punya peraturan sendiri dalam perkawinan, dua hal tersebut masih ditambah lagi dengan aturan baru yang dibuat oleh setiap keluarga.

Ada pepatah mengatakan, bahwa ketika sebuah hubungan percintaan terikat oleh suatu hal maka cinta dan rindu menjadi kewajiban. Dalam ikatan perkawinan, keluarga baru pada zaman sekarang dihadapkan dengan peraturan-peraturan ini. Itulah yang membuat setiap insan berada dalam tataran pemenuhan kewajiban. Ketika norma dan aturan menjadi tertulis, maka etika dan kesadaran berbuat baik menjadi kewajiban. Bukan lagi lumrah dan seharusnya.

Michael Foucault dalam ars erotica and scientia sexualitas mengatakan, bahwa sisa-sisa abad Victorian mempengaruhi wacana sexsualitas barat. Demonstrasi hubungan seksualitas barat selalu dibayang-bayangi dengan diskursus benar salah, halal haram, baik-tak baik, sehat-tak sehat. Inilah yang membuat pikiran orang semakin tersekat-sekat dalam kotak hak dan kewajiban. Bahkan dalam hubungan rumah tangga.

Oleh sebab itu tidak jarang ada istilah Suami Takut Istri. Bahkan salah satu televisi lokal Indonesia pernah menjadikannya sebagai sinema keluarga. Tanggapannya sungguh luar biasa, film tersebut diterima oleh segala kalangan. Sepeti ada kesamaan nasib antara cerita dalam sinema tersebut dengan realita sehari-hari. Ceritanya sederhana, ada para suami yang suka pada janda cantik dalam kompleks perumahan yang sama. Lalu mereka selalu saja dipergoki oleh isterinya. Para suami ini takut bukan main. Rasa takut muncul karena mereka merasa bersalah, akar dari rasa bersalah karena mereka melanggar aturan yang menjadi kewajiban mereka untuk ditaati. Kewajiban tersebut adalah setia pada isterinya. Lagi-lagi, kewajiban merupakan akar dari semuanya.

Ketika kewajiban menjadi pondasi utama dalam perkawinan, maka kekokohannya perlu dipertanyakan. Kenapa? Sama halnya dengan bekerja. Seseorang melakukan pekerjaan karena menjalankan kewajiban dan memperoleh haknya berupa gaji atau apresiasi. Itulah sebabnya dalam bekerja, tidak sedikit orang yang menyisihkan sebagian uangnya untuk melakukan refreshing atau penyegaran. Refreshing ini bertujuan untuk melepaskan diri dari kewajiban dan menyegarkan jiwa raga serta pikiran dalam bentuk bersenang-senang. Apabila rumah tangga terbentuk berdasarkan aturan aturan yang menumpuk atas dasar komitmen, maka jangan heran apabila kelak suami atau isteri membutuhkan refreshing.

Realisasi refreshing dalam pekerjaan biasanya bisa diwujudkan dalam bentuk rekreasi. Mengunjungi tempat-tempat yang baru dengaan suasana baru. Melepas penat dari segala bentuk rutinitas. Lalu, bagaimanakah bentuk refreshing perkawinan? Selingkuh!

Cepat lambat, suami atau isteri juga pasti akan jenuh melaksanakan kewajibannya. Setiap hari ia melayani dan bersinggungan dengan hal yang sama secara berulang berdasarkan kewajiban. Apabila suatu saat salah satu dari mereka melihat sosok lain yang lebih menarik daripada pasangannya, maka tidak jarang keinginan untuk selingkuh muncul.

Berdasarkan landasan berpikir tersebut, maka jangan heran apabila seseorang memperlakukan selingkuhannya lebih romantis daripada memperlakukan suami atau isterinya. Coba lihat para pria hidung belang yang berada di tempat lokalitas, karaoke nakal, atau pijat plus plus, mereka akan bersikap sangat baik bahkan terlalu mesra pada wanita panggilannya. Apakah hal yang sama dilakukan pada isterinya? Bisa saja kemesraanya sama, tapi apakah saat bersama istrinya ia melakukan kemesraan tersebut dari hati? Ini yang perlu dipertanyakan.

Ketika bertemu dengan selingkuhan bisa jadi ia rindu dan cinta melebihi rasa rindu pada pasangannya yang dilihat setiap hari. Itulah sebabnya dalam perselingkuhan, orang rela melakukan apa saja termasuk sembunyi-sembunyi. Seperti saat sedang pacaran, rela melakukan apa saja untuk mendapatakan cinta orang yang disayangi. Ada rasa dahaga akan cinta, akan rindu, akan kasih yang tidak didapatkan dari pasangannya. Jika dianalogikan dalam percakapan maka seperti ini:

Pada pasangan sah : aku melayanimu karena ini adalah kewajibanku
Pada selingkuhan : aku melayanimu karena aku merindukanmu

Itulah sebabnya maka Rene Descartes meyakini bahwa tidak perlu negara memiliki banyak undang-undang. Seharusnya undang-undang itu sedikit saja tapi dijalankan dengan baik, sisahnya sudah merupakan perbuatan baik yang lumrah. Sama halnya dengan perkawinan, aturan-aturan perkawinan tidak perlu terlalu banyak. Toh semua itu tidak menjamin seseorang untuk tidak selingkuh. Malah fakta logka berpikir telah menunjukkan sebaliknya. Itulah sebabnya maka seharusnya rumah tangga yang baik dibangun bukan atas dasar peraturan, melainkan atas dasar ketulusan dan cinta. Sudahkah rumah tangga anda dibangun dengan demikian? Atau justru di penghujung tahun 2017 ini anda sedang sibuk membuat aturan baru untuk suami anda? Atau jangan-jangan anda justru menyiapkan rencana untuk melakukan rekreasi cinta dengan pria atau wanita idaman lain? Selamat berekreasi! (*)

Komentar Anda