Masihkah Kita Menyucikan Al-Quds

Bestari

Bestari

Tim Redaksi Bestari.ID
Arif Menginspirasi
Bestari

Latest posts by Bestari (see all)

Ilustrasi (Foto: Int)

Bestari.id-Awal dari di bawahnya perhatian umat manusia ke Palestina dipengaruhi besar oleh pidato politik Presiden Tuki, Recep Tayyip Erdogan yang mengatakan,  bahwa tak perlu menjadi orang muslim untuk membela Palestina, cukup menjadi manusia. Sepenggal kata ini mengantar perhatian jagad terkhusus umat Muslim di dunia sebab begitu menyentu hati. Tak lama kemudian pemerintah Indonesia menanggapi hal tersebut dengan mengutuk keras pengakuan sepihak Presiden Amerika Donald Trump yang penuh kontroversial yang mengatakan bahwa Yerussalem (Al Quds) adalah ibu kota negara Israel dan juga melalui Menteri Luar Negeri Indonesia Ibu Retno Marsudi yang mengatakan bahwa dunia akan panas atas pernyataan kontroversial dari Presiden Amerika Serikat tersebut.

Bukankah kalimat “Dunia akan memanas” itu adalah eufimisme atau hanyalah penghalusan kata-kata saja dari perang dunia? Entahlah, semoga hanya penulis yang menanggapi terlalu tegang dari pernyataan ini sebab hal ini telah dinyatakan pula oleh Adi Eko Priyono bahwa kini Indonesia terjebak pada sesuatu penghalusan kata-kata sehingga segala menjadi suatu hal yang relatif bahkan sampai kepada tujuan Negara  Indonesia. Oleh karena itu, wajar beliau mengatakan bahwa Indonesia kini tengah demam relatifisme yang perlu disadari semua warga negara Indonesia (WNI) itu sendiri.

Pada tahun 1962, Bung Karno pernah menyatakan, bahwa selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan oleh bangsa-bangsa Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel. Sebuah kalimat yang mengingatkan kita pada sejarah, ternyata the founding father telah menyatakan hal ini. Bukankah ini menjadi tanggung jawab Perintah RI setelahnya atas kalimat itu? Kita masing-masing dapat menafsirkannya tetapi secara psikis tentunya kalimat ini menggetarkan sebab kita kenal beliau memiliki pemikiran yang sangat visioner dan berkat jasanya juga negara kita dapat merdeka. Bukankah salah satu cara mengagumkan kepahlawanan beliau dengan melaksanakan pesannya? Bisa jadi tidak, sebab setiap rezim memiliki perbedaan cara dalam menjalankan roda pemerintahan dan politik luar Negerinya yang di mana tetap menjadi satu konsep dan prinsip yang belum pernah berubah yakni bebas dan aktif yang  memiliki arti sederhana Indonesia bersifat netral dan akan tetap aktif dalam mewujudkan perdamaian dunia sebab itu adalah termasuk salah satu janji kemerdekaan yang jelas dalam Pembukaan NRI 1945 di alinea ke IV yakni melaksanakan perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Nah, jika yang sudah bicara tentang persoalan ini adalah Pemerintah RI melalui Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Ir. Soekarno yang kita mengenalnya sebagai bapak pendiri bangsa ini. Dapatkah kita tidak mempercayai akan hal ini? Ya, saya rasa ‘dapat’, sebab Indonesia adalah negara demokrasi yang setiap orang masih dapat beranggapan berbeda tentang pernyataan ini tetapi dalam hal hubungan luar negeri secara konstitusi adalah tugas dari pemerintah pusat maka jelaslah bahwa pemerintah RI lebih pantas gejolak yang terjadi akan hal ini sehingga bagi penulis hal ini adalah sesuatu yang wajar jika kita mempercayainya. Bukankah mempercayai imam adalah salah satu bentuk ketauhidan? Semoga saja ini bukan fokus dari pembahasan pembaca sebab masih akan menimbulkan pro dan kontra.

Kenapa manusia marah karena kejadian ini? Jawabannya simple, sebab tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Memang adil itu sifatnya relatif hingga para pengembang ilmu pengetahuan atau para filsuf bisa menafsirkan hingga membagi macam-macam keadilan. Sebut saja bapak politik yaitu Plato yang membagi keadilan menjadi keadilan moral dan keadilan serta filsuf terkemuka Aristoteles justru semakin membagi lebih banyak hingga lima jenis dari keadilan itu yakni keadilan komutatif, distributif, kodrat alam, konvensional, dan keadilan perbaikan. Namun, serelatif sampai di mananya hal ini masih bisa dianggap sesuatu hal yang manusiawi ataukah sebuah peristiwa politik biasa saja yang jika didiamkan akan berhenti? Penulis hanya bertanya agar dapat menjadi bahan renungan untuk semua umat manusia tekhusus ummat muslim di dunia ini sebab ini sudah termasuk tragedi kemanusiaan di Pelestina yang bisa jadi tergolong genosida atau kejahatan kemanusiaan yang luar biasa sehingga perlu ditanggapi dengan cara luar biasa pula. Oleh karena itu, sangatlah pantas untuk kita renungi bersama.
Kenapa Ummat Muslim marah?

Penulis memiliki hipotesa bahwa masih banyak umat muslim yang beranggapan, bahwa mengapa kita menanggapi hal yang ada di luar negeri sedangkan masih banyaknya hal yang harus diselesaikan didalam negeri layaknya aksi 212 kemarin yang banyak beranggapan bahwa para demonstran melakukan hal yang tidak amat penting sebab disaat yang sama, ada bencana alam di wilayah Indonesia yang menurutnya lebih pantas untuk disantuni daripada menghabiskan dana dalam rangka mengumpulkan massa yang berjumlah ribuan itu. Sesuatu hal yang menurut penulis tidak apple to apple untuk menyandingkan masalah ini dengan kasus kemanusiaan yang ada di Palestina sebab disana terdapat bangunan bersejarah untuk umat Islam yang kita tahu bahwa ribuan masjid yang ada di dunia ini, terdapat hanya dua yang disebut dalam Al Qur’an yakni Masjidil Aqsa dan Masjidil Haram, kiblat pertama di dalam Islampun ada di sana serta menjadi tempat yang bersejarah dalam turunnya petunjuk salat yang merupakan tiang agama ummat Islam. Oleh karena itu wajarlah jika ummat muslim dunia mengecam keras atas pengakuan sepihak bahwa Yerussalm (Al Qud’s) adalah ibukota Israel, hingga banyak yang menganggap memperjuangkannya adalah hal yang jihad. Mari merenungkan sebab ini adalah hal yang secara akal sehat tak dapat lagi dinyatakan sebagai sesuatu yang manusiawi yang di mana baru-baru ini telah ditutupnya Masjidil Aqsa oleh para tentara Israel hingga membuat banyak kalangan bahwa ini adalah sebuah penjajahan yang tidak dapat dibiarkan begitu saja.

Palestina memang menjadi negara yang dapat berkonstribusi dalam kemerdekaan Indonesia sebab secara de facto yang paling pertama mengakui kemerdekaan Indonesia adalah negara Mesir dan diikuti oleh negara timur tengah lainnya termasuk salah satunya adalah Palestina. Oleh karena, masuk akal juga apabila ada yang mengatakan bahwa Indonesia berutang budi terhadap negara Palestina. Namun, dalam kasus ini bukan saatnya mengaitkan hubungan Indonesia dengan Palestina sebab ini adalah masalah kemanusiaan yang di mana digemparkanya dunia atas pengakuan secara sepihak kota Yerussalem (Al Qud’s) sebagai ibu kota Israel, adanya unjuk rasa hingga bentrokan antara warga Palestina dan Militer Zionis Israel yang terjadi di sejumlah lokasi baik di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Oleh karena itu, kini saatnya kita membuka mata dan hati untuk peduli terhadap Palestina Sebab Al Qud’s adalah kota yang suci dan bersejarah untuk ummat muslim sekalipun raga tak sampai untuk membantu dan memperjuangkan mereka karena sebagai masyarakat sipil yang jauh dari Palestina hanya dapat mendoakan yang tulus agar dapat kuatkan mereka. (*)

Penulis: Mirwan Fikri Muhkam, S. Pd
Mahasiswa S2 UPI prodi Pendidikan Kewarganegaraan

Komentar Anda