PUISI: Sajak Penyair Bisu

Bestari

Bestari

Tim Redaksi Bestari.ID
Arif Menginspirasi
Bestari

Latest posts by Bestari (see all)

Ilustrasi (Foto: Int)

Bestari.id- Pagi telah menyala,
dan menyapa dunia.
Seorang pemuda tunawicara terbangun,
karena suara kucing garong
saling kejar kejaran.

Matahari semakin naik, meyusup
setubuhi atap bocor.
Matahari menggiringku
pada meja, di atasnya
banyak terdapat tumpukan sajak.

Terdengar di muka rumah
ibu ibu gosip menggosip.
Terdengar di samping rumah
anak muda yang diomeli
sebab baru muda,
ketahuan menghamili anak orang.

Baru terbangun,
dengan mata cekung.
Pemuda bisu yang malang !!
mulut terkunci
tak apa apa kan ?
Syukuri saja !!
husnuzan.
anggap kelebihan dari tuhan, supaya tak melebih lebihkan omongan.
Dari pada pandai bergosip !!
Pandai bercomel
perihal keindahan tetek tetek janda,
manis nafsu kegelapan,
kesunyian lorong selangkangan para perawan.
politik uang,
serta andil licik
menipu dengan teknik murahan,
agitasi dan propaganda basi.

Angin sejuk salami rerumputan,
dengan tariannya berkilau hijau.
Pemuda bisu tersebut
mengambil penanya,
dibentangkannya kertas
yang semalaman tergulung rapi.

Walau ia bisu !!
bukan pena menyapa kertas,
tapi tangannya
berbicara pada pena,
hingga kepada kertas.
Ternyata tak kusangka.
Walau mulutmu bisu,
kau pandai juga tulis syair.
dalam syairnya tertulis

“O..!! aku adalah lelaki bisu
yang memendam rasa
dan cita cita.
ya, cita citaku
berharap bisa berbicara,
seperti manusia lainnya.
Aku juga ingin pandai bercerita tentang permata tetek wanita.
Kemudian,
dengan kepandaianku berbicara politik.
Aku akan menjadi
elit politik kelas kakap.
Bargening,
berbohong,
hingga korupsi.
Siapa menang dalam perundingan.
Mulutmu dan mulutku,
sama,
kita sama sama punya mulut
persoalannya,
siapa dulu yang jago ?
siapa pandai menipu ?
siapa menang ia dapat !!
jika aku yang dapat,
akulah ahli penipu.
jika kamu yang dapat,
tetap tak bisa,
Aku punya uang dalam saku.”

Api menyala jelas di kompor dapur.
Kopi pagi telah siap,
kucing garong kembali lewat,
karena mendengar gesekan gelas.
Dikiranya majikan mau makan ikan,
padahal
majikan lagi bikin kopi.
pemuda tunawicara
sudah tentu tak bisa bicara.
Ehh, malah perkataan tangannya yang kotor.

Harumm…
wangi kopi, satu seduhan fantastis.

Pemuda bisu
lanjutkan tulisan syairnya

“Jika aku pandai bicara
aku akan jadi wakil rakyat.
Akan kubeli rumah gede,
Akan kuhisap rakyat sampai habis.
happy..happy !!
Menjajaki hotel berbintang lima yang isinya wanita wanita jalang.
Meneguk anggur.
Lenggak lenggok cara berjalan.
Aku pun
ingin pandai membalas desahan desahan nada merdu
ransangan wanita bayaran.
kan sayang,!! jika suaraa semacam itu di lewatkan.
endak seruh dan kurang erotis.

Bebas berlebihan.
Kalau ada macam macam,
tinggal teriak ajah sama tangan kanan.
eksekusi lalu cuci tangan.
kadang cuci tangan dulu
dengan duit baru eksekusi,
yang ada
Akhirnya lupa cuci tangan !!
Kecium deh tangannya.”

Sudahlah.!!
Syukuri semuanya.
Engkau pemuda bisu,
Mengembara tunggangi pikiran kotor.

Kau saja pemuda bisu,
liar cukup licik dalam kertas.
apa lagi kalau tak bisu.

Mereka pejabat busuk
yang tak bisu.
Suatu saat
mereka akan dibisui
sampai mereka menjadi bisu.

ya, bukan pena menyapa kertas..
tetapi tangan itulah yang meyeret.
Bukan para petani, Buruh, mahasiswa yang membuat onar.
Tetapi pejabat, konglomerat,
dan para pemilik modal lah
akar derita permasalahan.
Sampai akhirnya,
pasal hanyala tumpukan,
Merekalah
yang mengotori
kertas Kertas bangsa kita.

12 Desember 2017

Penulis: Syarif Teguh (Mahasiswa)

Komentar Anda